Aqiqah Hukumnya Wajib ?

652

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Bapak DR KH Ahmad Izzuddin, M Ag di Jawa Pos Radar Semarang yang saya hormati dan dimuliakan oleh Allah SWT. Saya ingin bertanya bagaimana hukum aqiqah ? Apakah ada batasan waktu pelaksanannya ? Apakah hewan aqiqah bisa diberikan pada yayasan anak yatim dan dipotong di sana atau dipotong terlebih dahulu di rumah lalu dibagikan pada yayasan anak yatim (tanpa mengundang tetangga untuk acara tersebut)? Demikian pertanyaan saya, terima kasih atas penjelasan dan jawaban bapak. Wassalamu’alaikum Warahmatullah.

Fikri Haikal, di Semarang 085865479xxx

Jawaban:

Wa’alaikumussalam Warahmatullah Bapak Fikri Haikal di Semarang yang saya hormati dan juga dirahmati Allah SWT. Aqiqah atau menyembelih binatang (kambing) menyambut kelahiran bayi diperselisihkan hukumnya oleh ulama. Hal yang disepakati adalah aqiqah bukan wajib. Ia hanya dinilai sunnah atau anjuran oleh mayoritas ulama. Dalam mazhab Abu Hanifah, sunnah pun tidak karena dalam pandangan ulama mazhab ini, menyembelih hewan qurban pada Idul Adha dan tiga hari sesudahnya telah membatalkan anjuran Nabi SAW. Untuk melaksanakan aqiqah. Namun mazhab Abu Hanifah tidak melarang apalagi menilai haram atau makruh menyembelih binatang sebagai tanda syukur menyambut kelahiran seorang anak.

Dalam pandangan mazhab Malik, hewan yang disembelih adalah seekor kambing, baik yang lahir lelaki maupun perempuan dengan alasan riwayat dari sahabat Nabi SAW, Ibnu Abbas, bahwa Rasul SAW mengaqiqahkan kedua cucu beliau (Hasan dan Husain) dengan seekor kambing. Mazhab Syafi’I dan Hanbali menganjurkan menyembelih dua ekor kambing bila anak yang lahir laki-laki dan seekor bila perempuan. Itu sebaiknya dilaksanakan pada hari ketujuh, tetapi tidak ada halangan melaksanakannya sebelum maupun sesudah hari ketujuh dari kelahiran anak itu (selama belum balig).

Demikian pandangan ketiga mazhab. Mazhab Hanbali membolehkan melaksanakan aqiqah oleh yang bersangkutan sendiri walau setelah ia dewasa karena dalam pandangan ulama-ulamanya, tidak ada batas waktu bagi pelaksanaannya.

Tidak ada tempat yang ditentukan bagi pemotongan hewan aqiqah, tidak juga terlarang memberinya pada yayasan sosial atau anak-anak yatim. Memang, sebagian ulama menganjurkan agar dagingnya dimasak, sebagian disantap di rumah dan sebagian lainnya dikirim ke rumah-rumah yang dianggap wajar diberi. Mazhab Malik tidak menganjurkan mengadakan acara aqiqah di rumah dengan mengundang orang untuk memakannya.  Demikian jawaban yang dapat saya sampaikan semoga ada manfaatnya dan barokah. Amin. Wallahu a’lam bishshowab. (*/ric/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here