Danur Rispriyanto
Danur Rispriyanto

KALANGAN Komisi B DPRD Kota Semarang meminta Dinas Perdagangan tidak menganaktirikan pasar-pasar penunjang. Seperti Pasar Kalicari, Manyaran, Srondol, Banyumanik, Tanah Mas, Jangli, dan sebagainya.

Ada 44 pasar tradisional di Kota Semarang. Namun selama ini Dinas Perdagangan hanya fokus merevitalisasi pasar-pasar besar saja, seperti Bulu, Rejomulyo, Sampangan, Pedurungan, Peterongan, dan Johar. Sedangkan pasar pasar tradisional di wilayah pinggiran minim perhatian.

Baca Juga :

Komisi B mendorong pembangunan dilakukan secara merata. Bahkan dalam rapat kerja tahun lalu, komisi yang membidangi masalah perekonomian ini mendorong Dinas Perdagangan agar memperhatikan pasar kecil juga. ”Dengan adanya pasar kecil ini, maka tidak terpusat lagi ke pasar besar seperti Bulu, Johar, dan lainnya. Misal warga Tembalang, mau beli bawang sekilo saja masak harus sampai ke Johar atau Bulu. Pasti mereka cari yang terdekat,” kata Wakil Ketua Komisi B Danur Rispriyanto, kepada Jawa Pos Radar Semarang, kemarin.

Pihaknya meminta Dinas Perdagangan menginventarisir 44 pasar tradisional yang memang kondisinya perlu revitalisasi. Selain itu juga mengklasifikasikan antara besar, menengah, dan kecil. Sehingga penanganannya bisa lebih optimal.

Legislator dari Fraksi Demokrat ini menyayangkan jika penanganan hanya difokuskan pada pasar besar saja. Apalagi beberapa di antaranya gagal dilakukan revitalisasi. Seperti Pasar Karangayu yang telah dianggarkan Rp 30 miliar, gagal terlaksana. ”Daripada seperti itu (gagal), lebih baik anggarannya dibagi untuk merevitalisasi pasar yang kecil. Contoh kegagalan Pasar Karangayu, anggaran Rp 30 miliar balik ke kasda. Itu jika dialokasikan ke pasar kecil sudah bisa merevitalisasi tiga sampai empat pasar,” ujarnya.

”Karena untuk merevitalisasi pasar kecil itu tidak membutuhkan anggaran besar seperti Bulu yang mencapai Rp 44 miliar. Paling butuh Rp 3 sampai Rp 5 miliar. Seperti Pasar Simongan membutuhkan anggaran sekitar Rp 5-6 miliar,” imbuhnya.

Menurut Danur, selama ini Dinas Perdagangan hanya mengalokasikan anggaran perawatan atau perbaikan yang sifatnya kecil, seperti pembuatan saluran, WC, atau sekadar pengecatan. ”Yang kami inginkan tidak seperti itu. Kalau memang kondisinya sudah tidak layak ya harus direvitalisasi. Dalam rapat kerja kemarin kami sudah sepakat dengan Dinas Perdagangan untuk lebih meratakan pembangunan pasar tradisional,” tandas dewan yang hobi bersepeda ini. (zal/ida/ce1)