DIBIARKAN: Puluhan PKL memenuhi badan Jalan KH Agus Salim kawasan Johar yang menyebabkan arus lalu lintas tersendat. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DIBIARKAN: Puluhan PKL memenuhi badan Jalan KH Agus Salim kawasan Johar yang menyebabkan arus lalu lintas tersendat. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Pedagang Kaki Lima (PKL) masih saja menjadi biang kemacetan. Para pedagang dengan seenaknya menempati badan jalan. Ini seperti tampak di Jalan KH Agus Salim, kawasan Pasar Johar.  Keberadaan PKL yang tumpah ruah di jalan itu sebenarnya sudah berlangsung cukup lama. Meski kerap menjadi biang kemacetan, tapi keberadaan PKL ini terkesan dibiarkan tanpa penanganan.

Ya, memang setiap hari seperti ini. Hampir separo badan jalan digunakan PKL. Yang penting tetap bisa jalan,” kata tukang becak, Maman, 50, kepada Jawa Pos Radar Semarang, kemarin.

Dikatakan, para PKL setiap hari menempati badan jalan di kawasan jalan tersebut mulai pukul 12.00 hingga 19.00. ”Mereka merupakan kelompok PKL, bukan eks pedagang Pasar Johar. Kalau eks pedagang Johar sebagian di dekat Matahari dan di dalam Matahari. Mereka sebagian adalah pindahan dari relokasi MAJT, karena di sana sepi,” ujarnya.

Selain puluhan PKL yang berada di badan jalan, penyebab kemacetan juga lantaran badan jalan digunakan sebagai lahan parkir pengunjung PKL Jalan Empu Tantular atau sepanjang Kali Semarang. ”Pedagang di Jalam Empu Tantular ini sekarang sangat ramai, sehingga banyak orang parkir di tepi jalan,” katanya.

Para pedagang Pasar Johar pasca terbakar yang direlokasi di kawasan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) kian mengenaskan, karena saat ini dalam kondisi terpecah belah. Mereka berpencar di sejumlah tempat, hingga menyebabkan tempat relokasi MAJT sepi.

”Kalau yang di tempat relokasi, terutama pedagang kecil memilih pergi dan berjualan di tempat lain. Sedangkan yang masih di tempat relokasi MAJT rata-rata pedagang besar atau grosir,” ujarnya.

Persatuan Pedagang dan Jasa Pasar (PPJP) Kota Semarang menilai bahwa Pemkot Semarang tidak tanggap atas kondisi parah yang menimpa para pedagang eks Pasar Johar ini. ”Bahkan jumlah pedagang yang bertahan di tempat relokasi diperkirakan hanya 40 persen. Selebihnya ada yang gulung tikar dan pergi meninggalkan kios untuk mencari tempat berdagang yang lebih ramai,” kata Sekretaris PPJP Kota Semarang, Surachman, kemarin.

Karena itu, PPJP Kota Semarang mendesak agar Pemkot Semarang dengan tegas bisa menyatukan pedagang di sekitar Pasar Johar bisa kembali berkumpul menjadi satu di lahan relokasi MAJT.

”Seharusnya, semua pedagang yang ada di sekitar Kanjengan, Jalan Pedamaran, dan Yaik Baru, semua direlokasi di lahan MAJT. Jika itu bisa dilakukan, maka relokasi MAJT akan ramai karena terpusat menjadi satu. Johar itu satu. Maka tidak akan muncul keluhan para pedagang yang berada di relokasi maupun kecemburuan pedagang,” ujarnya.

Selama ini, lanjut dia, kondisi pedagang di tempat relokasi MAJT kian mengenaskan. Sebab, banyak pedagang pergi dan berjualan di sepanjang Jalan KH Agus Salim maupun di sekitar Johar lama. Namun demikian tidak ada upaya pemerintah untuk melakukan penanganan.

”Sekitar Pasar Johar bekas kebakaran harusnya disterilkan dari pedagang. Hal itu juga untuk memperlancar proses pembangunan. Saat ini, di sekitar puing-puing pasar terbakar masih ditempati pedagang,” kata Surachman.

Menurutnya, hal itu terjadi karena tidak adanya ketegasan Pemkot Semarang dalam hal ini Dinas Perdagangan Kota Semarang untuk menyatukan para pedagang Pasar Johar korban kebakaran.

”Kami hanya ingin Pemkot Semarang tegas sesuai janjinya untuk merelokasi semua pedagang Pasar Johar terpusat di satu tempat. Selain itu, trayek angkutan umum diarahkan ke tempat relokasi pedagang Pasar Johar di lahan relokasi MAJT Jalan Soekarno-Hatta, sehingga akses untuk pembeli mudah dijangkau,” katanya.

Dikatakan Surachman, dulu Pemkot Semarang pernah berjanji akan menyediakan trayek angkutan umum untuk diarahkan ke tempat relokasi pedagang Johar di lahan MAJT Jalan Arteri Soekarno-Hatta. Sehingga pengunjung tidak terpecah belah.

”Sementara ini akses transportasi angkutan umum ke tempat relokasi sangat tidak mendukung. Ini juga menjadi salah satu penyebab relokasi ini sepi,” ujarnya.

Ketua Komisi B DPRD Kota Semarang, Agus Riyanto Slamet, mengakui, selama ini pengelolaan relokasi pedagang Pasar Johar di kawasan MAJT ini kurang maksimal. Bahkan banyak pedagang yang kembali berjualan di sekitar Pasar Johar lama.

Ia mendorong Pemkot Semarang segera menindaklanjuti permasalahan relokasi Pasar Johar di MAJT ini. Termasuk menertibkan para pedagang yang kembali berjualan di sekitar Pasar Johar lama yang terbakar.

”Bagaimanapun kalau tidak ditertibkan kan nanti juga mengganggu proses pembangunan Pasar Johar Cagar Budaya. Sehingga setelah Lebaran, pedagang Yaik Baru dan sekitarnya seharusnya juga dipindah di lahan MAJT,” desaknya.

Pihaknya berharap, lapak-lapak di lahan baru segera dibangun untuk menampung para pedagang Yaik Baru dan sekitarnya. Sebab, pembangunan Pasar Johar akan mengembalikan seperti aslinya, termasuk pembangunan alun-alun. ”Sehingga untuk kelancaran pembangunan, maka di sekitar Pasar Johar lama harus steril dari pedagang,” katanya.

Dia yakin pembangunan Pasar Johar bisa selesai 2020. Sebab, 2017 ini pembangunan sudah dimulai. Untuk kelancaran pembangunan, penertiban pedagang ini harus segera dilakukan. ”Di sekitar lokasi Pasar Johar harus tidak ada pedagang,” ujarnya. (amu/aro/ce1)