Syiar agama Islam di kompleks lokalisasi tentu tidak mudah. Termasuk apa yang dilakukan para imam dan pengurus masjid di kompleks pelacuran ini.

TAK banyak yang tahu tentang perjuangan seorang pengurus masjid dalam mempertahankan tegaknya ajaran Islam di kompleks lokalisasi. Seperti yang dialami Muhammad Arif, 35, warga Dusun Tegal Rejo Desa Jatijajar, Kecamatan Bergas. Kesehariannya, selain mengurus toko di rumahnya, Arif menjadi imam sekaligus takmir Masjid Al Madina Dusun Tegal Rejo Desa Jatijajar Kecamatan Bergas, tak jauh dari kompleks Lokalisasi Tegal Panas.

Saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di kediamannya yang hanya berjarak kurang dari 3 meter dari lokasi masjid, Arif menceritakan, perjalanannya dalam menegakkan ajaran Islam di wilayah tersebut. Masjid Al Madina dibangun oleh orangtua Arif pada 2007. Pada tahun itu, ia masih mendalami ilmu agama di Universitas Darul Musthofa Yaman.

Dikatakannya, saat awal pendirian masjid tersebut banyak timbul pertentangan dari warga setempat, terutama penghuni Lokalisasi Tegal Panas. Banyaknya pertentangan itu bisa dimaklumi. Sebab, lokasi Masjid Al Madina hanya 1 meter atau persis bersebelahan dengan Lokalisasi Tegal Panas.

“Sebelum pendirian, orangtua meminta pendapat saya. Menurut saya dari kaidah fiqih, kalau di tempat tersebut belum ada masjid yang dekat dengan permukiman, maka boleh didirikan,” ujarnya, Sabtu (20/5).

Karena  dusun tersebut jauh dari masjid, akhirnya niat mendirikan masjid pun diwujudkan. Namun halangan kembali ditemui oleh orangtua Arif saat meminta persetujuan warga setempat. “Banyak yang tidak setuju. Untung aturannya jika lebih dari 50 persen dari jumlah penduduk warga menyepakati, maka boleh didirikan. Dan karena yang menyepakati lebih 50 persen, maka masjid bisa didirikan,” katanya.

Pembangunan masjid hanya butuh waktu setahun. Pada 2006 dimulai pembangunan, dan pada 2007 masjid sudah berdiri. “Dari situ dimulai perjuangan kita menegakkan ajaran Islam di lingkungan seperti ini,” ujar pria yang juga lulusan Pondok Pesantren di Temboro, Jawa Timur ini.

Ilmu agama Islam yang dipelajari sejak 1997 hingga 2005 di Ponpes Temboro dan 2005 hingga 2008 di Universitas Darul Mustofa Yaman menjadi bekal dirinya untuk memberikan pembelajaran akhlak di lingkungan tempat tinggalnya saat ini. “Sepulang dari Yaman sebenarnya saya diminta untuk mengajar di pondok saya dulu. Namun orangtua saya takut jika saya kembali ke sana, masjid ini tidak ada yang mengurusi. Akhirnya, saya kembali ke sini untuk mengurus masjid,” katanya.

Perjuangannya dalam mengajarkan ilmu agama di lingkungan yang sangat dekat dengan kompleks lokalisasi ini dimulai dengan mengkader 17 pemuda setempat. Ke-17 pemuda tersebut diberikan ilmu agama berbekal pengalamannya selama di ponpes. “Namun dari 17 orang itu yang bertahan hanya 8 orang. Yang lainnya ada yang kembali ke kehidupan lokalisasi, karena merasa tidak kuat,” ujarnya.

Sisa delapan pemuda tersebut ia ajari ilmu agama hingga dua tahun lamanya. Arif berharap, bersama delapan pemuda tersebut, perjuangannya untuk menegakkan ajaran Islam di lingkungan tersebut dapat berjalan dengan baik. “Hingga kini delapan orang itu masih berjuang bersama saya, dan ikut mengurusi masjid,” katanya.

Lambat laun, lanjut Arif, sejak didirikan masjid tersebut, jumlah jamaah semakin bertambah. Selain jamaah dari lingkungan sekitar, juga dari luar Dusun Tegal Rejo. Sampai sekarang jumlah jamaah saat salat Jumat hingga mencapai 200 orang lebih.

Perjuangannya tidak berhenti di situ saja. Anak-anak yang juga warga lokalisasi perlahan-lahan ia rangkul. Melalui aktivitas mengaji setiap sore hari di masjid tersebut. “Tidak hanya (anak-anak), warga lokalisasi saja, namun juga warga dusun yang lain,” ujarnya.

Namanya perjuangan pasti ada pula hambatannya. Arif mendapat kendala ketika waktu awal mengajak anak-anak kecil mengaji. Hambatannya yakni pertentangan dari sebagian besar orang tua mereka. Di mana sebagian besar merupakan penghuni lokalisasi. “Ada yang memperbolehkan ikut mengaji, namun tak sedikit yang melarang anaknya,” katanya.

Hal itu tampaknya tidak menjadi halangan buat dirinya untuk terus menyampaikan ajaran Islam. “Sampai sekarang jumlahnya (anak-anak) berapa saya lupa, sekitar puluhan kalau tidak salah,” tuturnya.

Uniknya, aktivitas mengaji di masjid tersebut juga menyedot para pekerja seks komersial (PSK) penghuni lokalisasi. Sejak didirikan, tidak sedikit dari para PSK yang ikut salat berjamaah di masjid tersebut. Para PSK itu beranggapan jika semakin banyak mengerjakan salat, maka akan ada banyak pelanggan yang menggunakan jasanya.

“Ada pula yang ikut berjamaah hanya ingin banyak pelanggan yang datang. Pokoknya macem-macem,” tuturnya.

Dikatakannya, ia tidak akan memaksa setiap penghuni lokalisasi untuk ikut meramaikan masjid dengan salat berjamaah. “Saya hanya ingin berbuat baik, dan kalau mereka tertarik ke kehidupan normal, ikut saja tidak apa-apa,” katanya.

Hal senada dialami Muhammad Rosman,  takmir sekaligus Imam Musala Sabilunnajah tak jauh dari kompleks lokalisasi Gambilangu (GBL) Mangkang Kulon, Tugu, Semarang. Pria yang akrab disapa Rosmani ini mengaku gampang-gampang susah untuk melakukan syiar agama Islam di kompleks lokaliasi. Banyak cibiran dari orang-orang sekitar bahkan ada pula yang tidak senang.  Namun tak sedikit juga yang mendukung. Pria asal Comal Pemalang ini mengaku sudah tinggal di lingkungan setempat sejak dirinya muda.

“ Saat ini umur saya 46 tahun, dulu memang susah untuk syiar Islam, namun lambat laun akhirnya tempat ibadah ini diterima, bahkan banyak yang mendukung dan jamaahnya lamayan banyak,” ujarnya.

Meski bisa dibilang sangat berat, lanjut pria, yang berprofesi sebagai guru agama Islam di salah satu sekolah swasta ini,  jika menyebarkan kebaikan ataupun agama memang punya tantangan tersendiri. Namun Rosmani memilih menyikapinya dengan baik pula, dan menganggap apa yang dialami saat ini masih kalah berat saat Nabi Muhammad SAW melakukan syiar.

“Saya lebih memilih menjadi contoh yang baik, jadi tidak perlu gembar-gembor ataupun melakukannya dengan keras. Yang saya lakukan adalah memberikan contoh tingkah laku yang baik, bekerja yang baik pula, dan tetap membaur,” tutur pria yang tinggal di rumah sederhana yang berjarak sekitar 5 meter dari musala.

Saat ditanya apakah ada penghuni lokalisasi yang sengaja menemui dirinya untuk belajar agama atapun belajar membaca Alquran, bertobat dan lainnya? Rosmani hanya tersenyum kecil. Ia menerangkan, ada dua tipe manusia yang bekerja di Lokalisasi GBL, yakni karena terpaksa dan desakan ekonomi, dan yang kedua memang karena watak dan enggan berusaha untuk bekerja.

“Belum ada yang datang ke sini untuk belajar agama, saya rasa mereka juga bisa membaca kitab suci dan ngerti agama, dan ngerti pula yang mereka lakukan salah. Namun karena alasan tertentu, mereka harus terjun ke dunia hitam, mungkin dengan alasan keluarga, himpitan ekonomi atau yang lainnya, yang terpenting adalah mereka nantinya punya niatan untuk bertobat,” katanya.

Dalam melakukan syiar agama, Rosmani lebih memilih cara yang lentur dan tidak kaku. Dia meniru apa yang dilakukan Walisongo, yakni memliki kharisma, memberikan simpatik dam nantinya akan membuat orang akan tertarik. “ Ajaklah orang ke jalan Allah dengan jalan yang baik dan cara yang baik pula,” ujarnya.

Rosmani mengaku, cobaan terberat adalah harus sabar dan menahan diri ketika ada orang yang tidak senang mencerca atapun memfitnah. “ Allhamdulillah selama 10 tahun terakhir sudah banyak perubahan, warga lokaliasi sudah bisa tahu mana yang harus diikuti mana yang tidak. Saat ini pun sudah banyak jamaah yang datang ke musala. Kesadaran untuk beribadah pun cukup tinggi,” katanya. (ewb/den/aro)