Pasutri Palsu Ajukan Kredit Fiktif

406
DIAMBIL SUMPAH: Para saksi dan terdakwa diambil sumpahnya dalam sidang perkara pembobolan kredit fiktif yang terjadi pada 11 kantor Unit BRI Kota Semarang di Pengadilan Negeri Semarang, kemarin. (Joko Susanto/Jawa Pos Radar Semarang)
DIAMBIL SUMPAH: Para saksi dan terdakwa diambil sumpahnya dalam sidang perkara pembobolan kredit fiktif yang terjadi pada 11 kantor Unit BRI Kota Semarang di Pengadilan Negeri Semarang, kemarin. (Joko Susanto/Jawa Pos Radar Semarang)

SEMARANG – Perkara pembobolan kredit fiktif yang terjadi pada 11 kantor Unit BRI di Kota Semarang mulai terkuak kebenarannya saat sidang pemeriksaan saksi dan terdakwa di Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Kamis (18/5). Pembobolan tersebut terjadi di 11 unit BRI yakni, unit Tanjung Mas, unit Johar, unit Penggaron, unit Abdurrahman Saleh, unit Majapahit, unit Semarang Timur, unit Semarang Barat, BRI Ngaliyan, unit Bangetayu, unit Pedurungan dan BRI unit Mrican.

Adapun terdakwa dalam kasus itu adalah, Iwan Prasetyawan Santoso, Mundhi Mahardani, M. Romadhon, Raden Tommy Miftakhurahman, Teguh Suryadi, Ragil Yudi Hermanto, Agus Tristanto alias Gepeng dan Eka Diana Rachmawati.

Saat diperiksa, Ragil juga mengaku, diminta Iwan menjadi pemohon kredit fiktif di dua unit kantor BRI. Salah satunya di Abdurrahman Saleh. Ia mengaku langsung disuruh Iwan datang ke bank untuk tanda tangan. Sedangkan uang yang diperolehnya Rp 60 juta langsung diberikan ke Iwan, kemudian Rp 3 juta diberikan jatah untuk dirinya.

Yang cukup mengejutkan adalah kesaksian, Mundhi dan Eka Diana, di mana keduanya berperan sebagai istri palsu Teguh dan Romadhon. ”Saya hanya dapat Rp 2 juta. Saya tahu itu bohongan,” kata Eka Diana saat dicecar majelis hakim yang dipimpin Bayu Isdiyantoko.

Sementara itu, saksi Agus mengaku menjadi pemohon fiktif di unit BRI Pedurungan. Ia mengatakan, syarat yang diajukan adalah fotokopi KTP, KK, Surat Keterangan Usaha, surat nikah dan jaminan sertifikat namun palsu.

”Di permohonan saya menjadi suami Eka Diana. Saya disuruh Iwan. Dana cair Rp 50 juta, kemudian dapat bagian Rp 3 juta. Diana Rp 2 juta, sisanya dibawa Iwan, tapi itu ide dari Iwan,” ungkapnya.

Terdakwa Iwan Prasetyawan juga mengaku, kalau ia adalah otak pembobolan. Ia juga yang memalsukan seluruh dokumen pengajuan kredit dan jaminan. Ia juga mengaku kalau sejumlah data tersebut memang dipalsukan, termasuk saling dipasangkan sebagai pasangan suami istri (pasutri) palsu.

”Ide muncul saat pertama ajukan kredit dengan KTP palsu dengan jaminan BPKP motor asli saya. Saya berpikir kok bisa. Lalu kepikiran mengajukannya (fiktif),” kata Iwan.

Terakhir adalah kesaksian, Raden Tommy. Ia mengaku yang berperan memalsukan seluruh dokumen dan 10 sertifikat hak milik yang dijaminkan kredit. Ia mengaku, 10 sertifikat tersebut dibuat tiga kali, karena diminta oleh Iwan, dan semuanya palsu. ”Blangko sertifikat dari kertas putih biasa yang discan. Soal lokasi sertifikat ditentukan Iwan, saya dapat fee Rp 9 juta,” ujarnya.

Perlu diketahui, atas pengajuan kredit fiktif di unit Tanjung Mas dicairkan Rp 25 juta, Johar dua kali Rp 25 juta dan Rp 10 juta, unit Penggaron Rp 50 juta,  unit Abdurrahman Saleh dua kali Rp 50 juta, unit Majapahit Rp 50 juta, unit Semarang Timur Rp 35 juta, unit Semarang Barat Rp 40 juta, BRI Ngaliyan Rp 40 juta, unit Bangetayu Rp 50 juta, unit Pedurungan Rp 50 juta, unit Mrican Rp 50 juta.

Atas perkara itu, JPU Kejari Kota Semarang, Yossi Budi S menjerat para terdakwa dengan pidana Pasal 263 ayat (1) KUHP jo Pasal 55 ayat (1) Ke-1 KUHP jo Pasal 64 ayat (1) KUHP. Atau Pasal 378 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) Ke-1 KUHP jo Pasal 64 ayat (1) KUHP. (jks/ric/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here