Didirikan Pastor, selalu Jaga Kebinekaan

Mengenal Yayasan Sosial Wikrama Putra Semarang

417
BANTUAN: Aloysius Untung Sudono (paling kanan) saat menerima bantuan dari Ketua Umum CEO Izmir Putra didampingi Ketua Dewan Pembina CEO Regional Jateng, Ignatia Sulistya Hartanti di Kampung Laut, Semarang. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BANTUAN: Aloysius Untung Sudono (paling kanan) saat menerima bantuan dari Ketua Umum CEO Izmir Putra didampingi Ketua Dewan Pembina CEO Regional Jateng, Ignatia Sulistya Hartanti di Kampung Laut, Semarang. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Menjaga kebinekaan selalu dipegang oleh pengelola Yayasan Sosial Wikrama Putra Semarang. Puluhan anak yatim dari berbagai latar belakang agama menghuni panti sosial ini. Seperti apa?

JOKO SUSANTO

YAYASAN Sosial Wikrama Putra Semarang terletak di Jalan Wismasari Selatan 5, Ngaliyan, Semarang.  Saat ini, anak asuh di panti sosial ini sebanyak 64 anak. Mereka berasal dari Indonesia Timur, Sumatera, Flores hingga warga keturunan Tionghoa.

Ketua Yayasan Sosial Wikrama Putra Semarang, Aloysius Untung Sudono, mengatakan, yayasan yang dipimpinnya berdiri pada 1967. Pendirinya Pastor Mr HC Van Diense SJ, Arsts, warga negara Belanda, yang telah resmi menjadi warga negara Indonesia (WNI).

Saat itu, Van Diense bekerja sebagai seorang seniman dan guru di SMA Loyola Semarang. Meski bukan warga asli Indonesia, Van Diense memiliki cita-cita luhur untuk menjaga kebinekaan yang diwujudkannya dengan mendirikan yayasan bagi anak yatim piatu.

”Pendirian yayasan ini merupakan bentuk keprihatinan Van Diense terhadap banyaknya anak-anak di bawah umur yang mencari puntung rokok untuk dijual di masa itu,” cerita Untung kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Saat awal pendirian, diakuinya, belum berwujud yayasan. Sebab, Van Diense hanya berkeinginan merawat anak-anak kurang beruntung tersebut. ”Awalnya hanya 5 anak. Bahkan waktu itu, sebagian ada yang kabur karena ketakutan. Tahun 1968 mulai ada yang menetap, dan perlahan dijadikan yayasan,” bebernya.

Di yayasan itu, anak-anak diajari cara bercocok tanam, mengolah tanah, beternak, dan menjadi tukang. Sebab, menurut Van Diense, itulah bekal hidup seseorang dalam memasuki dunia kerja.

”Dari tahun ke tahun, anak asuhnya semakin banyak. Akhirnya, ada kelompok pemuda yang gabung untuk membantu. Nanti kalau anaknya sudah dinyatakan selesai dan lulus, ada juga yang ikut transmigrasi,” ungkapnya.

Untung mengakui, meski yayasannya didirikan oleh seorang pastor, namun tidak dibatasi harus beragama Katolik. Melainkan semua agama bebas tinggal di yayasannya. Menurutnya, sejak Van Diense mendirikan yayasan tersebut, memang selalu menanamkan dan menjaga kebinekaan.

”Kita ndak ada batasan, dulu saat Van Diense masih hidup, ada anak asuh yang beragama muslim. Awalnya ndak salat Jumat, alasannya ndak punya sarung, kemudian dibelikan sarung. Kalau malas berangkat, akan diantar pakai vespa, bahkan ditungguin di dekat masjid. Saya ingat betul itu vespa buatan 1962,” kenangnya.

Untung sendiri mengaku pernah mendapat cerita langsung dari Van Diense, saat kali pertama pendahulunya tersebut resmi menjadi warga negara Indonesia, yakni saat diminta Presiden Soekarno untuk menghibur kedatangan Ratu Juliana, saat itu Van Diense bersama rombongan siswanya, SMA Loyola, mengisi pertunjukan aransemen musik, karena banyak pejabat dan Soekarno sendiri kagum, usai acara Soekarno menawarkan hadiah. Dia menawarkan permintaan apa yang diinginkan Van Diense. Dengan penuh makna, Van Diense hanya meminta dijadikan sebagai warga negara Indonesia, akhirnya dikabulkan.

Bahkan dari cerita yang dipeolehnya, saat itu merupakan masa sulit, untuk makan sehari-hari saja susah, apalagi Van Diense awalnya warga asing. Namun tekadnya yang kuat peduli terhadap anak-anak kurang mampu, selalu ada jalan.

”Masa sulit di tahun itu, jadi ndak harus makan nasi, waktu itu seringnya makan nasi jagung sama bulgor. Kemudian mulai 1970 situasi negara semakin tenang dan damai, akhirnya berangsur membaik,” jelasnya.

Saat kepemimpinan Presiden Soeharto, kondisi yayasan semakin baik. Sebab, saat itu Soeharto sangat memperhatikan sektor pertanian dan perternakan. Sehingga benar-benar bisa dirasakan menolong masyarakat kecil. Untung mengaku sebagai generasi ketiga sebagai pengurus yayasan tersebut. Setelah Van Diense wafat pada 1985, dilanjutkan Romo Sugondo, dan sekarang dirinya.

”Kami mengutamakan anak-anak asuh kami harus bersekolah, bagaimanapun masa depan tanpa sekolah tidak mantap,” tandasnya.

Seluruh anak asuhnya, diakui Untung, semua bukan rekrutmen dirinya melainkan orang-orang yang datang langsung ke yayasannya, kemudian menitipkan anaknya. Bahkan ada juga anak lahir di luar nikah, kemudian dititipkan, bahkan sebagian belum kenal agama, karena masih kecil-kecil.

”Kalau sudah cukup umur, kita kasih kebebasan anak untuk memilih agamanya, tapi memang kebanyakan anak di tempat kami usia balita, SD, SMP dan SMA, dari alumni yang sudah di sini kebanyakan agama Islam, Kristen dan Katolik,” ungkapnya.

Ia mengaku bangga, karena puluhan mantan anak asuhnya kini telah berumah tangga, serta ada yang sudah transmigrasi. Tak sedikit, ada yang sudah menuai kesuksesan.

”Saya buat kader-kader agar ada penerus yayasan ini. Kami juga ndak pernah membatasi agama, jadi bebas. Kalau ada undangan khitanan masal, kami juga sering ikut,” sebutnya. (*/aro/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here