SEMARANG – Mengandung dan melahirkan pastilah menjadi harapan bagi setiap wanita yang sudah menikah. Sayangnya, tidak demikian bagi penderita lupus. Pasalnya, penyakit lupus ini merupakan penyakit oto imun yang seharusnya menjadi antibodi memberantas mikroorganisme di dalam tubuh, justru berbalik menyerang tubuhnya sendiri.

Dr Julian Dewantiningrum di sela Temu Pelanggan Penderita Lupus di aula diklat RSUP Dr Kariadi menjelaskan, jika 90 persen kasus lupus pada perempuan terjadi pada usia reproduksi. Sehingga kehamilan yang terjadi pada penderita lupus rawan komplikasi.

”Penderita lupus rawan terjadi keguguran, preeklampsia, pertumbuhan janin terhambat, gangguan fungsi ginjal, flare, persalinan prematur, kematian pada janin serta bayi yang baru lahir juga menderita lupus,” bebernya.

Meski demikan, dengan perencanaan yang matang sebelum kehamilan,  penderita lupus tetap bisa mengandung dan melahirkan dengan selamat. Lebih tepatnya, menemui dokter 3 hingga 6 bulan sebelum kehamilan untuk mendiskusikan risiko yang mungkin ditemui dan pemilihan obat yang aman jika ada kehamilan. ”Sebaiknya penderita lupus merencanakan kehamilan minimal 6 bulan sebelum kehamilan yang dikehendaki,” ujarnya.

Apabila kehamilan sudah terjadi, penderita lupus hendaknya wajib melakukan pemeriksaan kehamilan secara teratur, sehingga dapat dideteksi dan ditangani sesuai dengan kondisi ibu hamil. Dengan pemeriksaan tersebut, dokter akan memberikan obat-obatan yang tidak berpengaruh buruk pada kehamilan dan janin. Selain itu, ada beberapa tindakan yang perlu dilakukan wanita penderita lupus selama masa kehamilan.

”Penderita lupus wajib melakukan kontrol kehamilan pada dokter obsgin atau konsultan fetomaternal, kontrol rutin pada dokter interna atau rematologi,” katanya.

Selain itu juga perlu pemeriksaan laboratorium, seperti urine, darah, fungsi ginjal, fungsi hati, antibodi antiphospholipid, pemeriksaan USG fetal ekokardiografi saat 18 minggu untuk menilai kemungkinan blokade jantung pada janin. ”Dan hindari lelah berlebihan, konsumsi makanan gizi sehat dan seimbang, hindari penambahan berat badan berlebihan,” jelasnya.

Pemeriksaan kehamilan yang dilakukan secara teratur diharapkan bisa mencegah komplikasi lupus. Bayi yang terlahir dari ibu yang lupus akan memiliki neonatal ruam sementara, umumnya hingga usia 3-6 bulan dan tidak akan kambuh lagi. ”Di mana dokter akan secara teratur memeriksa detak jantung dan pertumbuhan janin, sehingga mengurangi risiko kelahiran prematur,” jelasnya.

Menurut, dr Santosa, yang turut dalam kegiatan tersebut, penyebab penyakit lupus ini masih belum diketahui hingga saat ini. Sepuluh persen pasien lupus memiliki hubungan kekerabatan tingkat pertama (orang tua, saudara kandung, anak-anak), atau kekerabatan tingkat dua (bibi, paman, sepupu) dengan lupus. Sehingga diyakini lupus terjadi karena faktor genetik dan faktor lingkungan yang memicu timbulnya penyakit.

”Selain itu, juga disebabkan faktor eksternal yang dapat memicu termasuk sinar ultraviolet, virus, kelelahan, infeksi, trauma, dan stres. Wanita usia 15 hingga 45 tahun lebih sering terkena lupus, walaupun tidak menutup kemungkinan pada usia lain bahkan pada laki-laki,” pungkasnya. (den/zal/ce1)