Pamerkan Esksitensi Tari

588
MERIAH: Pentas bareng 10 sanggar di Museum Ranggawarsito berlangsung sangat meriah. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MERIAH: Pentas bareng 10 sanggar di Museum Ranggawarsito berlangsung sangat meriah. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Sebanyak 10 sanggar tari di Jateng menggelar pentas bareng di Museum Ranggawarsita Semarang, Sabtu (20/5). Terhitung ada 22 tari yang dibawakan lebih dari 400 penari malam itu. Seperti  Tari Batik Troso, Tari Lengger, Tari Laskar Giri Bibi, Tari Topeng, dan hingga Tari Lurik sebagai pungkasan.

Di awal acara, lima praktisi seni tradisional, yakni Yoyok Bambang Piyambodo, S Parmadi, Iwan Dadijono, Eko Supendi, dan Hery Suwarto melakukan Manembah atau Umbul Dongo. Tarian alusan wujud doa itu tampak eksotis diiringi gending Jawa. Setelah itu, baru tarian dari sanggar-sanggar muncul untuk menghibur pengunjung yang memadati tempat acara.

Yoyok yang juga pengasuh Sanggar Greget menjelaskan, penampilan bersama sejumlah sanggar tari di Jateng ini merupakan hasil dari forum tari tradisional yang digelar di Solo, beberapa waktu lalu. “Kami sepakat, akan menggelar tari bersama untuk mendongkrak kembali popularitas tari tradisional. Sementara ini masih tiga bulanan, digelar keliling beberapa kota di Jateng,” ucapnya.

Selain Sanggar Greget, ada juga Studio Taksu Surakarta, Abdi Laras Kanupaten Batang, Kembang Lawu Kabupaten Karanganyar, Satria Kabupaten Wonosobo, Rama Wijaya Kota Salatiga, Sekar Rinonce Kota Salatiga, Kalamangsa Kabupaten Banyumas, Pasopati Kabupaten Boyolali, dan Iromo Turungso Kabupaten Magelang. Sebagai pemungkas pentas, disuguhkan Tari Lurik yang dibawakan 11 penari senior dari Sanggar Greget. Pertunjukan itu tampak sasngat atraktif karena menggunakan  kain lurik sepanjang 15 meter sebagai perlengkapan tari.

Sementara itu, praktisi seni tari dari ISI Surakarta yang ikut terlibat dalam pentas tersebut, S Parmadi mengaku merasa bangga sejumlah sanggar bisa tampil bersama di satu panggung. Sebab, dia merasa selama ini banyak pemilik sanggar yang masih egois memikirkan diri mereka sendiri.

“Bahkan ada yang saling menjelekkan satu sama lain. Nah, kalau bisa tampil bersama seperti ini kan bagus. Menjadi ajang silaturahmi dan komunikasi antar sanggar,” terangnya.

Staf Pengajar Tari ISI DIJ, Iwan Dadijono mengapresiasi pentas tari bersama ini. Menurutnya, selama ini sejumlah sanggar di Jateng masih butuh tempat dan waktu untuk berekspresi. Sehingga, ketika diberi kesempatan, mereka akan tampil semaksimal mungkin. Dia berharap, forum antar sanggar di Jateng ini bisa terus berlangsung. “Terserah mau pentas bareng berapa bulan sekali. Yang penting bisa berkarya bersama dengan mementaskan apa yang mereka punya,” harapnya. (amh)