Kompetensi Mahasiswa Farmasi Ditingkatkan

171
TAMBAH ILMU: Pembicara dalam seminar ‘Peran Tenaga Farmasi dalam Pencegahan Medication Error pada Pelayanan Farmasi Komunitas’. (DOK HUMAS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAGELANG)
TAMBAH ILMU: Pembicara dalam seminar ‘Peran Tenaga Farmasi dalam Pencegahan Medication Error pada Pelayanan Farmasi Komunitas’. (DOK HUMAS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAGELANG)

MAGELANG—Program studi D3 Ilmu Farmasi UM Magelang membekali para mahasiswa untuk meningkatkan pengetahuan lulusan serta mengetahui prosedur kerja farmasis. Salah satunya dengan menggelar ‘Workshop Handling Sisostatika’ serta seminar tentang ‘Peran Tenaga Farmasi dalam Pencegahan Medication Error pada Pelayanan Farmasi Komunitas’. Kegiatan itu diadakan dua hari, Rabu dan Kamis (17-18/5) di Aula Fikes Kampus 2 UM Magelang.

Ketua Panitia Kegiatan Puspita Septi Dianita mengatakan, selama dua hari, sebanyak 40 mahasiswa D3 Prodi Farmasi semester 6 mendapatkan materi dari empat narasumber. Selain mahasiswa, workshop juga diikuti oleh ketua Persatuan Ahli Farmasi Indonesia (PAFI) Kota dan Kabupaten Magelang serta dosen pembimbing PKL Apotek dan Rumah Sakit. Keempat narasumber itu adalah Satya Prima (apoteker RSUD Temanggung), Dr Vita Rahmawati (dosen Fakultas Farmasi UGM), Bondan Ardiningtyas (praktisi apoteker UGM), dan Fitriana Yuliastuti (dosen Farmasi UM Magelang).

Pada kesempatan pertama, Satya memberikan penjelasan tentang teknik aseptis pada pencampuran sediaan injeksi. Ia juga menyampaikan tentang cara melakukan hand rub atau mencuci tangan dengan menggunakan cairan sabun antiseptik. Satya juga mengedukasi cara memegang syringe atau alat suntik yang benar dan higienis dengan memperhatikan bagian yang tidak boleh tersentuh tangan.

Adapun Dr Fita Rahmawati menyampaikan materi tentang cara menangani obat beserta oplosannya. “Beberapa obat dapat membahayakan bila tercium atau terhirup oleh farmasis. Selain itu juga sampel darah harus diperlakukan secara hati-hati agar tidak tercemar dan mencemari kita. Untuk itu keselamatan kerja perlu diperhatikan, termasuk menggunakan alat pelindung,” ungkap Fita.

Di hari kedua, Bondan Ardiningtyas menjadi narasumber dengan menyampaikan materi tentang Konsep Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Ia antara lain menjelaskan bahwa medication error adalah suatu kesalahan dalam proses pengobatan yang masih berada dalam pengawasan dan tanggung jawab profesi apoteker. Kesalahan ini dapat terjadi pada pelayanan resep, informasi obat, pelayanan konseling, maupun kesalahan administrasi. Medication error berisiko pada keparahan penyakit, memperlama masa penyembuhan, terjadi efek samping dan bahkan dapat mengakibatkan kematian.

Adapun Fitriana Yuliastuti dalam makalahnya bertema Mengukur Penggunaan Obat di Rumah Sakit menjelaskan ciri pemakaian obat yang tidak rasional. Antara lain hanya didasarkan pada insting serta pengalaman individu tanpa mengacu pada sumber informasi yang dapat dipercaya kebenarannya. (vie/sct/ton)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here