Potensi Bisnis Syariah Potensial

1358
TUMBUH SIGNIFIKAN: Sejumlah program yang diluncurkan PT Bank Syariah Bukopin untuk mendorong pertumbuhan pembiayaan maupun dana pihak ketiga. (NURUL PRATIDINA/JAWAPOS RADAR SEMARANG)
TUMBUH SIGNIFIKAN: Sejumlah program yang diluncurkan PT Bank Syariah Bukopin untuk mendorong pertumbuhan pembiayaan maupun dana pihak ketiga. (NURUL PRATIDINA/JAWAPOS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Potensi pasar syariah di Jawa Tengah dinilai cukup besar. Sejumlah perusahaan jasa pelayanan keuangan pun mulai menggaet pasar ini, seperti perbankan, investasi dan asuransi.

Presiden Direktur PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Legowo Kusumonegoro mengatakan, mayoritas penduduk Jawa Tengah merupakan muslim. Hal ini merupakan pasar potensial untuk produk-produk syariah, termasuk juga investasi.

Salah satunya produk reksadana Manulife Syariah Sukuk Indonesia (MSSI) yang diluncurkan pada bulan ini. Yaitu reks dana pertama di Indonesia yang membagikan deviden bagi para investornya.  “Namun meski potensi pasar cukup besar, masih ada kendala besar. Yaitu pemahaman masyarakat soal bisnis syariah,” terangnya, kemarin.

Produk terbaru ini ditawarkan dengan minimum pembelian awal mulai Rp 10 ribu. Dengan harapan bisa menyentuh para investor baru yang kali pertama akan menginvestasikan dananya di sektor ini. “Sejauh ini investor terbanyak dari kalangan keluarga muda, mahasiswa, pegawai hingga pensiunan. Edukasi dan sosialisasi terkait investasi juga terus kami lakukan untuk memberikan pemahaman pada masyarakat dan memperluas segmentasi,” ujarnya.

Sementara PT Bank Syariah Bukopin (BSB) menilai sektor perdagangan masih cukup potensial untuk pembiayaan. Tahun ini sektor tersebut diperkirakan dapat berkontribusi hingga 50 persen dari total pembiayaan.

Pemimpin Cabang BSB Semarang, Imam Pamuji mengatakan, pembiayaan tahun ini ditargetkan tumbuh 20 persen dari total pembiayaan tahun lalu yang sebesar Rp 85 miliar. Lima sektor utama dibidik untuk mencapai target tersebut. Yaitu perdagangan, pendidikan, kesehatan, kontraktor dan supplier atau pengadaan. “Permintaan dari lima sektor tersebut masih cukup tinggi, khususnya perdagangan yang tahun lalu mengambil porsi separuh dari total pembiayaan,” jelasnya, kemarin.

Pertumbuhan pembiayaan, lanjutnya, juga diimbangi oleh pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang naik cukup signifikan. Hingga akhir Maret lalu saja, DPK tumbuh 120 persen bila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Beberapa faktor menjadi pendorong pertumbuhan tersebut. Di antaranya, ditunjuknya BSB sebagai bank persepsi, kemudian adanya kerjasama dengan kementerian keuangan dalam mengelola pembayaran gaji ke Pegawai Negeri Sipil (PNS) maupun TNI/POLRI.

Head of Corporate Secretary PT. Bank Syariah Bukopin, Evi Yulia K menambahkan, beberapa program yang digelar juga mampu menggenjot jumlah DPK dan nasabah. Di antaranya program Simpanan Pelajar (SimPel) iB dengan beberapa sekolah serta Tabungan iB SiAga Rencana Umroh. (dna/smu)