ANTISIPASI UPAL: Petugas Polsekta Semarang Selatan saat sosialisasi uang palsu kepada pedagang oprokan di Pasar Mrican, kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
ANTISIPASI UPAL: Petugas Polsekta Semarang Selatan saat sosialisasi uang palsu kepada pedagang oprokan di Pasar Mrican, kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Jumlah uang palsu yang ditemukan dan dilaporkan ke Kantor Perwakilan Bank Indonesia se-Provinsi Jawa Tengah pada triwulan I tahun ini sebanyak 5.626 lembar. Jumlah tersebut menurun sebesar 25 persen bila dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang mencapai 7.723 lembar.

Kepala Bank Indonesia Kantor Perwakilan Jawa Tengah, Hamid Ponco Wibowo mengatakan, pecahan uang palsu yang paling banyak ditemukan pada triwulan I tahun ini yaitu pecahan Rp 100.000,00 sebesar 59 persen atau 3.338 lembar dan pecahan Rp 50.000,00 sebesar 38 persen atau 2.140 lembar dari seluruh jumlah uang palsu yang ditemukan. “Secara umum, jumlah uang palsu yang ditemukan sangat kecil prosentasenya dibandingkan total jumlah uang yang beredar,” paparnya, kemarin.

Namun demikian, pihaknya tetap berupaya untuk meminimalisir peredaran uang palsu di wilayahnya. Diantaranya dengan giat melakukan sosialisasi ciri-ciri keaslian uang rupiah dan cara memperlakukan uang rupiah dengan baik. “Sosialisasi kami lakukan langsung ke masyarakat di daerah tertentu seperti pasar, perbankan, terminal, stasiun, dan pusat keramaian lainnya. Selain itu kami juga lakukan sosialisasi ke kalangan akademisi, berbagai komunitas maupun langsung kepada para aparat penegak hukum,” ujarnya.

Selain itu, lanjutnya, jelang lebaran tahun ini pihaknya juga melakukan penyesuaian terhadap teknis penukaran uang. Tahun sebelumnya, BI melayani penukaran secara langsung melalui loket di Kantor Bank Indonesia, tahun ini pihaknya menggandeng sejumlah bank untuk ikut melayani penukaran uang baru.

Pelayanan penukaran uang juga akan menggunakan armada kas keliling di sejumlah titik keramaian. Diharapkan, semakin banyaknya tempat penukaran uang baru dapat meminimalkan aktivitas masyarakat melakukan penukaran uang di tempat jasa penukaran uang. “Kami tidak bisa melarang penukaran uang di pinggir jalan. Tapi semakin banyak tempat penukaran uang resmi, diharapkan masyarakat dapat memanfaatkannya dengan baik,” jelasnya. (dna/smu)