PERJALANAN : Museum OHD Magelang memajang koleksi yang berumur 20 tahun lalu dari 24 perupa. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
PERJALANAN : Museum OHD Magelang memajang koleksi yang berumur 20 tahun lalu dari 24 perupa. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)

MAGELANG – Sutradara pertunjukan Jay Subiyakto menilai kesenian dapat menguatkan sebuah bangsa. Seperti keberagamaan seni yang ada di dalamnya, menyatu menjadi sebuah karya.

“Situasi seperti sekarang ini, perlu orang kembali menata kewarasannya lewat kesenian. Dengan seni, orang pasti akan lebih terbuka wawasannya, dan lebih bisa menerima,” kata Jay, saat mengunjungi pameran seni rupa “Mata Rantai: 20 Tahun Museum OHD”, belum lama ini.

Menurutnya, seni salah satu wadah yang pencapaiannya bisa sangat luas. Ia mendorong generasi muda, harus tahu akan hal itu. “Seni tidak terbatas dan tidak mengenal gender, kita bisa hidup lewat kesenian dan mengekspresikan sebuah rasa,” tuturnya.

Ia heran, saat ini, banyak yang meributkan persatuan. Padahal 10 tahun yang lalu, ia merasa fenomena itu tidak terjadi. “Kok sekarang banyak orang yang berteriak-teriak tentang persatuan, dan tiba-tiba nggak boleh ini dan itu, padahal dulu nggak ada masalah seperti ini,” sentilnya.

Justru, hal demikian bisa membuat suasana dan kuping panas. Karenanya, seni bisa meredam dan mendinginkan situasi. “Pelariannya, menurut saya ke seni. Dan seni itu beragam, ada seni suara, seni rupa dan lainnya. Setiap orang diberkahi dengan kemampuan (seni, red) itu,” imbuhnya.

Sementara itu, pemilik Museum OHD, Oei Hong Djien (OHD) mengatakan, dalam pameran Mata Rantai: 20 Tahun Museum OHD ini ia memajang karya dari 24 perupa yang dikoleksi minimal 20 tahun lampau. Karya lawas itu disandingkan dengan karya baru dari para perupa yang sama. Karya itulah sebagai saksi perubahan maupun perkembangan museum, perupa, dan tantangannya.

“Misal karya-karya yang sekarang dilelang mahal, orang-orang kan tahunya sekarang, tapi dulu begini. Sekarang bisa dikatakan pameran ini untuk memberikan dan menggugah senimannya sendiri,” aku OHD.

Kurator Suwarno Wisetrotomo mengatakan, dalam pameran ini ada empat kacamata yang bisa dilihat. Pertama, dapat digunakan untuk melihat perkembangan selera artistik dan estetik OHD sebagai pemilik museum. Kedua, dapat digunakan untuk melihat pertumbuhan dan perkembangan Museum OHD di tengah kosongnya kultur museum di Indonesia. Ketiga, untuk melihat perkembangan pemikiran dan penciptaan perupa. “Mandek, mundur atau melesat maju?,” ucap Suwarno.

Terakhir, melalui koleksi yang dipamerkan itu, dijadikan titik pijak untuk mendiskusikan peran kolektor, institusi museum dalam konstelasi seni rupa Indonesia, juga seni rupa dunia. (put/ton)