SEHAT: Seorang anggota Kodim 0707/Wonosobo sedang diambil darahnya ketika menjalani tes HIV/AIDS pada Desember 2016 lalu. (DOK SUMALI/RADAR KEDU)
SEHAT: Seorang anggota Kodim 0707/Wonosobo sedang diambil darahnya ketika menjalani tes HIV/AIDS pada Desember 2016 lalu. (DOK SUMALI/RADAR KEDU)

WONOSOBO – Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo terus berupaya mencegah penularan HIV/AIDS. Salah satunya dengan menggelar voluntary counselling and testing (VCT).

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Wonosobo Jaelan menjelaskan, jika dulu VCT hanya diharuskan pada ibu hamil, saat ini tenaga kerja Indonesia (TKI) purna dan pasangannya juga diharapkan ikut VCT.

“Selain itu, penderita TB (tuberkolusis),  (penderita) IMS (infeksi menular seksual), juga warga binaan LP (lapas) sudah tes VCT,” katanya, Senin (29/5).

Menurutnya, HIV/AIDS bisa menular bila memenuhi beberapa unsur. Meliputi, cairan/darah mengandung virus HIV, virusnya harus hidup, jumlahnya cukup, dan ada pintu masuk atau kontak. Jika salah satu 4 itu tidak terpenuhi, tidak akan terjadi penularan.

“Makanya jika pengidap HIV/AIDS rutin mengkonsumsi ARV, virus yang ada di tubuh akan sulit menularkan ke yang lain,” katanya.

Bahkan jika pengidap telah mengkonsumsi rutin selama 6 bulan, ia bisa berhubungan suami istri tanpa pengaman, dengan risiko penularan sangat kecil. Kendati demikian, Jaelan menyarankan agar tetap memakai pengaman.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Wonosobo Junaedi menegaskan, VCT tidak boleh dilakukan dengan paksaan. Harus berdasarkan niat sukarela dari masyarakat yang ingin diperiksa. “Yang periksa harus atas dasar kerelaan,” tuturnya.

Seperti diketahui, penularan HIV/AIDS di Kabupaten Wonosobo diduga lebih banyak disumbang oleh masyarakat yang merantau di luar daerah/negeri. Test VCT yang digelar di terminal, atau pos pos kedatangan, memungkinkan seseorang yang terinsfeksi mengetahui lebih dini, sehingga tidak telanjur menularkan ke orang lain.

Namun saran tersebut, dikatakan Junaedi, tidak mungkin dilaksanakan. “Kita boleh menarget (menggelar VCT) di populasi-polulasi kunci. Kalau masyarakat umum yang pulang kampung misalnya, tidak dibolehkan,” katanya. (cr2/ton)