Atasi Kemacetan Kota, Ajak Pekerja Budayakan Naik Sepeda Onthel

285
Ariyanto Raharjo, Bike to Work Community Semarang
Ariyanto Raharjo, Bike to Work Community Semarang

Di tengah kota yang sibuk, pria satu ini konsisten mengajak masyarakat untuk membudayakan naik sepeda onthel. Tentunya agar mengurangi potensi kemacetan arus lalu lintas kota. Seperti apa?

ABDUL MUGHIS

PRIA sederhana itu Ariyanto Raharjo, warga Jalan Ngesrep Timur V No 36 Semarang. Selain hobi, budaya naik sepeda onthel dimanfaatkan sebagai upaya untuk peduli hidup sehat. Sepeda baginya telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari cerita hidupnya.

Melalui budaya bersepeda, ia mengajak masyarakat peduli lingkungan, mengurangi polusi udara, kemacetan, dan menyehatkan. Tetapi budaya naik sepeda ini justru kian ditinggalkan oleh kebanyakan masyarakat. Nyaris semua orang di perkotaan naik motor dan mobil, sehingga jalan raya berjubal kendaraan baik motor maupun kemacetan.

Ia bersama komunitasnya, Bike to Work Semarang, mengajak generasi muda sekarang agar tetap membudayakan naik sepeda onthel. Anggota komunitas ini memang didominasi para pekerja di Kota Semarang yang tetap naik sepeda onthel, meski kebanyakan mereka memiliki motor dan mobil.

”Saya termasuk orang yang menggunakan sepeda tidak hanya untuk berolahraga. Tapi untuk beraktivitas. Bike to Work, bahwa sepeda buat aktivitas sehari-hari. Baik untuk bekerja, ke sekolah, maupun aktivitas lain,” kata Ariyanto saat berbincang dengan Jawa Pos Radar Semarang, kemarin.

Dikatakan, banyak orang yang memiliki sepeda onthel. Tetapi mereka kebanyakan menggunakan sepeda hanya untuk olahraga pagi, terutama weekend. ”Saya pernah bikin survei kecil-kecilan, ada berapa orang yang punya sepeda tapi yang benar-benar bike to work di Kota Semarang. Ternyata hanya kurang lebih 20-30 persen yang Bike to Work di Kota Semarang. Itu pun tidak setiap hari,” katanya.

Di Kota Semarang, kata dia, orang tidak menggunakan sepeda dipengaruhi beberapa faktor. Salah satunya faktor geografis, karena wilayah di Kota Semarang berbukit dan banyak tanjakan. Selain itu juga faktor cuaca panas. Sehingga orang lebih memilih naik motor dan mobil.

”Anak-anak sekolah yang naik sepeda itu hanya sampai di tingkat SMP saja. Begitu menginjak SMA, rata-rata mereka sudah tidak naik sepeda lagi. Karena trennya sudah naik motor,” katanya.

Tinggalkan Komentar: