PEDULI PENDIDIKAN: Anggota Komunitas Harapan Semarang bersama anak-anak Kampung Sumeneban, Kauman. (DOKUMENTASI KOMUNITAS HARAPAN)
PEDULI PENDIDIKAN: Anggota Komunitas Harapan Semarang bersama anak-anak Kampung Sumeneban, Kauman. (DOKUMENTASI KOMUNITAS HARAPAN)

Komunitas Harapan merupakan komunitas yang konsen di bidang pendidikan dan sosial. Mereka ingin mengajak generasi muda terutama anak-anak agar gemar membaca dan memiliki jiwa sosial tinggi. Seperti apa?

MIFTAHUL A’LA

MASIH banyak anak usia sekolah yang belum mendapatkan pendidikan, membuat pola pikir kurang maju. Bahkan, tidak sedikit anak-anak yang berbicara kasar dan semaunya sendiri. Kondisi ini diperparah dengan masih belum semua orang tua peduli dengan kondisi tersebut. Sehingga membuat pendidikan anak-anak terabaikan.

Kondisi tersebut membuat Agung Setia Budi, warga Kampung Sumeneban, Kelurahan Kauman, Semarang prihatin. Apalagi kondisi itu terjadi di lingkungan sekitar rumahnya. Parahnya, tak sedikit anak-anak yang merasa biasa saja, dan tidak menyadari apa yang mereka lakukan adalah perbuatan yang kurang terpuji.

Agung pun tergerak hingga akhirnya membentuk Komunitas Harapan Semarang. Komunitas yang didirikan pada 2 Januari 2013 ini  sebagai wadah bagi mereka yang peduli terhadap pendidikan anak-anak.  “Awalnya saya miris melihat anak-anak di sekitar lingkungan sendiri. Karena meski sudah sekolah, tetapi perilakunya kurang menunjukkan anak yang berilmu,” katanya.

Ia menceritakan, kehidupan anak-anak yang tumbuh dan besar di lingkungan kampungnya yang tidak sepenuhnya kondusif, ternyata membentuk mental dan kepribadian anak mengikuti kondisi yang ada. Tidak sedikit anak-anak yang lahir di kampung  tak jauh dari Pasar Johar ini terkenal keras. Kesibukan para orang tua dalam mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, membuat mereka kurang memberikan perhatian lebih kepada anak-anaknya.

“Akhirnya, banyak anak kampung sini hidup lebih bebas tanpa adanya kontrol dan pengawasan. Hasilnya, banyak anak sering melakukan tindakan yang kurang terpuji bahkan lepas kontrol,” ujarnya.

Dikatakan, Komunitas Harapan Semarang dibentuk sebagai wadah sosial pendidikan untuk anak–anak usia sekolah  (PAUD,TK, SD dan SMP). Berbagai kegiatan dilakukan sebagai upaya membekali anak-anak agar bisa lebih maju. Seperti kegiatan belajar dan bermain yang positif dan mendidik serta berbasis kekeluargaan. “Awalnya hanya saya saja yang aktif. Ya, karena memang belajar dari keprihatinan pribadi,” akunya.

Tak lama setelah komunitas ini terbentuk, akhirnya ada sejumlah mahasiswa bergabung. Salah satunya Pranamya Dewati. Mereka akhirnya bersama–sama merekonstruksi ulang konsep kegiatan komunitas tersebut. Setelah itu, berbagai kegiatan dijalankan, hingga banyak mahasiswa yang bergabung.

Komunitas Harapan menerapkan sistem belajar secara berjenjang, yakni kakak kelas memberikan arahan atau membantu adik kelasnya dalam kegiatan bermain dan belajar. Sehingga sejak dini, anak-anak timbul sikap saling menyayangi dan menghormati.

“Dengan kegiatan ini diharapkan dapat memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk menuangkan ide, bermain, berkreasi, dan meningkatkan kepercayaan diri masing-masing,” harapnya.

Semakin banyaknya mahasiswa yang bergabung, membuat komunitas ini semakin besar. Bahkan, sekarang sudah bergabung beberapa Relawan Nekatz yang memang konsen untuk menyebarkan virus membaca di kalangan anak-anak di Kota Semarang.

Komunitas ini juga ingin mengajak orang tua agar lebih peduli terhadap pendidikan anak-anaknya untuk masa depan yang lebih baik. “Anak-anak butuh perhatian, kasih sayang, dan tuntunan untuk dijadikan teladan. Sehingga mereka dapat tumbuh sebagai pribadi yang baik dan bertanggung jawab,” katanya. (*/aro)