Oleh: Dra Sri Supanti MPd
Oleh: Dra Sri Supanti MPd

KETIDAKMAMPUAN guru menulis dan memublikasikan karya ilmiah ditengarai akibat budaya kerja guru yang lebih berorientasi pada wicara daripada menulis. Akibatnya, pengembangan profesi guru yang diidam-idamkan belum berjalan optimal. Indikatornya, capaian guru pada golongan pangkat IVb ke atas selama ini masih amat sedikit jumlahnya.

Perubahan regulasi pun membuat area kemacetan itu makin melebar saja. Ketika masih berpedoman pada Keputusan Menpan Nomor 84 Tahun 1993 serta Keputusan Bersama Mendikbud dan Kepala BAKN Nomor 0433/P/1993, dominasi kemacetan ada di golongan IVa. Kini dengan berlakunya Peraturan Menteri PAN dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009, sinyal deret guru yang tertahan di golongan IIIb pun mulai terasa.  Pasalnya, peraturan tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya yang merupakan kegiatan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) itu mengatur bahwa Guru Pertama (golongan IIIa-IIIb) yang akan naik pangkat ke Guru Muda (golongan IIIc) juga wajib membuat Publikasi Ilmiah (PI).

Memaknai Keberlanjutan

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan budaya kerja berbasis wicara untuk guru yang tupoksinya mengajar di depan kelas. Yang jadi masalah adalah ketika guru terjebak pada rutinitas tupoksinya itu tanpa memperhatikan pengembangan keprofesiannya. Dan itulah yang sering terjadi selama ini. Banyak guru yang sama sekali tidak pernah menulis karya ilmiah selama menjalani karir keguruannya. Mereka selalu ragu, gamang, dan tak punya cukup keberanian untuk menapaki aktivitas kepenulisan. Akhirnya, prestasi mereka cuma diperoleh melalui pengumpulan angka kredit dari kegiatan mengajar. Sementara credit point dari penulisan dan publikasi ilmiah kosong belaka.

Memang berat mengurus PAK (Penetapan Angka Kredit) dengan kekosongan PI. Tentunya penulis pun pernah mengalami masa-masa kosong seperti itu. Penulis kemudian mulai mengisinya dengan mengintegrasikan semua kegiatan guru. Kegiatan berwicara, membimbing, melatih, membaca, menilai, menulis, mencatat keluhan siswa, semua itu penulis sikapi sebagai kesatuan tugas yang utuh. Demikian juga keikutsertaan penulis dalam pelatihan pembuatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), Karya Tulis Ilmiah (KTI), Artikel Jurnal Ilmiah, Tulisan Ilmiah Populer, dan Karya Inovatif, masing-masing tidak dipandang sebagai kegiatan yang berdiri sendiri.

Rantai kegiatan itu meneguhkan penulis bahwa pembuatan PTK, KTI, atau artikel akan semakin mudah dilakukan bila kita punya kepedulian yang cukup baik pada data-data program bimbingan sekolah, ungkapan keluhan siswa, atau informasi seputar pembelajaran lainnya. Lalu melanjutkannya menjadi topik penelitian atau penulisan ilmiah.

Kegiatan berwicara yang dilakukan sambil menulis catatan dan diintegrasikan dengan teks-teks buku bacaan guna mendapatkan acuan ilmiahnya telah membekali penulis untuk berani mencoba membuat publikasi ilmiah. Bagi penulis, membaca adalah sebuah cara untuk memasukkan dan memperkaya panduan kosa kata ke dalam diri.

Membaca banyak buku yang beragam, membuat kekayaan kosa kata kita jadi kian beragam pula. Apalagi bila sesudah selesai membaca kita coba menuliskan catatan-catatan kecil yang merupakan hasil pembacaan tersebut secara bebas. Kegiatan menulis akan terasa lancar, dan catatan yang kita miliki lama kelamaan bisa selengkap dokumen.

Penulis telah merasakan berapa dahsyatnya memadukan kegiatan membaca dan menulis itu secara bersamaan. Kegiatan tersebut jadi sangat menyenangkan, karena membaca akan membantu kemudahan menulis dan menulis itu sendiri akan mengefektifkan kegiatan membaca. (*/aro)