TEROBOS LARANGAN: Karyawan PT IPU masih terlihat leluasa menerobos garis di kawasan tanah milik Siti Mariyatun, untuk memasang pagar beton. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TEROBOS LARANGAN: Karyawan PT IPU masih terlihat leluasa menerobos garis di kawasan tanah milik Siti Mariyatun, untuk memasang pagar beton. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG- Tindakan PT Industri Perkasa Usahatama (IPU) yang mendirikan pagar beton di lahan sengketa, disoal. Pasalnya, lahan tersebut telah di-police line, lantaran masih dalam proses penyelidikan pihak Polrestabes Semarang. Namun pihak IPU tetap menerobos daerah yang harusnya steril tersebut dan membangun pagar.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Semarang, tanah sekitar 2,5 hektare milik Siti Marwiyatun, warga Jalan Untung Suropati, Kelurahan Kedungpane, Kecamatan Mijen, tersebut lokasinya persis di belakang Kawasan Industri Candi Gatot Soebroto miliki PT IPU.

“Sekarang posisi tanah sudah dipasang police line tapi pihak PT IPU tetap melanggar garis polisi dan tetap mendirikan pagar, kejadiannya sekitar pertengahan Februari 2017 lalu, dimana pihak IPU melakukan pemagaran menggunakan beton arcon,” kata anak dari Siti Marwiyatun, Yusuf Asa Robhaton, Senin (22/9).

Pihaknya sempat menanyakan terkait pemagaran tersebut kepada salah satu karyawan PT IPU bernama Steven, namun dia mengatakan hanya menjalankan perintah atasan. IPU juga tidak merespon terkait pembuktian surat kepemilikan yang sah.

“Akhirnya kita laporan polisi atas permasalahan itu, beberapa minggu kemudian akhirnya dilakukan police line oleh pihak Polrestabes, tapi ternyata PT IPU tetap membandel memasang pagar itu, bahkan dengan leluasa menerobos garis polisi,” ungkap Yusuf.

“Garis polisi yang saya pikir bisa menghentikan kesewenang-wenangan mereka, ternyata masih begitu,” tandasnya yang mengaku memantau pekerjaan pendirian pagar tersebut. Yusuf berharap PT IPU bisa menghormati proses hukum. Selain itu, dia juga meminta pihak kepolisian bertindak tegas atas permasalahan itu.

Saat koran ini mencoba mendatangi kantor PT IPU di kawasan Puri Anjasmoro Semarang, juga tidak menemukan klarifikasi jawaban atas permasalahan itu. Koran ini hanya mejumpai satpam keamanan dan meminta untuk membuat janji terlebih dahulu dengan pimpinan PT IPU.

Perlu diketahui, tanah milik Siti Marwiyatun yang diserobot PT IPU merupakan tanah adat, yaitu Tanah Yasan sebagaimana bukti Buku C Desa Nomor: 166, No. Persil: 1 a, Kelas Desa: D1, Luas 3.400 M2. Tanah Yasan sebagaimana bukti Buku C Desa Nomor: 1049, Kelas S-IV luas ± 10.640 M2. Serta Tanah Yasan sebagaimana bukti Buku C Desa Nomor: 257 Persil 68, kelas D.IV luas ± 10.800M2. (jks/zal)