Batik Batang Bertahan di Tengah Gempuran Industri Tekstil

2351
UNIK : Batik Tulis Rifaiyah koleksi Mba Utin. Pengrajin batik Desa Kalipucang, Batang , Jawa Tengah
UNIK : Batik Tulis Rifaiyah koleksi Mba Utin. Pengrajin batik Desa Kalipucang, Batang , Jawa Tengah

BATANG-Kabupaten Batang sangat terkenal dengan batiknya. Di tengah gempuran industri tekstil, Batik Batang masih tetap mampu bertahan.

Pekan lalu, penulis berkesempatan mengunjungi salah satu produksi batik rumahan Mbak Utin, Desa Kalipucang Wetan, Kecamatan Batang, Batang, Jawa Tengah. Ia tergabung dalam salah satu kelompok batik Rifaiyah.

Wanita paruh bayah itu penuh semangat menjelaskan kepada kami soal proses membatik yang ia sudah geluti puluhan tahun. Dari tangan terampilnya, tercipta batik-batik yang cukup digemari pecinta batik.

“Di sini setiap rumah bisa membatik. Satu kelompok itu punya pakem yang sama,” ujar dia mengawali perbincangan.

Di kawasan rumah milik Mbak Utin, setidaknya ada sekira 48 lebih rumah yang konsep membatik. Tiap kelompok, kata Mbak Utin, sedikitnya punya 24 motif batik. Uniknya, setiap orang bisa melakukan seluruh proses membatik sendiri. Mulai dari membuat pola, mewarnai, hingga finishing.

“Selain dari pakem itu, sebenarnya kita punya motif modifikasi. Karena kita sesuaikan dengan permintaan pasar,” bebernya.

Batik milik Mbak Utin terbilang premium. Pasalnya, sudah dipasarkan hingga Singapura. Dari segi harga, dipasarkan mulai Rp800 ribu hingga Rp2,2 juta untuk satu batik.

“Ini juga buatnya cukup rumit. Termasuk lama. Tiga bulan, ini belum selesai,” sebutnya sambil menunjukkan salah satu batik yang masih dalam tahap pembuatan.

MUSEUM BATIK : Beberapa motif batik di Gallery Museum Batik Pekalongan.
MUSEUM BATIK : Beberapa motif batik di Gallery Museum Batik Pekalongan.

Ditemui di tempat yang berbeda, Kepala UPTD Museum Batik Pekalongan, Bambang Saktono menjelaskan, khusus Batik Pekalongan terkenal dengan pewarnaannya. Sangat berani.

“Misalnya untuk Batik Solo, itu agak kecoklatan. Kalau kita sangat berani untuk warna-warnanya,” kata Bambang.

Bambang mengakui, saat ini hambatan yang dialami pembatik yakni munculnya industri tekstil yang sebenarnya bukan batik. Jika tak difilter pemerintah, kondisi ini bisa mematik pembatik rumahan.

“Batik printing itu kini sedang booming. Kita berharap, dukungan pemerintah untuk mengatur pasarnya. Jangan sampai, ini mematikan industri yang benar-benar produk original,” harapnya. (Ags/web/ap)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here