Kenansa Anjani NS. (DOK PRIBADI)
Kenansa Anjani NS. (DOK PRIBADI)

KENANSA Anjani NS merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Dari masa kuliah, ia aktif menari tari tradisional dan tampil pada banyak kesempatan. Hingga saat ini Kenansa yang sedang koas (asisten dokter) di RSUP Dr Kariadi terus menyempatkan diri untuk tampil menari.

Dari kecintaanya terhadap tari tradisional, dara kelahiran Jakarta 28 Agustus 1994 ini pernah menjadi salah satu duta budaya dari Indonesia untuk misi budaya ke Perancis dan Spanyol selama 40 hari. ”Pernah ditunjuk jadi salah satu duta budaya dari Undip tahun 2015. Selama di sana, aku ikut festival-festival budaya internasional di Kota Morcenx, St Vincent, Mimizan, Bretagne, Normandie, Le Pouliguen, La Baule, St Nazaire, Nantes, Pornichet, Pontorson, St James, Villedieules Poèles, Plozevet, Bakio, Valladolid, dan terakhir di Kedutaan Besar Indonesia di Paris,” katanya.

Gadis yang hobi traveling ini, tidak hanya tampil membawakan tari tradisional Jawa, namun juga Bali, Kalimantan, dan Sumatera. Padahal pada mulanya, Kenansa merupakan penari balet yang lambat laun tertarik dengan tari tradisional.

”Pertama kali mengenal dunia tari di Sanggar Ballet Sumber Cipta (by Farida Oetoyo) Jakarta. Lalu waktu tingkat SD pindah sanggar ke Namarina Dance Academy, karena sama-sama kurikulum silabusnya dari RAD (Royal Academy of Dance) Ballet London,” ujarnya.

Ia menari balet, hingga tingkat SMA. Kenansa kemudian mulai tertarik dengan tari tradisional setelah melanjutkan studi ke Semarang di FK Undip dengan mengikuti Unit Pelaksana Kegiatan (UPK) tari di fakultasnya. ”Ketika Semester dua jadi mahasiswi kedokteran, itu awal tahun 2013. Kemudian ikut UPK Tari FK Husada Budaya. Setelah beberapa kali latihan, aku dipilih buat tampil dalam rangka Dies Natalies Undip ke-57 di acara Ketoprak Spektakuler sebagai putri keraton menarikan tari Bedhaya,” kata putri pertama dari Mujianto-Maria Hasmanizar ini.

Dalam pentas itu, lanjut Kenansa, juga diikuti oleh Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Prof Soedharto (Rektor Undip saat itu), dan beberapa dosen FK sebagai tokoh dalam ketoprak tersebut. ”Alhamdulillah lancar dan semakin tertarik untuk belajar budaya tradisional Indonesia. Setelah itu aku menerima tawaran tampil,” ujarnya.

Selama menggeluti dunia tari, ia memiliki tantangan mulai jadwal kegiatan akademik dan nonakademik sebagai mahasiswa. ”Beragam jenis tarian Indonesia yang berbeda-beda karakter dan teknik, menjadi tantangan tersendiri. Termasuk bahasa daerah, jika harus berdialog. Tapi itu semua bisa teratasi dengan latihan terus-menerus,” pungkasnya. (mg30/ida/ce1)