Jejak Tokoh Penyebar Islam Tercoreng Lokalisasi

Meluruskan Citra Sejarah Sunan Kuning

1472

Siapa yang tak mengenal Sunan Kuning di Kota Semarang? Pasti orang langsung mengenalnya sebagai kompleks lokalisasi di Kelurahan Kalibanteng Kulon, Semarang Barat. Padahal sesungguhnya Sunan Kuning adalah tokoh penyebar agama Islam asal Tiongkok.

KOMPLEKS Lokalisasi Sunan Kuning telah berdiri sejak 1966 silam. Nama sebenarnya adalah Lokalisasi Argorejo. Namun entah kenapa, pusat hiburan syahwat ini justru lebih dikenal dengan sebutan Lokalisasi Sunan Kuning?

Padahal sebenarnya Sunan Kuning adalah nama seorang tokoh penyebar agama Islam. Sunan Kuning memiliki nama asli Soen Ang Ing, seorang penyebar agama Islam dari daratan Tiongkok yang berpindah-pindah tempat di Indonesia. Lidah Jawa menyebut Soen Ang King menjadi Sunan Kuning.   Ia juga memiliki nama Jawa, yakni Raden Mas Garendi.

Baca Juga : Pembangunan Kerap Abaikan Fakta Sejarah

Makamnya terletak di atas Bukit Pekayangan Jalan Sri Kuncoro I  RT 6 RW 2 Kelurahan Kalibanteng Kulon, Semarang Barat, berbatasan dengan sisi barat Lokalisasi Argorejo.

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang, makam Sunan Kuning atau Soen Ang Ing tersebut hingga saat ini masih terjaga dan terawat dengan baik. Akses untuk menuju ke makam tersebut cukup mudah, yakni melewati gang-gang Lokalisasi Argorejo, dengan pemandangan kanan-kiri berderet rumah warga yang hampir semuanya didesain sebagai wisma hiburan malam.

Hingga ujung Gang Argorejo Barat bagian selatan terdapat pembatas portal besi (buka tutup), kemudian masuk di Gang Jalan Sri Kuncoro I RT 6 RW 2. Di gang tersebut, kiri jalan terdapat bangunan gapura dan undak-undakan anak tangga berkelok menuju bukit. Bukit ini menurut warga sekitar disebut Bukit Gunung Pekayangan.

Lokasi makam Sunan Kuning dengan Lokalisasi Argorejo sebenarnya cukup terpisah, yakni kurang lebih berjarak 50 meter dengan diberi pembatas portal. Ini juga sebagai pembatas bahwa di Jalan Sri Kuncoro merupakan hunian penduduk yang “hidup normal” (bukan lokalisasi).

Di sekeliling jalan berstruktur paving, terdapat pemakaman penduduk setempat, yakni pemakaman Tepis Wiring. Terlihat di atas bukit, ada pintu gerbang kedua dengan arsitektur khas Tiongkok. Memasuki areal makam, terdapat tiga bangunan mirip rumah mini.

Rumah pertama di sebelah kanan, diperuntukkan bagi peziarah yang hendak istirahat atau menginap. Sedangkan rumah kedua terdapat tiga makam tertulis nama Kyai Sekabat, Kyai Djimat, dan Kyai Modjopahit. Konon, ketiganya merupakan murid sekaligus pembantu setia Sunan Kuning.

Sedangkan rumah ketiga merupakan bangunan utama yang dilengkapi dengan teras mirip pendopo terdapat tiga makam, yakni Makam Soen Ang Ing, dan makam tertulis Sunan Kalijaga, serta makam bertulis Sunan Ambarawa atau Syekh Maulana Maghribi Kendil Wesi.

Ketiga makam tersebut diberi rumah-rumahan kecil lengkap dengan kelambu dominasi warna merah. Di dekat makam terdapat ornamen patung khas Tiongkok. Sedangkan di dinding tampak gambar silsilah Walisongo.

Menurut juru kunci makam Sunan Kuning atau Soen Ang Ing, Sutomo, 67, selama ini tidak ada yang mengetahui secara pasti sejak kapan makam tersebut ditemukan kali pertama. Namun orang yang kali pertama menemukan makam tersebut adalah seorang sesepuh bernama Saribin.  “Saribin adalah tokoh sepuh yang memiliki banyak murid. Dia orang pertama yang menemukan makam, tapi nenek moyang kami tidak ada yang menjelaskan tahun berapa ditemukan,” jelas Sutomo saat berbincang dengan Jawa Pos Radar Semarang, Sabtu (27/5).

Dijelaskan, hingga sekarang makam tersebut telah dilakukan pembangunan dan rehab sebanyak tiga kali. Lokasi makam dibangun pertama kali pada 1937 oleh seorang wanita pengusaha Tiongkok yang tinggal di Solo, Siek Sing Kang.

“Kemudian dibangun lagi pada 1997 dan 1998 oleh warga keturunan Tiongkok, Liem Tjong Tat, warga Wotgandul Barat,” kata Mbah Tomo, panggilan akrabnya.

Mbah Tomo memulai kisah mengenai awal mula penemuan makam. Ia menjelaskan berdasarkan cerita leluhur yang diwariskan secara turun-temurun. Penemuan makam bermula saat sesepuh Saribin tertimpa masalah, yakni kehilangan hewan ternak sebanyak enam ekor kerbau. “Dia adalah seorang sesepuh yang memiliki kelebihan, banyak murid dan memiliki banyak binatang ternak peliharaan,” ceritanya.

Dia melihat kandang ayam masih utuh, kandang kambing utuh. Nah saat mengecek kandang kerbau, ada 6 ekor kerbau hilang. Atas kehilangan enam kerbau itulah, Saribin meminta izin istri dan juga para muridnya untuk mencari kerbaunya yang hilang. “Selama tujuh hari tujuh malam, ia mencari hingga luar kota. Tetapi kerbau tersebut tidak ditemukan. Hal itu membuat Saribin hampir putus asa. Sebab, Saribin dikenal sebagai orang berilmu linuwih ternyata tidak bisa mencari kerbaunya yang hilang,” katanya.

Akhirnya, Saribin memutuskan untuk mencari tempat untuk menyendiri. Sampailah di Bukit Gunung Pekayangan yang terletak di Semarang bagian barat itu. “Tepatnya di bawah Pohon Kepuh, Saribin bersemedi. Tempat itu dulunya dikenal wingit, istilah Jawanya jalmo moro jalmo mati, tiyang mlebet mriki mboten bersih, mboten suci pikirane, wangsul sakit sedo. (Orang masuk di sini, kalau tidak memiliki pikiran bersih dan suci, pulang sakit dan meninggal),” ceritanya.

Saat bersemedi, Eyang Buyut Saribin menemui kejadian aneh, yakni didatangi suara kereta kencana. Tetapi tidak kelihatan wujudnya. “Kemudian Saribin mendengar suara “Ngger ojo susah, kebomu tak cancang di pohon kesambi”. (Nak, tidak perlu susah, kerbaumu saya tambatkan di Pohon Kesambi). Tak lama kemudian kerbaunya ditemukan,” kata warga Jalan Sri Kuncoro I RT 6 RW 2 No 18 Kelurahan Kalibanteng Kulon ini.

Sejak saat itulah, Saribin yang melihat adanya kekuatan mistik di bukit itu kemudian berinisiatif membersihkan semak-semak dan rumput. Ia menemukan gundukan-gundukan menyerupai batu yang kemudian dipercaya sebagai makam. “Totalnya terdapat enam makam,” ujarnya.

Saribin berusaha mencari silsilah tokoh yang dimakamkan di tempat tersebut sebelum akhirnya meyakini bahwa tokoh yang dimakamkan di bukit itu salah satunya adalah Soen Ang Ing, seorang tokoh penyebar Islam berasal dari tanah Tiongkok.

“Soen Ang Ing asli dari Tiongkok, nama Jawanya Raden Mas Garendi, bapaknya namanya Eyang Probo asal Kadilangu Demak,” katanya.

Tomo mengatakan, tidak ada yang menyebarluaskan, tapi banyak peziarah datang dari berbagai penjuru. Baik dari Kalimantan, Jawa Timur, Pasuruan, Jombang, Kediri, Surabaya dan lain-lain. Bahkan makam ini tersohor di kalangan orang pencinta sejarah.

Namun ia mengaku tidak mengetahui secara pasti mengapa nama Sunan Kuning ini belakangan bergeser dan dikenal publik sebagai tempat Lokalisasi Sunan Kuning. Tetapi, menurut sesepuh pendahulunya, dijelaskan bahwa pergeseran istilah tersebut terjadi pada 1967.

“Saat itu, ada kejadian Pak Camat membunuh mantunya. Terus (jenazah) disandarkan di kuburan dan banyak WTS (wanita tunasusila/pekerja seks) melihat di lokasi. Nah, wartawan memotret kejadian itu, dan berita yang keluar ‘Pembunuhan di Sunan Kuning” yang terlihat banyak WTS. Sejak itu, nama Sunan Kuning bergeser,” bebernya.

Pada saat itu, lanjutnya, juru kunci makam tersebut adalah ayahnya Sutomo. “Saya waktu itu masih kecil.” imbuhnya.

Makam ini juga tercatat pernah diteliti oleh seorang pengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang, Akhriyadi Sofian. Ia meneliti sejarah perkembangan Sunan Kuning sejak 1966 hingga 1984.

Tidak hanya itu, penulis Remy Silado dalam buku 9 Oktober 1740: Drama Sejarah, dalam catatan seorang Tionghoa di Semarang, Liem Thian Joe, juga menyebut bahwa Sunan Kuning memiliki nama populer Raden Mas Garendi. Sunan Kuning berasal dari kata cun ling (bangsawan tertinggi) merupakan salah satu tokoh yang berperan penting dalam peristiwa Geger Pacinan (1740-1743).

Dalam Geger Pacinan 1740-1743, Persekutuan Tionghoa-Jawa Melawan VOC, RM Daradjadi menyebut Raden Mas Garendi bersama Kapitan Sepanjang (Khe Panjang) dan Raden Mas Said (Pangeran Sambernyawa) mengobarkan perlawan sengit terhadap VOC di wilayah kekuasaan Mataram. Perlawanan ini disebut sebagai pemberontakan terbesar yang dihadapi VOC selama berkuasa di nusantara.

Para pemberontak Jawa-Tionghoa menobatkan Raden Mas Garendi sebagai Raja Mataram bergelar “Sunan Amangkurat V Senopati Ing Alaga Abdurahman Sayidin Panatagama” pada 6 April 1742 di Kabupaten Pati. Ketika itu, cucu Amangkurat III yang dibuang VOC ini baru berumur 16 tahun –sumber lain menyebut 12 tahun. Dia pun dianggap sebagai “Raja Orang Jawa dan Tionghoa”.

Hal senada diungkapkan Ketua Komunitas Sejarah Lopen Semarang, Muhammad Yogi Fajri. Namun menurut Yogi, lokalisasi tersebut dikenal sebagai Sunan Kuning lantaran ada petilasan atau makam Soen Koen Ing   yang konon dipercaya sebagai tokoh Tionghoa penyebar agama Islam di wilayah setempat.

Dari sumber riwayat Semarang, lanjut Yogi, menyebutkan jika  Sunan Kuning dimakamkan di bagian barat kota, yakni  di atas sebuah bukit di daerah Argorejo saat ini. Namun sekitar makam Sunan Kuning itu pada 1960-an berubah menjadi lokalisasi sampai saat ini .“ Dari situlah terus berkembang nama Sunan Kuning yang malah dikenal sebagai kawasan pelacuran, bukan sebagai makam penyebar agama Islam,” ujarnya.

Lurah Kalibanteng Kidul, Tri Hardjono, mengatakan, tak dipungkiri di wilayahnya terdapat makam tua yang memiliki sejarah panjang. Namun dalam perkembangannya, masih banyak masyarakat sering mengaitkan nama Sunan Kuning dengan lokalisasi tempat prostitusi.

“Ini yang harus diluruskan. Kalau sejarah secara pasti saya kurang tahu. Tapi berdasarkan tulisan-tulisan yang pernah saya baca, Sunan Kuning merupakan tokoh penyebar agama Islam,” katanya.

Hingga saat ini, pengelola telah berusaha memulihkan dengan menyebut Resosialisasi Argorejo. Keberadaan tempat tersebut memang dikenal sebagai tempat prostitusi.  Berdiri di tanah seluas 3,5 hektare, terletak di RW 4, Kelurahan Kalibanteng Kulon. “Kalau ditutup pun belum memungkinkan, karena dampaknya malah melebar. Maka selama ini, kami bersama pengelola memberikan pembinaan, seperti menjahit, wirausaha, salon dan lain-lain, harapannya mereka bisa keluar dari dunia seperti itu,” ujarnya. (amu/den/aro)