Warga Sambongsari Enggan Pindah

Ganti Rugi Tol Tak Sesuai Luas Lahan

578
ENGGAN PINDAH: Rumah Makmun Abdullah di Sambongsari belum diratakan lantaran nilai ganti rugi tak sesuai luasan tanah. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
ENGGAN PINDAH: Rumah Makmun Abdullah di Sambongsari belum diratakan lantaran nilai ganti rugi tak sesuai luasan tanah. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KENDAL—Tim Pembebasan Tanah (TPT) untuk proyek pembangunan tol Semarang-Batang dinilai teledor. Tim dinilai memberikan nilai ganti rugi yang tidak sesuai luasan tanah.

Seperti kasus yang dialami Makmun Abdullah, 75, warga Desa Sambongsari RT 1 RW IV Kecamatan Weleri Kendal. Tanahnya seluas 300 meter persegi, tapi ganti rugi yang diberikan hanya seluas 260 meter persegi. Sisanya 40 meter persegi tidak tercatat untuk diberi ganti rugi.

Akibatnya, Makmun sampai saat ini memilih bertahan dan enggan pindah dari rumahnya. Meskipun rumah tetangganya yang terkena proyek tol Semarang-Batang sudah diratakan menggunakan alat berat, Makmun tetap beraktivitas di rumahnya. Bahkan jembatan layang untuk tol Semarang Batang sudah berdiri di sebelah rumahnya.

Mbah Makmun, begitu ia akrab disapa oleh para tetanngga sekitar, mengaku tetap akan bertahan sebelum nilai ganti rugi yang diberikan sesuai dengan luasan tanah yang ada dalam sertifikatnya. Tidak hanya luasan tanah saja yang tidak sesuai nilai ganti ruginya. Ganti rugi untuk luas bangunan atas rumahnya juga berkurang 20 meter persegi. Lebih teledor, justru luasan tanah di sebelah timur rumahnya malah bertambah nilai ganti ruginya.

“Jadi tetangga saya itu menerima ganti rugi dengan nilai kelebihan tanah 30 meter persegi. Tapi milik saya bukannya bertambah, kok malah berkurang 40 meter persegi,” keluh Makmun, Kamis (18/5).

Makanya, Makmun bertekad ia tidak akan pindah dan tetap mempertahankan rumahnya. “Saya tidak menolak pembangunan tol atau nilai ganti rugi. Nilai ganti rugi sudah sesuai sama seperti lainnya. Saya menolak karena ganti rugi yang tidak sesuai dengan luas tanah,” tambahnya.

Ia mengaku sudah menanyakan hal tersebut ke perangkat desa terkait luas tanahnya yang berkurang. Namun jawaban dari pihak perangkat desa setempat, ia justru diminta mengajukan keberatan ke pengadilan. “Saya tanya kok malah suruh mengajukan gugatan ke Pengadilan,” akunya polos.

Kepala Desa Sambongsari Adi Gunawan mengaku sudah mengetahui hal itu. Ia menyarankan agar Mbah Makmun melakukan protes langsung ke Kantor Agraria dan Tata Ruang (ATR) atau Badan Pertanahan Negara (BPN) Kendal. “Atau bisa mengajukan protes ke Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Jalan Tol Batang-Semarang. Saya sudah menyarankan hal itu dan melengkapi dengan bukti-bukti yang dimiliki,” paparnya.

Sementara Kepala BPN Kendal, Hery Faturahman menjelaskan luas tanah ditentukan batas tanah dan batas tanah bisa saja berubah. Sedangkan hasil ukur yang ditetapkan sesuai batas tanah yang dipetakan terakhir.  “Kami juga tidak tahu batas tanah dulu sampai mana sebab bisa saja berubah sehingga yang digunakan batas tanah sesuai peta tol,” jelasnya

Walau demikian, pemilik bisa mengajukan permohonan pengukuran ulang dan hasilnya kemungkinan bisa berubah.  “Itu masalah teknis saja,  silakan ajukan komplain ulang ke bagian teknik dan bisa saja hasilnya berubah. Nanti akan kami lihat berkas-berkasnya dulu,” jelasnya. (bud)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here