33 C
Semarang
Jumat, 5 Juni 2020

450 PKL Barito Tolak Relokasi

Another

Kenangan dan Kesan Tak Terlupa Bekerja Bareng sang Legenda

Yuni Shara antusias saat ditawari berduet dengan Didi Kempot meski akhirnya tak sempat bertemu sampai selesai rekaman. Soimah juga...

Didi Kempot Berkawan dengan Berbagai Kalangan (14)

Karya-karyanya yang sukses melewati semua demarkasi pendengar musik mengantarkan Didi Kempot pada persahabatan yang tak pandang bulu. Dari pengamen...

Setan Sembunyi

Surabaya tidak lagi hanya merah. Tapi merah kehitaman. Pertanda wabah Covid-19 kian mengkhawatirkan. Apalagi ada berita medsos yang agak ngawur...

SEMARANG Sebanyak 450 pedagang kaki lima (PKL) yang tergabung dalam Paguyuban Pedagang Karya Mandiri Barito Blok A-H, menyatakan menolak kebijakan Pemkot Semarang yang akan merelokasi akibat terdampak proyek normalisasi Sungai Banjir Kanal Timur. Mereka menolak relokasi karena mengklaim berstatus resmi dan memiliki Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Selain itu, sebanyak 450 pedagang di Blok A-H ini memiliki karakteristik berbeda dibanding pedagang Barito lain.

”Kami sebenarnya tidak terdampak secara langsung. Sebab, lokasinya masih cukup jauh dengan tanggul. Ini merupakan tempat relokasi resmi pemberian Pemkot Semarang sejak 1970. Dulu kami direlokasi dari daerah Tawang,” kata Ketua Paguyuban Karya Mandiri Barito, Yulianto, usai menggelar istighotsah bersama di Jalan Barito, Kamis (25/5).

Baca Juga : Empat Kios PKL Ludes Terbakar

Dikatakannya, rencana pedagang di sepanjang Sungai Barito yang akan direlokasi di Pasar Klitikan Penggaron, Pedurungan ini sangat meresahkan warga. Sebab, hal ini mempertaruhkan hidup sebanyak 4.000 jiwa yang menggantungkan hidupnya di Barito Blok A-H. Apalagi kalau dipindah di Pasar Klitikan Penggaron, tentu akan sangat merugikan pedagang.

”Pedagang akan kesulitan menjalin relasi baru. Apalagi kondisi ruangan yang sempit sangat tidak kondusif,” ujarnya.

Menurut dia, ukuran kios di Pasar Klitikan hanya 3×3 meter persegi untuk masing-masing pedagang. Sementara saat ini, ukuran kios 3×4 meter persegi dan masih memiliki lahan belakang kios untuk menyimpan barang.

”Kalau dipindah di Pasar Klitikan, sudah dipastikan tidak kondusif. Apalagi Barito ini sudah menjadi ikon Semarang, jika kami pindah pasti kami kesulitan membangun dari awal,” katanya.

Anggota DPRD Kota Semarang, Ari Purbono, mengatakan, Pemkot Semarang perlu mencarikan solusi yang lebih tepat. Karena itu, perlu dilakukan kajian lebih serius. Bisa saja relokasi bukan menjadi solusi.

”Kalau pertumbuhan mal dan toko modern berkembang pesat, maka pedagang kreatif yang sudah memiliki karakter seperti di Barito ini perlu diperhatikan. Jangan malah dianaktirikan. Ini menjadi PR besar pemkot,” ujarnya.

Apalagi dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Semarang memiliki visi sebagai kota perdagangan dan jasa. Maka keberadaan pedagang Barito yang sudah eksis sejak lama dan menjadi ikon Kota Semarang ini jangan sampai mati usahanya.

”Kami pernah memberi beberapa opsi pemecahan masalah. Di antaranya, bisa direlokasi di Pasar Klitikan Pedurungan atau dibuatkan shelter dengan pemkot membeli aset lahan sekitar Barito. Kalau melihat keuangan daerah, harusnya mampu,” katanya.  (amu/aro/ce1)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Kenangan dan Kesan Tak Terlupa Bekerja Bareng sang Legenda

Yuni Shara antusias saat ditawari berduet dengan Didi Kempot meski akhirnya tak sempat bertemu sampai selesai rekaman. Soimah juga...

Didi Kempot Berkawan dengan Berbagai Kalangan (14)

Karya-karyanya yang sukses melewati semua demarkasi pendengar musik mengantarkan Didi Kempot pada persahabatan yang tak pandang bulu. Dari pengamen sampai presiden. T.M. BAYUAJI-K. ULUM, BAYU...

Setan Sembunyi

Surabaya tidak lagi hanya merah. Tapi merah kehitaman. Pertanda wabah Covid-19 kian mengkhawatirkan. Apalagi ada berita medsos yang agak ngawur sebelumnya: Surabaya bisa seperti Wuhan....

Religiusitas dan Kedekatan Didi Kempot dengan Kaum Santri (13)

Ada sejumlah lagu Didi Kempot yang memperlihatkan sisi religiusitas maestro campursari itu, termasuk satu di antaranya yang belum sempat dirilis. Menurut para sahabat, yang...

Luka Lama

Semua bisa merasakan: betapa irinya Trump. Iri kepada Putin. Iri kepada Xi Jinping. Iri pada kekuasaan mereka berdua. Yang tidak dimiliki oleh seorang Presiden Amerika. Betapa gemes tangan...

More Articles Like This

Must Read

75 Sarjana Cukupi Kebutuhan Perwira Polisi

SEMARANG - Sebanyak 75 sarjana dari berbagai bidang disiplin ilmu dinyatakan lulus Pendidikan Siswa Sekolah Inspektur Polisi Sumber Sarjana (SIPSS). Di antaranya dalam bidang hukum,...

Petugas Disiagakan di Titik Rawan Kecelakaan

RADARSEMARANG.COM, KAJEN - Hari pertama dibukanya jalur mudik tol Pemalang-Batang mulai dipadati kendaraan. Tak terkecuali di wilayah Kabupaten Pekalongan. Antrean kendaraan mulai terlihat di...

Serabi Pegandon Favorit Takjil

KENDAL – Wilayah Pegandon, Kendal, punya makanan khas yang hanya bisa dijumpai di bulan Ramadan. Ya, Serabi Pegandon menjadi takjil favorit bagi masyarakat Kendal...

Pembangunan Jangan Singkirkan Lahan Pertanian

SEMARANG - Pembangunan di sejumlah daerah Jateng terbilang pesat belakangan ini. Meski positif, pembangunan juga berdampak pada penyempitan lahan. Ketersediaan lahan subur justru menjadi...

Perlu Pembatasan Penggunaan Air Tanah

SEMARANG – Persoalan semakin menipisnya cadangan air tanah harus disikapi secara serius. Sebab, jika tidak ketersediaan air akan terus berkurang dan berdampak pada penurunan...

Buat TV, Presenternya Pilihan

TEMANGGUNG—Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Temanggung tahun ini akan memiliki stasiun televisi (TV). Rencananya, TV akan di-launching bersamaan peringatan HUT ke-72 RI pada 17 Agustus mendatang. “Rencana...