Pesona Kampung Pelangi Masih 50 Persen

170
BERBENAH: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi meninjau pembangunan kawasan kampung pelangi di Wonosari, Kelurahan Randusari, saat jalan sehat, Kamis (18/5). (Humas Pemkot for Jawa Pos Radar Semarang)
BERBENAH: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi meninjau pembangunan kawasan kampung pelangi di Wonosari, Kelurahan Randusari, saat jalan sehat, Kamis (18/5). (Humas Pemkot for Jawa Pos Radar Semarang)

SEMARANG – Kampung Pelangi di Kelurahan Randusari, Kecamatan Semarang Selatan, belakangan ini menjadi sorotan publik. Salah satunya berbagai pose foto selfie anak-anak muda yang kemudian diunggah di social media (socmed) sempat menjadi viral. Itu pula yang membuat branding Kampung Pelangi ini cepat terkenal.

Bahkan tidak hanya di lingkup nasional, tetapi berbagai media besar internasional membincang sensasi perkampungan yang sebelumnya bernama Kampung Gunung Brintik ini.

Pembangunan Kampung Pelangi ini sebenarnya belum sepenuhnya tuntas. Rumah warna-warni yang selama ini terlihat dan tersebar diperkirakan baru separonya, karena memang baru tahap pertama. Saat ini, ’penyulapan’ tahap dua sedang dilanjutkan. Total keseluruhan nantinya ditargetkan sebanyak 325 rumah warna-warni.

”Tahap dua memerlukan waktu kurang lebih empat minggu ke depan, seluruh luasan Kampung Gunung Brintik ini semuanya menjadi Kampung Pelangi,” kata Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, di sela jalan sehat bersama warga Kampung Pelangi, Kamis (18/5).

Dikatakannya, Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang masih terus melakukan sejumlah program pembangunan untuk mendukung keberadaan Kampung Pelangi.

”Tahun ini kami menganggarkan Rp 16 miliar untuk menata saluran atau drainase sungai yang terletak di depan Kampung Pelangi. Drainase tersebut akan dibuat rapi dan dibuat jalur pedestarian atau jalan inspeksi di belakang Pasar Kembang. Sehingga wisatawan bisa jalan-jalan di sepanjang jalan inspeksi,” katanya.

Beberapa fasilitas lain juga akan dibuat, misalnya food court di lokasi yang sekarang ini digunakan sebagai bengkel, tak jauh dari Pasar Kembang. Selain itu juga akan dibuatkan tempat parkir. ”Hari ini (kemarin) sudah dilelangkan. Sesuai rencana, Desember mendatang Kampung Pelangi dan Pasar Kembang sudah akan lebih baik,” katanya.

Tidak hanya itu, lanjutnya, agar roda perekonomian warga di Kampung Pelangi bisa berputar, maka kegiatan warga setempat perlu disinergikan. Untuk itu, dalam waktu dekat Pemkot Semarang membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan kelompok Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Kampung Pelangi.

”Harus ada kegiatan berkelanjutan. Warga yang bertempat tinggal di Kampung Pelangi supaya membuat kreasi dan inovasi. Misalnya warga setempat bisa membuat suvenir unik dan khas. Mulai kaus, stiker, gantungan kunci, atau lainnya,” katanya.

Saat ini Kampung Pelangi sudah banyak dikunjungi wisatawan. Nah, jika warga mampu mengembangkan kreasi maupun wirausaha, diharapkan ini menumbuhkan perekonomian warga.

”Hampir 80 persen, warga di Kampung Pelangi bekerja di Pasar Kembang yang terletak di depan Kampung Pelangi. Sehingga diharapkan orang yang datang ke Pasar Kembang bisa diajak masuk jalan-jalan ke Kampung Pelangi. Mereka akan merasa mendapatkan pelayanan yang luar biasa,” katanya.

Lebih lanjut, kata Hendi, Kampung Pelangi ini merupakan salah satu program percontohan dengan konsep partisipatif. Berbagai pihak secara bersama-sama bergerak untuk membantu menjadikan kampung ini. Baik membantu dalam bentuk uang maupun tenaga. Mulai dari perbankan, perusahaan cat, pengusaha konstruksi, developer hingga masyarakat umum. ”Kalau ditotal keseluruhan diperkirakan Kampung Pelangi ini menghabiskan kurang lebih Rp 3 miliar,” katanya.

Padahal anggaran dari Pemkot Semarang sendiri hanya Rp 200 juta untuk tiap titik kampung tematik. Inilah, kata Hendi, perlunya bergerak bersama dalam membangun Kota Semarang. Begitu pun di setiap titik kampung tematik, bisa menghabiskan anggaran kurang lebih Rp 500 juta hingga Rp 800 juta.

”Anggaran yang disiapkan oleh pemerintah Rp 200 juta. Sisa kekurangannya dari mana? ya dari partisipatif itu. Masyarakat ikut terlibat, ikut berpartisipasi, sehingga program kampung tematik ini bisa berjalan,” katanya.

Pola pembangunan partisipatif ini akan terus dikembangkan. Bukan berarti Pemerintah Kota Semarang tidak mau mengeluarkan duit. Tapi, kata dia, APBD Kota Semarang dibandingkan dengan kota besar lain jumlahnya tertinggal. ”Kalau hanya mengandalkan APBD, maka pembangunan tidak akan bisa berjalan masif,” bebernya. (amu/zal/ce1)

Tinggalkan Komentar: