Oleh : Imam Taufiq *)
Oleh : Imam Taufiq *)

HARI-hari ini, kita dikagetkan oleh kejadian yang menyesakkan hati. Kekerasan terhadap perempuan, kriminalitas, pembunuhan, teror dan terakhir misalnya, bom meledak di Kampung Melayu. Banyak orang tidak berdosa menjadi korban, banyak orang susah dan sedih akibat ditinggal mati anggota keluarga yang dicinta.

Hidup seakan tidak menentu, kemanan dan kenyamanan mulai hilang dari masyarakat. Keamanan, sesuatu yang amat berharga dan prinsipil dalam hidup manusia, terancam lenyap. Padahal, setiap orang menginginkan kondisi dan suasana aman.

Rasa aman adalah salah satu kebutuhan dasar manusia, yang sebanding dengan sehat, bahkan lebih tinggi dari nilai kesehatan. Seorang yang sakit mungkin masih bisa tidur, namun orang yang takut, belum tentu dapat tidur, mungkin hanya sekedar hilang kantuknya saja. Bagi yang sakit bisa merasa aman dan tidak merasakan penyakitnya, akan tetapi bagi yang tidak merasa aman, walaupun sehat, ia akan merasa terganggu.

Aman berasal dari bahasa Arab yang memiliki akar kata dan pengertian sama dengan iman dan amanah. Tidak terlalu sulit menemukan ketiga kata tersebut dalam Alquran. Alquran menjelaskan panjang lebar di berbagai ayat relasi antara iman dan aman.

Hubungan antara keduanya adalah konsekuensi logis. Orang yang memiliki iman benar dan kuat, dipastikan mendapatkan rasa aman yang memadai. Seorang yang lemah dan kurang kuat imannya, akan goyang rasa aman dalam dirinya.

Artinya, jika seseorang beriman, ia akan memiliki rasa aman dan rasa nyaman, meskipun terkadang tidak berjalan linier dalam realitas. Banyak orang yang menunjukkan penampilan iman, menjadi orang yang beriman, namun dalam aktivitasnya mengalami ketakutan dan kekhawatiran.

Orang yang beriman kepada Allah SWT adalah orang yang kuat. Kuat batin dan kuat jiwanya, sehingga tidak akan takut menghadapi hidup dengan segala tantangan dan masalahnya. Kekuatan orang yang beriman karena adanya harapan kepada Allah SWT, karena itu dia tidak akan putus asa.

Kekuatan ini berpangkal kepada keyakinan bahwa Allah Sang Penyantun (al-rauf), Sang Penyayang (al-rahman), Sang Pelindung (al-Muhaimin) dan Sang Pemberi Rasa Aman (al-mu’in) kepada para hamba-Nya.

Maka rasa aman, sesungguhnya diperoleh dari keyakinan dan kesadaran orang yang beriman bahwa dia benar-benar bersandar (tawakkal) kepada Yang Maha Kuasa. Karena itu, banyak penjelasan dalam Alquran yang mejelaskan bahwa beriman dan berbuat baik tidak akan merasa takut dan tidak pula akan merasa kuatir (QS Al-An’am: 48).

Ditambahkan dalam ayat lain bahwa Mereka berkata,Tuhan kami adalah Allah, kemudian bersikap teguh, maka para malaikat akan turun kepada mereka, dan berkata, ‘jangan kamu takut, dan jangan pula kamu kuatir, serta bergembiralah dengan surga yang dijanjikan kepadamu. Kami (para malaikat) adalah teman-temanmu dalam hidup di dunia dan di akherat…(QS. Fushshilat: 30).

Jika seseorang beriman secara benar, pasti menggapai rasa aman, tanpa pernah kuatir dan takut dalam menjalani hidup yang serba susah ini. Sikap ini akan berimplikasi luas, seperti kita akan menjadi manusia penuh percaya diri (self convidence).

Menurut teori psikologi, percaya diri adalah pangkal kesehatan jiwa yang akan membuat penampilan simpatik, komunikatif, toleran, dan damai, tidak gampang tersinggung dan berprasangka buruk terhadap orang lain.

Orang yang memiliki rasa percaya diri akan dapat menghayati pesan ilahi “Hai orang yang beriman, jagalah dirimu sendiri. Orang yang sesat tidak akan berpengaruh kepadamu jika kamu memang mendapata petunjuk” (QS. Al-Ma’idah: 10).

Sebaliknya, siapa yang tidak memiliki rasa aman, maka tidak mungkin dapat memberi atau mendesiminasikan rasa itu kepada orang lain. Memberi rasa aman kepada orang lain adalah bagian penting dari ajaran Islam.

Tuhan menegaskan dirinya sebagai Sang Pemberi rasa aman yang sekaligus menuntut agar rasa aman itu disebarkan kepada orang lain, masyarakat dan lingkungannya. Karena itu, Nabi Muhammad SAW bersabda “yang disebut orang Islam adalah orang yang mampu menebarkan keselamatan dan rasa aman kepada orang lain” (al-muslimu man salima al-muslimun min lisanihi wa yadihi).

Maka, orang muslim yang unggul, yang saat ini menjalankan ibadah puasa, semestinya menebar kedamaian, kenyamanan, dan membuat aman orang lain, tanpa mengganggu, tanpa menebar teror dan tanpa menyakiti sesama manusia. (*/ida)