SMP Selalu Ranking, Kini Hanya Bisa Duduk di Rumah

Wahyu Tri Pujiati, Difabel Pintar yang Terhenti Sekolahnya Karena Kemiskinan

265
SUDAH SESAK: Mujiono dan Ningsih bersama anaknya, Wahyu, menemui Serda Sujarwo, Bintara Pembina Desa (Babinsa) Selomerto. (ZAIN ZAINUDIN/JAWA POS RADAR KEDU)
SUDAH SESAK: Mujiono dan Ningsih bersama anaknya, Wahyu, menemui Serda Sujarwo, Bintara Pembina Desa (Babinsa) Selomerto. (ZAIN ZAINUDIN/JAWA POS RADAR KEDU)

Wahyu Tri Pujiati, 18, remaja asal Dukuh Diwek, Desa Kaliputih, Kecamatan Selomerto, Wonosobo, hanya bisa duduk memandangi pelajar SMA yang lalu lalang di depan rumahnya. Mimpi besarnya menjadi perempuan sukses, terkendala kemiskinan yang membelit keluarganya.

ZAIN ZAINUDIN, Wonosobo

GADIS berhijab itu tampak murung. Sudah seharian ini, ia duduk di kursi lusuh rumahnya, ditemani ayah dan ibunya. Wahyu—demikian gadis pintar ini biasa disapa—sejak kecil mengalami kelumpuhan. Ia tak bisa berdiri. Tulang punggungnya mengalami pembengkokan. Saban hari, Wahyu hanya bisa duduk. Tak lagi bisa bermain dengan teman sebayanya.

Padahal, Wahyu pribadi yang sangat cerdas. Cita-citanya, ingin menjadi pelukis profesional. Ia juga ingin jadi penyulam andal. Untuk mengusir kejenuhannya, Wahyu menyibukkan diri dengan melukis, menenun, dan menulis. Hanya saja, ia belum memiliki guru private.

Di balik keterbatasan fisiknya, gadis yang hobi nyanyi ini, memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Ia juga memiliki bakat berkesenian yang cukup potensial. Saat dikunjungi jajaran perwira Kodim 0707/Wonosobo dan Koramil Selomerto, Jumat (19/5) kemarin, Wahyu tak malu menunjukkan kemampuannya bernyanyi.

Kecerdasan dan kemampuan olah vokal putri bungsu pasangan suami-istri Mujiono, 54; dan Ningsih, 47 itu, sudah tampak ketika sekolah dasar. “Masuk ke SD, langsung kelas 2, karena menurut guru-gurunya kemampuan berpikir Wahyu sudah melebihi anak kelas 1,” tutur Ningsih.

Karena semangat putrinya untuk menuntut ilmu begitu tinggi, Ningsih rela menggendong putrinya menuju ke sekolah, setiap hari, saat berangkat dan pulang sekolah. Bahkan hingga Wahyu masuk ke jenjang Sekolah Menengah Pertama, di SMP PGRI Balekambang.

Jarak yang cukup jauh dari rumah ke sekolah, tak menyurutkan semangat Ningsih untuk mengantar sang anak, demi melihat anaknya menjadi orang sukses, melebihi orangtuanya.

Hal itu melecutkan semangat Wahyu untuk menunjukkan diri bahwa ia mampu berprestasi. Saat masih SMP, Wahyu mampu menyabet ranking pertama di kelas 1 dan 2. “Pada waktu kelas 3 prestasinya menurun, karena mungkin kelelahan akibat banyak les di luar jam pelajaran,” lanjut Ningsih.

Wahyu, ucap Ningsih, tidak tahan duduk terlalu lama akibat kondisi tulang belakangnya yang menurut dokter bengkok. Selepas SMP, Wahyu harus meredam keinginannya melanjutkan jenjang SMA. Mujiono, ayah Wahyu, mengaku tidak sanggup membiayai anaknya bersekolah di jenjang SMA.

Ningsih hanya berharap ada relawan yang mau mengajari keterampilan anaknya untuk mengisi kegiatan di rumah. “Wahyu sudah berapa kali tanya kalau mau nyulam harus belajar dengan siapa ya, Bu?” ucap Ningsih, menirukan permintaan putrinya. Mendengar pertanyaan Wahyu, Ningsih hanya bisa diam. Ia tak tahu harus mencari guru di mana untuk mengajari putrinya menyulam di rumah.

Kondisi Wahyu, mengundang keprihatinan Serda Sujarwo. Bintara Pembina Desa (Babinsa) Selomerto itu, kebetulan tengah mendapat tugas mendata anak-anak berkebutuhan khusus. “Waktu saya datang ke mari melaksanakan tugas pimpinan, Wahyu mengadukan keinginannya agar bisa dibantu sekolah lagi,” jelas Serda Sujarwo.

Komandan Kodim 0707 Wonosobo, Letkol CZI Dwi Hariyono mengaku akan berupaya mengusahakan Wahyu agar benar-benar bisa mengenyam pendidikan SMA. “Prinsipnya kami akan berupaya untuk menghubungi pihak-pihak terkait seperti Dinas Pendidikan Kabupaten, Dinasi Sosial, atau lembaga sosial lain untuk bisa membantu Wahyu,” tegas Dandim saat ditemui di Makodim 0707/Wonosobo. (*/isk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here