SMS Penipuan Masih Marak

OJK Terima Belasan Ribu Aduan

866

SEMARANG – Dalam kurun waktu kurang dari sebulan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menerima sekitar 12 ribu pengaduan mengenai praktik pidana penipuan melalui SMS. Pemblokiran rekening telah dilakukan sebagai tindak lanjut pengaduan.

Kepala Departemen Perlindungan Konsumen OJK Anto Prabowo mengatakan, belakangan marak beredar SMS meresahkan di masyarakat. Diantaranya berisikan instruksi untuk mentransfer sejumlah dana ke nomor rekening tertentu. “Menanggapi hal ini kami luncurkan layanan ‘financial costumer care’ pada 25 April lalu. Melalui layanan ini kami terima sekitar 12 ribu laporan,” ungkapnya, kemarin.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 6.461 aduan mencantumkan nomor rekening dan nama pelaku dari SMS yang beredar. Terkait hal ini pihaknya telah menindaklanjuti. Yaitu bekerja sama dengan bank terkait untuk memvalidasi dan menganalisis pola rekening tersebut. “Akan dilakukan penutupan sementara terhadap rekening yang bersangkutan untuk mencegah kerugian masyarakat,” tambahnya.

Sementara terhadap masyarakat yang terlanjut menjadi korban karena telah mentransfer sejumlah uang, ia mengatakan dana tersebut masih bisa diupayakan kembali jika segera dilaporkan. “Untuk yang sudah terlanjut transfer akan dilihat apakah dana tersebut sudah keluar atau belum. Kalau belum, bisa dikembalikan dalam jangka waktu 5 hari,” ujarnya.

Ke depan, pihaknya juga akan bekerjasama dengan pihak provider untuk menganalisa pengguna nomor-nomor yang digunakan untuk menyebar SMS meresahkan tersebut.

Ia menambahkan, selain tindak penipuan dengan memanfaatkan SMS, OJK juga menginventarisasi pengaduan konsumen terkait kejahatan yang memanfaatkan layanan internet atau financial cyber crime. Hal ini cukup penting mengingat terus tumbuhnya nasabah yang menggunakan layanan e-banking.

“Dalam empat tahun terakhir telah terjadi lonjakan pengguna “e-banking” hingga 271 persen. Oleh karena itu perlu kita antisipasi kejahatan di sektor ini, karena tindak kejahatan jenis ini tidak hanya menimbulkan kerugian cukup besar dari aspek finansial, namun juga reputasi industri keuangan,” jelasnya. (dna/smu)