Stasiun Bersejarah Jadi Gudang Tembakau

478
BERSEJARAH: Para mahasiswa jurusan sejarah Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Unnes Semarang saat mengunjungi eks bangunan Stasiun Parakan Temanggung, Kamis (18/5). (Ahsan fauzi/radar kedu)
BERSEJARAH: Para mahasiswa jurusan sejarah Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Unnes Semarang saat mengunjungi eks bangunan Stasiun Parakan Temanggung, Kamis (18/5). (Ahsan fauzi/radar kedu)

TEMANGGUNG- Stasiun Parakan Temanggung yang dibangun pada zaman kolonial Hindia Belanda mempunyai nilai historis dan strategis pada masanya. Stasiun tersebut beroperasi sejak tahun 1907 hingga 1973. Dari 1973 hingga sekarang stasiun tersebut sudah tidak berfungsi lagi.

“Saat ini, stasiun tersebut digunakan untuk gudang tembakau. Selain itu juga digunakan tempat tinggal beberapa warga,” ucap Sejarawan Parakan Sutrisno Murtiyoso saat menjadi narasumber seminar kesejarahan yang digelar mahasiswa Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Semarang (Unnes) di gedung eks Kawedanan Parakan, Kamis (18/5).

Ketua Lembaga Sejarah Arsitektur Indonesia (LSAI) itu membeber, pada masa kolonial, stasiun Parakan memiliki fasilitas lengkap. Meliputi gudang, dipo kereta api dan lokomotif. Di masa revolusi 1945-1950 stasiun Parakan memiliki peran sentral dalam terbentuknya Satuan Pelajar Temanggung yang terkenal dengan Barisan Pemuda Temanggung (BPT).

“Pada saat itu, diperuntukkan sebagai tempat pasokan alutsista bagi BPT. Selain itu, pada masa itu, stasiun banyak diperuntukkan untuk mengangkut komoditi-komoditi ekspor yang bisa menyebabkan pertumbuhan ekonomi di wilayah Parakan berkembang pesat,” ucapnya.

Pria yang kini menjadi Dosen Universitas Tarumanegara (Untar) Jakarta ini melanjutkan, pada era penjajahan Jepang, fungsi kereta lebih untuk kepentingan angkut penumpang, di samping juga tetap untuk mengangkut komoditi hasil bumi. Sedangkan pada masa kemerdekaan dimanfaatkan para pejuang seperti Laskar Hizbullah Parakan guna menghadapi upaya agresi militer Belanda di Jogjakarta.

Stasiun Parakan sempat dibumihanguskan oleh para pejuang sebagai taktik agar Belanda tidak mengusai objek-objek vital. Akibatnya, Stasiun Parakan sempat dipugar pada bagian atapnya pada tahun 1950. “Stasiun ini, masih ramai hingga tahun 1970-an, tak berselang lama pada tahun 1973 stasiun resmi ditutup seiring ditutupnya jalur dari Secang, karena penumpang yang turun drastis,” ucapnya.

Pegiat Cagar Budaya Jawa Tengah Widya Wijayanti menuturkan, stasiun Parakan bisa masuk dalam status bangunan cagar budaya. Mengingat, stasiun tersebut berusia lebih dari 50 tahun dan memiliki gaya suatu masa. “Jika dilihat dari arsitektur, bangunan eks Stasiun Parakan memiliki kombinasi gaya arsitektur antara gaya tradisional dan gaya kolonial Eropa,” jelasnya.

Didik Nuryanto dari Dinas Pariwisata Kabupaten Temanggung menuturkan, pada 2016, Kota Parakan ditetapkan sebagai Kota Pusaka. Salah satu yang ditonjolkan adalah eks bangunan Stasiun Parakan. “Kami juga telah mengusulkan kepada pemerintah pusat melalui Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan bahwa eks Bangunan Stasiun Parakan bisa ditetapkan lewat SK (Surat Keputusan) menjadi cagar budaya,” ungkapnya. (san/ton)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here