MENOLAK RELOKASI: Pedagang Barito blok A-H saat menggelar istighotsah, kemarin. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MENOLAK RELOKASI: Pedagang Barito blok A-H saat menggelar istighotsah, kemarin. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG Sebanyak 450 pedagang kaki lima (PKL) yang tergabung dalam Paguyuban Pedagang Karya Mandiri Barito Blok A-H, menyatakan menolak kebijakan Pemkot Semarang yang akan merelokasi akibat terdampak proyek normalisasi Sungai Banjir Kanal Timur. Mereka menolak relokasi karena mengklaim berstatus resmi dan memiliki Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Selain itu, sebanyak 450 pedagang di Blok A-H ini memiliki karakteristik berbeda dibanding pedagang Barito lain.

”Kami sebenarnya tidak terdampak secara langsung. Sebab, lokasinya masih cukup jauh dengan tanggul. Ini merupakan tempat relokasi resmi pemberian Pemkot Semarang sejak 1970. Dulu kami direlokasi dari daerah Tawang,” kata Ketua Paguyuban Karya Mandiri Barito, Yulianto, usai menggelar istighotsah bersama di Jalan Barito, Kamis (25/5).

Baca Juga : Empat Kios PKL Ludes Terbakar

Dikatakannya, rencana pedagang di sepanjang Sungai Barito yang akan direlokasi di Pasar Klitikan Penggaron, Pedurungan ini sangat meresahkan warga. Sebab, hal ini mempertaruhkan hidup sebanyak 4.000 jiwa yang menggantungkan hidupnya di Barito Blok A-H. Apalagi kalau dipindah di Pasar Klitikan Penggaron, tentu akan sangat merugikan pedagang.

”Pedagang akan kesulitan menjalin relasi baru. Apalagi kondisi ruangan yang sempit sangat tidak kondusif,” ujarnya.

Menurut dia, ukuran kios di Pasar Klitikan hanya 3×3 meter persegi untuk masing-masing pedagang. Sementara saat ini, ukuran kios 3×4 meter persegi dan masih memiliki lahan belakang kios untuk menyimpan barang.

”Kalau dipindah di Pasar Klitikan, sudah dipastikan tidak kondusif. Apalagi Barito ini sudah menjadi ikon Semarang, jika kami pindah pasti kami kesulitan membangun dari awal,” katanya.

Anggota DPRD Kota Semarang, Ari Purbono, mengatakan, Pemkot Semarang perlu mencarikan solusi yang lebih tepat. Karena itu, perlu dilakukan kajian lebih serius. Bisa saja relokasi bukan menjadi solusi.

”Kalau pertumbuhan mal dan toko modern berkembang pesat, maka pedagang kreatif yang sudah memiliki karakter seperti di Barito ini perlu diperhatikan. Jangan malah dianaktirikan. Ini menjadi PR besar pemkot,” ujarnya.

Apalagi dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Semarang memiliki visi sebagai kota perdagangan dan jasa. Maka keberadaan pedagang Barito yang sudah eksis sejak lama dan menjadi ikon Kota Semarang ini jangan sampai mati usahanya.

”Kami pernah memberi beberapa opsi pemecahan masalah. Di antaranya, bisa direlokasi di Pasar Klitikan Pedurungan atau dibuatkan shelter dengan pemkot membeli aset lahan sekitar Barito. Kalau melihat keuangan daerah, harusnya mampu,” katanya.  (amu/aro/ce1)