Perajin Bunga Banjir Pesanan

1012
BANYAK ORDER : Dua pekerja sedang merangkai karangan bunga di kawasan Sidojoyo, Wonosobo. (Zain Zainudin/ jawa pos radar kedu)
BANYAK ORDER : Dua pekerja sedang merangkai karangan bunga di kawasan Sidojoyo, Wonosobo. (Zain Zainudin/ jawa pos radar kedu)

WONOSOBO – Memasuki bulan wisuda sekolah para perajin karangan bunga kebanjiran pesanan. Para perajin bisa menjual 180 karangan bunga dan 120 poket bunga per bulan. Pada bulan-bulan biasa, hanya mampu menjual separonya saja.

Pemilik usaha pembuatan karangan bunga yang berlokasi di Jalan Mayjend Bambang Sugeng, Sidojoyo, Wonosobo, Panto, 30, menyebut, lonjakan permintaan kali ini mencapai 2 kali lipat dibanding bulan bulan biasa.

Penyebabnya, selain bertepatan dengan masa wisuda sekolah, juga karena mendekati bulan puasa yang pada umumnya, masyarakat banyak orang melangsungkan acara pernikahan. “Sehari kita bisa jual karangan bunga 4 – 5 karangan. Kalau bunga poket sampai 3, dalam sehari,” katanya, Minggu (14/5).

Pada bulan biasa peminat karangan bunga terbatas untuk ucapan duka cita, peresmian kantor (instansi), ultah kantor, ucapan sukses pegawai berprestasi. Dihitung rata-rata dalam sehari ia mampu menjual 2-3 karangan bunga. Tidak ada patokan harga yang pasti, harga menyesuaikan permintaan pemesan.

“Yang paling laku, karangan bunga dengan harga kisaran Rp 350 ribu sampai Rp 400 ribu,” kata laki-laki yang menggeluti bisnis merangkai bunga sejak 2010 itu.

Di Wonosobo sendiri, sudah ada 5 perajin karangan bunga selain dirinya. Bahan yang digunakan bervariasi. Kertas dan bunga asli. Untuk bunga asli rata-rata mereka mengambil dari petani lokal, sementara untuk bahan baku bunga kertas masih mengambil dari Bandungan, Semarang.

“Wonosobo malah belum ada yang bikin bunga kertas. Kita ngambilnya ke Bandungan dengan harga per keranjang Rp 150.000 harga di lokasi,” jelasnya.

Dalam sebulan, rata-rata satu unit usaha menghabiskan bunga kertas sebanyak 5-6 keranjang. Adapun untuk untuk kebutuhan bunga asli, ia mengaku sudah tidak sesulit dulu. Sudah banyak petani yang membudidayakan bunga.

“Yang biasa kita pakai antara lain bunga krisan, mawar, garberra, pikok, gladiol, dan amarilis (berbentuk mirip trompet). Semua ada di Wonosobo. Yang belum, malah bunga kertas. Padahal jika dikalkulasi, Wonosobo butuh bunga kertas lumayan banyak,” ujarnya. (cr2/lis)