TUNTUT PERBAIKAN: Sejumlah mahasiswa UIN Walisongo Semarang berorasi dalam aksi memperingati Hari Tambang, kemarin. (DIAZ AZMINATUL ABIDIN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TUNTUT PERBAIKAN: Sejumlah mahasiswa UIN Walisongo Semarang berorasi dalam aksi memperingati Hari Tambang, kemarin. (DIAZ AZMINATUL ABIDIN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Puluhan mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang menuntut pemerintah mencari alternatif lain yang lebih ramah lingkungan dalam mengelola tambang.

Seruan ini dilakukan dalam aksi memperingati Hari Tambang di Kampus 2 UIN, Senin (29/5). Tujuannya jelas, agar tidak merusak alam dalam meningkatkan perekonomian pembangunan dari sektor pertambangan, khususnya di Jawa Tengah.

”Kita tahu saat ini penambangan di Jateng sudah memprihatinkan seperti halnya di pegunungan Kendeng yang berjejer di Kabupaten Pati, Rembang hingga Jawa Timur itu. Lalu ada juga, pembangunan PLTU Jepara dan di lereng Gunung Slamet,” ujar Koordinator Aksi, Samsudin Nur Majid.

Ia menuturkan, kerusakan alam akibat penambangan di Jawa Tengah mencapai 60 persen. Salah satunya di Kabupaten Rembang. Di luar itu menurut Samsudin, petani kerap kali menjadi korban alih kepemilikan lahan untuk tambang oleh pemangku kepentingan.

”Artinya sebagai upaya memaknai Hari Tambang, aksi kami bertujuan untuk mengedukasi mahasiswa bahwa penambangan yang tidak memperhatikan aspek budaya, dan lingkungan sekitar pasti merusak tatanan sosial,” katanya.

Karenanya, pada momentum Hari Tambang kali ini dirinya bersama elemen mahasiswa lain menuntut pemerintah untuk tegas dalam menangani kasus penambangan yang merusak lingkungan.

Menurutnya negara mesti menjamin ruang hidup masyarakat, khususnya petani untuk tetap dapat mengolah lahan mereka untuk menuju swasembada pangan. ”Pemerintah juga harus tegas menindak korporasi yang terbukti melanggar izin penambangan,” pungkasnya. (mg30/ric/ce1)