Oleh: Musahadi *)
Oleh: Musahadi *)

BAGI saya pribadi, Puasa tahun ini bermakna sangat penting dalam merekatkan kembali bingkai persaudaraan sebangsa yang sempat retak. Saya, dan mungkin banyak orang yang berharap hadirnya Ramadhan kali ini bisa menjadi semacam oase, atau sebuah jeda yang signifikan bagi kecenderungan mengumbar nafsu amarah, ekspresi kebencian, penebaran fitnah serta nafsu meninggikan diri atau kelompok sembari merendahkan pihak lain yang banyak dipertontonkan melalui berbagai postingan di media sosial.

Ya, beberapa bulan terakhir intensitas nafsu yang menciderai kemuliaan kita sebagai makhluk beragama tersebut luar biasa meningkat seiring dengan meningkatnya suhu politik sebagai imbas dari pertarungan kuasa di Jakarta. Dalam situasi seperti itu, betapa sulitnya kita memegangi prinsip persaudaraan sesama bangsa, bahkan persaudaraan sesama muslim. Betapa terjalnya jalan menuju tersemainya harmoni, perdamaian dan toleransi dalam bingkai keperbedaan kita sebagai bangsa dan sebagai umat beragama.

Beda pilihan politik atau bahkan hanya beda simpatisan politik (karena kita bukan pemilih), ternyata sering diekspresikan dalam sikap saling serang, saling fitnah dan saling merendahkan. Hebatnya lagi, ekspresi seperti itu difasilitasi secara luar biasa mudah oleh teknologi IT  melalui gawai yang kita pegang dan kita pergunakan secara mudah kapanpun dan dimanapun kita mau, sembari menempatkan agama sebagai daya dukungnya.

Secara jujur harus kita akui, beberapa bulan terakhir ini telah terjadi eskalasi luar biasa atas sikap permusuhan, rasa benci dan saling serang sehingga prinsip-prinsip dasar yang telah diajarkan oleh hampir semua agama mengenai pentingnya rasa saling memahami (mutual understanding) saling menghormati (mutual respect), dan saling percaya (mutual trust) terasa hanya slogan kosong. Sikap toleran yang selama ini menjadi salah satu soko guru bagi kokohnya bangunan masyarakat majemuk seperti Indonesia ini tampaknya sedang raib entah kemana.

Dari karakteristik dan ide substantifnya, puasa memiliki potensi besar bagi tumbuhnya berbagai sikap positip dan menurunnya berbagai akhlak tercela (mazmumah). Puasa merupakan madrasah ruhaniyah, sekolahan besar yang diharapkan fungsional dalam membentuk jiwa dan kepribadian seorang muslim. Melalui laku spiritual puasa, seorang muslim dilatih menapaki tangga-tangga spiritualitas yang tinggi. Terminal akhirnya agar menemukan kembali jati diri kemanusiaannya sebagai insan muttaqien. The big school yang bernama puasa itu intinya adalah latihan pengendalian diri (self control), mengendalikan hawa nafsu untuk mencapai derajat kemanusiaan tertinggi agar lebih memiliki kapasitas untuk meneladani  Rasulullah SAW,  sang manusia paripurna. Ini penting, karena dalam beragama, sering kali kita merasa sedang melayani Tuhan dan meneladani Rasulullah SAW, tetapi sejatinya kita sedang melayani hawa nafsu kita dan meneladani sang angkara.

Simaklah kembali postingan-postingan provokatif atas nama agama yang di-share  secara gegap gempita dan massif di medsos dalam beberapa bulan terakhir.  Dalam keadaan damai dengan hati bening di kesunyian tahajud kita di malam Ramadhan ini, cobalah baca kembali postingan-postingan itu. Lalu rasakan kembali dengan hati jernih dan jujur, apakah benar melalui postingan-postingan tersebut kita sedang melayani Tuhan dan meneladani Rasulullah SAW, ataukah kita sedang memanjakan nafsu dan ego kita untuk sesuatu yang bernama “kepentingan”?

Salah satu yang menawan dari pribadi Rasulullah SAW adalah bagaimana insan termulia ini menyikapi dan mengelola kemajemukan sebagai sunnatullah. Betapa banyak Al-Qur’an memberikan penegasan tentang realitas kemajemukan  sebagai disain original yang memang disengaja oleh Allah SWT, Sang Maha Pencipta. Dalam QS. Al-Hujurat: 13 misalnya, Allah SWT menyatakan bahwa manusia diciptakan oleh Nya dari jenis laki-laki dan perempuan dan berkembang dalam kelompok-kelompok bangsa dan suku-suku yang beragam agar mereka saling ber-ta’aruf, saling memahami. Dalam ayat lain (Al-Ma’idah 48) Allah bahkan menyatakan “Kalau Allah Menghendaki, niscaya kamu dijadikan- Nya satu umat (saja),tetapi Allah hendak Menguji kamu terhadap karunia yang telah Diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.”

Merujuk pada firman-firman tersebut, tampaknya upaya untuk melakukan penyeragaman agar semua orang bisa sealiran, sepemikiran, sekeyakinan dan sevisi dan kepentingan dengan kita adalah tindakan sia-sia karena melawan kodrat. Memang ada ruang kontestasi menuju yang terbaik (fastabiq al-khairat) yang disediakan Tuhan, tetapi ruang itu  harus dipergunakan secara bijaksana tanpa harus merendahkan pihak lain. Usaha mengajak pihak lain yang berbeda untuk mengikuti jalan hidup kita adalah bagian dari ruang kontestasi itu. Tetapi ia harus dilakukan dengan cara-cara yang baik (ma’ruf ), dengan kebijaksanaan (hikmah) dan nasihat yang baik (mauidhah hasanah). Jikapun harus menggunakan instrument debat (jidal), maka harus dilakukan dengan cara-cara yang paling baik (QS. An-Nahl: 125).

Rasulullah SAW adalah pribadi yang paling paripurna dalam menjalankan prinsip-prinsip Al-Qur’an tentang kemajemukan ini karena statusnya sebagai penafsir (al-mufassir al-awwal ) yang secara tegas disebutkan dalam Hadis bahwa akhlak beliau adalah Al-Qur’an (kana khuluquhu al-Qur’an). Kitab-kitab sirah Nabawiy merekam secara baik bagaimana sosok pribadi Rasulullah yang sangat lembut, santun, toleran dan menghormati manusia melampaui batas-batas suku, ras, keyakinan dan agama.

Dalam riwayat Ibnu Ishaq dan Baihaqy disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah menyambut 60 delegasi kaum Nasrani dari Suku Najran di Madinah. Sebagian mereka menginap di Masjid Nabawi dan sebagian lainnya menginap di rumah-rumah para sahabat. Mereka bahkan sempat melaksanakan kebaktian di Masjid Nabawi atas budi baik Rasulullah. Ibnul Qayyim al-Jauziy bahkan memastikan bahwa peristiwa ini terjadi setelah turunnya firman Allah: “Sesungguhnya orang-orang muyrik itu najis” (QS. At-Taubah: 28). Riwayat ini menjadi inspirasi yang sangat indah untuk mengembangkan fiqh hubungan antar umat beragama.

Terlebih jika kita simak Piagam Madinah (Mitsaq Madinah) yang secara substantif meletakkan dasar-dasar bagi hubungan produktif dan mutualistic antara umat Islam, Kaum Yahudi dan Kaum Nasrani  serta antar berbagai suku (qabilah) yang ada di Madinah dalam tekad secara bersama-sama saling menjaga dan melindungi dari gangguan musuh dari luar. Mereka hidup rukun dalam bingkai konstitusi yang disepakati dengan prinsip saling memahami, mengakui dan menghargai.

Puasa diharapkan bisa mengasah kembali karakteristik dasar kita sebagai manusia, sebagai seorang muslim dan sebagai umat Rasulullah SAW yang harus meneladani sifat-sifat beliau sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur’an. Dalam QS. Ali Imran: 159 beliau dilukiskan sebagai pribadi yang santun, lemah lembut, dan pemaaf serta terbuka untuk mengambil jalan musyawarah dalam menyelesaikan permasalahan. Bukan pribadi yang bengis, keras kepala dan mudah mengumbar amarah. (*/smu)