Oleh: Maria Ulfah SPd
Oleh: Maria Ulfah SPd

FENOMENA siswa berpacaran saat ini sudah berada pada tahap yang sangat memprihatinkan. Berpacaran tidak hanya terjadi pada remaja  usia tanggung di tingkat SMP atau SMA, akan tetapi juga merambah anak-anak kecil usia SD. Mereka sepertinya merasa malu dan takut jika mereka menyandang predikat jomblo alias tidak punya pacar.

Jomblo bagi mereka adalah sebuah dosa besar. Untuk itu, mereka pun tampak berlomba-lomba mencari pasangan. Mereka sepertinya lupa bahwa  tugas utama seorang siswa adalah mencari ilmu sebanyak-banyaknya bukan mencari pasangan secepatnya. Bahkan merekapun sudah menganggap sekolah adalah tempat untuk mencari pasangan bukan tempat untuk mencari ilmu.

Gaya berpacaran mereka pun sudah seperti layaknya orang dewasa yang sedang jatuh cinta. Bahkan mereka tidak segan menunjukkan kemesraan di depan umum. Media sosial seperti Facebook, WhatsApp, Instragram dan lainnya, sudah menjadi media yang umum mereka gunakan untuk menunjukkan kepada semua orang kalau mereka sudah punya pasangan. Tentunya tidak lupa mereka selipkan foto-foto mesra mereka. Sungguh memprihatinkan!!

Diperlukan kerja sama yang baik antara pihak sekolah dan orang tua untuk mencegah perilaku siswa yang semakin memprihatinkan tersebut. Orang tua dan guru berperan penting dalam upaya menciptakan karakter siswa yang baik. Karena merekalah yang setiap hari bertemu dan berhadapan langsung dengan siswa.

Pada dasarnya guru dan orang tua mempunyai tujuan yang sama dalam pembentukan karakter siswa. Setiap guru akan merasa senang apabila siswa menjadi pribadi yang baik. Orang tua pun akan sangat bangga jika anaknya mempunyai karakter yang baik. Tak ada orang tua yang bangga apabila anaknya mempunyai pasangan di usia belia. Semua orang tua akan bangga jika anaknya memiliki prestasi bagus sejak kecil.

Ada beberapa kiat yang bisa digunakan guru dan orang tua untuk mencegah perilaku siswa yang menyimpang. Pertama, orang tua dan guru harus bisa menjadi orang yang tidak hanya memposisikan dirinya sebagai orang tua, tapi harus bisa menjadi teman atau sahabat tempat berbagi suka atau duka bagi anaknya. Kedua, orang tua dan guru harus memberikan pendidikan seks di usia dini yang bertujuan supaya anak mengetahui batas-batas pergaulan dengan lawan jenisnya.

Ketiga, tidak lupa pendidikan agama merupakan pendidikan dasar bagi setiap anak, karena dengan pendidikan agama yang baik, seorang anak tentunya akan berpikir seribu kali ketika dia akan melakukan kegiatan yang melanggar perintah agama mereka.

Keempat, komunikasi aktif antara guru dan orang tua juga akan mempengaruhi perilaku siswa baik di rumah maupun di sekolah. Dalam rangka meningkatkan komunikasi yang baik antara guru dan orang tua bisa menggunakan berbagai langkah, di antaranya sekolah bisa mendirikan call centre di mana orang tua bisa selalu mengecek keadaan anaknya di sekolah.

Selain itu, bisa juga mengadakan buku penghubung yang dapat menjalin kerja sama antara wali/guru kelas dengan orang tua/wali siswa. Buku tersebut berisi saran, pesan atau imbauan tentang anak dari wali kelas kepada orang tua atau sebaliknya. Bisa juga wali/guru kelas membuat grup WhatsApp yang beranggotakan semua orang tua dari kelasnya.

Berbagai hal di atas adalah upaya yang sangat mendesak untuk dilakukan oleh guru dan orang tua untuk meminimalisasi penyimpangan perilaku siswa baik di rumah maupun di sekolah. (*/aro)