Obsesi Jadi Psikolog

778
Puspita Sari. (DOKUMEN PRIBADI)
Puspita Sari. (DOKUMEN PRIBADI)

MENJALANI profesi sebagai guru bimbingan belajar (bimbel) di SD Semesta menjadi langkah awal Puspita Sari untuk mengejar cita-citanya menjadi seorang psikolog. Mahasiswi semester VII jurusan psikologi Universitas Semarang (USM) ini mengaku menyukai anak-anak dan dunianya. Sehingga ia sangat nyaman menjalankan profesinya sebagai pengajar saat ini, meskipun ia tidak memiliki cita-cita menjadi guru.

”Saya sendiri suka sama anak kecil. Kadang memang sih nyebelin, tapi juga ngangenin anak kecil itu,” ujar gadis kelahiran Semarang, 22 Januari 1995 ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ita -sapaan akrabnya—mengaku senang membaca karakter seseorang. Kesenangannya ini ia lakukan terhadap anak didiknya sebagai pengajar, serta kepada orang di sekelilingnya sebagai teman. ”Aku suka jadi psikolog. Aku suka baca karakter seseorang. Aku suka sama hal-hal yang berbau psikolog,” katanya.

Gadis yang hobi membaca dan memasak ini membeberkan, psikolog itu ilmu kejiwaan dan ilmu logika. Artinya, semua orang bisa mempelajari sendiri.

”Kalau kita tahu psikologi, misalnya ada orang minta bantuin,  kita jadi tahu harus bagaimana mengarahkan,” jelasnya.

Putri pasangan Muhammad-Rumiyati ini menambahkan, psikolog bukan menyelesaikan masalah, akan tetapi memberikan solusi. Misalnya, ada orang yang konsultasi, seorang psikolog tidak bisa menuntut seseorang untuk begini atau begitu.

”Tapi kita kasih pilihan. Biar dia juga bisa lepas dari masalahnya sendiri. Kita cuma jadi jembatan. Itulah kenapa saya ingin menjadi seorang psikolog. Karena dapat menjadi teman dari permasalahan seseorang,” katanya. (mg30/aro/ce1)