PKL Sigandul Dibongkar Paksa

652
MELANGGAR: Aparat Satpol PP Temanggung membongkar lapak PKL di pinggir Jembatan Sigandul, Senin (15/5). (Ahsan fauzi/radar kedu)

TEMANGGUNG- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Temanggung melalui Dinas Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran (Dinas Satpol PP dan Damkar) menertibkan pedagang kaki lima (PKL) yang selama ini berjualan di pinggir jalan jembatan Sigandul Desa Tlahab Kecamatan Kledung, Senin (15/5). Lapak-lapak dibongkar petugas gabungan Satpol PP Temanggung, Kodim 0706/Temanggung, Polres Temanggung, Dinas Perhubungan serta Satpol PP Provinsi Jawa Tengah.

Plt Kepala Dinas Satpol PP dan Damkar Temanggung Suyono Suyono mengatakan, pembongkaran dilakukan setelah Pemkab memberikan 3 kali surat peringatan agar PKL mau membongkar sendiri lapak yang berada di area larangan. Namun sampai batas waktu terakhir Selasa (9/5), masih ada 6 PKL yang belum membongkar lapaknya.

“Dengan tidak adanya PKL yang berjualan maka ketertiban dan kelancaran lalu lintas menjadi lebih lancar dan kondisi Jembatan Sigandul tampak lebih indah. Kita berharap para PKL sadar untuk kepentingan bersama. Sebagaimana diketahui setelah dibangunnya jembatan Sigandul banyak warga yang memanfaatkan untuk ajang foto selfie,” ujarnya.

Berdasarkan informasi dari Pemerintah Desa Tlahab, para PKL nantinya akan ditempatkan di lahan milik desa, tak jauh dari Jembatan Sigandul. Lokasi ini sekaligus sebagai tempat istirahat untuk pengembangan wisata.

Ketua Paguyuban PKL “Sigandul Indah” Joko Susilo menyadari dan bisa menerima langkah paksa Pemkab Temanggung yang membongkar lapak PKL. Ada 12 PKL yang tergabung dalam paguyuban.

“Kita para PKL menyambut gembira inisiatif Pemerintah Desa Tlahab yang berencana menyediakan lahan untuk penempatan PKL di tanah milik desa. Di tempat tersebut nantinya bisa berjualan dengan nyaman tanpa melanggar aturan,” tuturnya.

Kepala Desa (Kades) Tlahab Irwan mengatakan, pemerintah desa berencana menyiapkan lahan banda desa seluas 4.000 meter persegi untuk relokasi PKL. Di lokasi tersebut nantinya juga akan dimanfaatkan untuk rest area mini dengan menyediakan aneka kuliner dan kerajinan sesuai potensi yang dimiliki desa serta fasilitas pendukung lainnya. Dengan demikian di tempat tersebut menjadi pusat tumbuh dan berkembangnya perekonomian warga untuk meningkatkan kesejahteraan. (san/ton)