MASIH MUDA: Tersangka Supardi dan Ardian Rudi Putra saat gelar perkara di Mapolrestabes Semarang, kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MASIH MUDA: Tersangka Supardi dan Ardian Rudi Putra saat gelar perkara di Mapolrestabes Semarang, kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Dua pelaku yang terlibat kasus pembunuhan dokter jantung RS Telogorejo Semarang, dr Nanik Trimulyani Arifin, di tempat kos miliknya Jalan Plampitan No 58 Semarang Tengah masih menjalani pemeriksaan intensif di Mapolrestabes Semarang. Seorang pelaku bernama Supardi, warga Wonosobo yang dipercaya sebagai penjaga tempat kos ikut membantu membunuh dengan cara mengikat tangan korban.

Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Abiyoso Seno Aji mengungkapkan, pelaku utama pembunuh dr Nanik adalah Suparman. Namun demikian, Supardi yang merupakan orang kepercayaan korban juga turut serta dalam peristiwa tersebut di dalam kamar pribadi dr Nanik.

”Awalnya Supardi hanya membawakan tas korban saat tiba dari Jakarta di Semarang. Dari garasi tas itu dibawa Supardi ke kamar korban. Tapi, pada saat korban masuk ke dalam kamar, Suparman sudah berada di dalam kamar korban,” ungkapnya saat gelar perkara di Mapolrestabes Semarang, Jumat (12/5).

Selanjutnya Suparman yang tepergok, langsung mendekati dr Nanik dan mencekik lehernya. Hal ini membuat korban langsung berontak melakukan perlawanan. Sedangkan Supardi yang berada di belakang korban langsung membantu memegang tangan dan mendorong korban hingga jatuh tertelungkup ke bawah.

”Karena berusaha meronta, Supardi langsung berinisiatif memegang dan mengikat tangan korban. Korban dicekik oleh pelaku Suparman hingga meninggal dunia,” terangnya.

Kemudian, kedua pelaku langsung mencari kontak mobil milik korban, dan setelah ditemukan langsung menuju ke RS Telogorejo untuk diambil. Namun saat mengambil mobil di rumah sakit tersebut, keduanya terekam oleh kamera CCTV yang ada di lokasi. ”Mereka terekam CCTV. Hingga akhirnya kita kejar dan ditangkap. Karena sebelumnya ada laporan orang hilang dari pihak keluarga korban,” katanya.

Pelaku Supardi mengakui keterlibatan tersebut karena merasa diancam oleh pelaku Suparman. Bahkan, sebelum terjadi peristiwa pembunuhan, keduanya juga telah mencuri barang-barang milik korban. Di antaranya, handphone termasuk televisi.

”Iya, saya dan Suparman sekitar dua hari sebelumnya juga telah mengambil barang-barang. Saya terpaksa ikut karena diancam oleh Suparman, sambil membawa senjata parang. Bilangnya (Suparman) kamu mau duit banyak gak? Kalau mau ikut saya,” terangnya.
Selain itu, Supardi juga terpaksa mengikuti ajakan Suparman lantaran tidak bisa melarikan diri. Sebab, kunci rumah yang setiap harinya dipegang Supardi telah dikuasai oleh Suparman. ”Tidak bisa ke mana-mana, kuncinya sudah diambil Suparman,” ujarnya.

Pelaku Ardian Rudi Putra mengakui ikut ditangkap oleh aparat karena diminta oleh saudaranya untuk menjualkan mobil milik korban. Pemuda ini juga mengakui mengetahui mobil tersebut hasil curian. Hanya saja, tidak mengetahui secara detail bahwa korban pemilik mobil tersebut juga tewas dibunuh oleh Suparman. ”Ya, saya ngerasa kalau mobil itu curian, tapi tidak tahu kalau orangnya sampai dibunuh,” ungkapnya.

Rudi menerangkan, sesuai rencana mobil milik korban akan dijual seharga Rp 30 juta. Mobil tersebut sempat akan dibeli seseorang. Hanya saja, harganya tidak cocok dan akhirnya tidak jadi dibeli. ”Disuruh menjual Rp 30 juta, tapi ditawar tidak sampai segitu. Suparman tidak mau. Kalau laku janjinya saya akan dikasih uang Rp 500 ribu,” katanya.

Keduanya kini masih mendekam di sel tahanan Mapolrestabes Semarang guna menjalani proses hukum. Saat ini, pihak kepolisian masih mengejar pelaku utama yang diperkirakan masih berada di wilayah Jateng. ”Suparman masih kita buru. Semoga dalam waktu yang cepat bisa kita tangkap. Saya juga mengimbau agar menyerahkan diri, saya jamin keamanannya,” ujar Abiyoso. (mha/aro/ce1)