Pisahkan Sampah Organik, Anorganik, dan Logam

Tiga Siswa SMKN 7 Semarang Rancang Aplikasi Pengelolaan Sampah

991
APLIKASI SAMPAH: Siswa SMK N 7 Semarang merancang aplikasi pengelolaan sampah terpadu di perkotaan secara efektif dan efisien. (ADENNYAR WYCAKSONO / JAWA POS RADAR SEMARANG)
APLIKASI SAMPAH: Siswa SMK N 7 Semarang merancang aplikasi pengelolaan sampah terpadu di perkotaan secara efektif dan efisien. (ADENNYAR WYCAKSONO / JAWA POS RADAR SEMARANG)

Tiga siswa SMK Negeri 7 Semarang merancang sistem aplikasi pengelolaan sampah terpadu di perkotaan secara efektif dan efisien. Sebab, saat ini proses pengangkutan sampah yang dilakukan belum dilakukan pemilahan. Seperti apa?

ADENNYAR WYCAKSONO

PROSES pengangkutan sampah di Kota Semarang saat ini bisa dibilang belum tertata dengan rapi, bahkan sebagai ibu kota provinsi sistem pengangkutan dan pengolahan sampah belum modern, dan tertinggal dengan kota lainnya.

“Selama ini proses pengangkutannya tidak dipilah, contohnya saja sampah organik, anorganik dan logam masih diangkut jadi satu. Akibatnya menyulitkan dalam pengolahan,” kata Bella Rachma, siswi SMK Negeri 7 Semarang.

Meski sudah ada pemisahan jenis sampah di sejumlah titik untuk membedakan tempat sampah organik dan anorganik agar tidak saling bercampur satu sama lain, ternyata belum maksimal. Pasalnya saat sampai  tempat pembuangan akhir (TPA), kata dia, sampah-sampah yang masuk ternyata dipilah-pilah lagi sehingga sebenarnya pengangkutan sampah yang berjalan selama ini tidak efektif.

“Kami coba menciptakan aplikasi yang memudahkan pola pengangkutan sampah di kawasan perkotaan, termasuk Semarang,” tuturnya.

Bersama dua temannya, Aulia Hapsari dan Muhamad Najib, ia pun merancang sistem aplikasi pengelolaan sampah terpadu.

Ia menjelaskan, jika pola tersebut harus dilakukan secara mendasar, yakni  truk-truk yang mengangkut sampah harus dibedakan terlebih dahulu, truk mana yang harus mengangkut sampah organik, mana anorganik, dan mana sampah logam. “Jadi, pengambilannya tidak dicampur,” jelasnya.

Untuk memudahkan dalam pengangkutan, lanjut dia, setiap tempat sampah yang ada harus dipasangi sebuah alat yang berfungsi untuk mengukur volume ketinggian sampah yang akan memberitahukan jika sampah sudah menumpuk di atas batas.

“Alat ini bekerja dengan deteksi ultrasonik yang  dilengkapi dengan Radio Frequency Identification (RFID) plus monitor dan ditempatkan atau dipasang di truk-truk pengangkut sampah,” ujarnya.

Setelah alat pendektsi dipasang, nantinya begitu ada tumpukan sampah di satu titik akan langsung mengirimkan sinyal ke truk-truk sampah yang memudahkan tanpa harus mengecek satu per satu tempat sampah. Sistem yang mereka buat sendiri ini sekaligus harus membuat jalur pengambilan sampah yang memisahkan sampah organik, anorganik, dan logam, sehingga memudahkan dalam pengelolaannya.

“Bisa dibilang, aplikasi ini hampir sama dengan aplikasi Go-Jek. Perkiraan kami, untuk membuat satu alat itu membutuhkan tidak sampai Rp 1 juta. Saat ini alatnya masih prototipe, namun kami yakin bisa dikembangkan lagi,” kata Aulia Hapsari.

Menurutnya, jika prototipe tersebut bisa diangkat dan dikembangkan, proses pengangkutan hingga pemilihan sampah akan lebih mudah dan cepat. Karena saat tiba di TPA, tidak lagi dilakukan proses pemilihan sampah saat akan diolah. “Kami berharap prototipe ini bisa dikembangkan pemerintah, untuk membantu sistem pengangkutan dan pengangkutan sampah,” ujar Aulia yang diamini dua siswa lain  yang mengambil Program Studi Teknik Elektronika Industri (TEI) SMK Negeri 7 Semarang ini. (*/aro)