1.000 Lilin untuk Kesatuan Bangsa

431
NKRI HARGA MATI: Ribuan warga Semarang dan sekitarnya menggelar aksi 1.000 lilin untuk kesatuan bangsa di kawasan Taman KB Jalan Menteri Supeno, Semarang, tadi malam. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
NKRI HARGA MATI: Ribuan warga Semarang dan sekitarnya menggelar aksi 1.000 lilin untuk kesatuan bangsa di kawasan Taman KB Jalan Menteri Supeno, Semarang, tadi malam. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Ribuan warga dari berbagai kalangan berkumpul di kawasan Taman KB Jalan Menteri Supeno Semarang, Jumat (12/5) tadi malam. Mereka kompak barpakaian warna merah dan baju kotak-kotak sambil menyalakan lilin.

Dalam acara bertajuk Refleksi Kebangsaan: Aksi 1.000 Lilin untuk Kesatuan Bangsa ini, mereka memiliki harapan yang sama, yakni warga negeri ini menegakkan Pancasila dan menjunjung tinggi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

”Yang dituntut sama, yakni tentang kebangsaan dan keadilan, karena situasi sekarang agak menyedihkan. Inginnya urusan agama menjadi urusan pribadi masing-masing dan tidak terlalu di-blow up,” ujar salah satu peserta aksi, Lingling, 32, warga Semarang Tengah.

Tak hanya berkumpul dengan menyalakan lilin, sejumlah hiburan juga ditampilkan. Mulai musikalisasi puisi hingga pentas musik akustik sambil membawakan puisi serta lagu bertemakan persatuan.

Peserta aksi lainnya, Rita, warga Jrakah, Tugu, mengaku sengaja datang untuk melihat aksi solidaritas warga Semarang tersebut.

”Saya ke sini hanya untuk melihat saja. Sebagai warga negara, saya inginnya Indonesia satu dan tidak pecah belah. Seperti ini, berkumpul tanpa membedakan suku, agama dan ras,” katanya.

Dalam acara tersebut, hadir Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi. Ia menyampaikan apresiasi kepada para peserta aksi refleksi kebangsaan tersebut.

”NKRI Harga Mati, Pancasila Jaya! Kita harus bersama-sama menegakkan kembali Pancasila. Kita lawan organisasi maupun oknum yang ingin memecah belah persatuan bangsa,” ujar Supriyadi diiringi tepuk tangan para peserta aksi.

Supriyadi juga meminta masyarakat tidak mudah terhasut oleh pernyataan atau isu-isu yang tidak bertanggung jawab. Masyarakat, kata dia, juga harus bersama-sama untuk bersatu melawan bentuk rongrongan yang bisa memecah belah NKRI.

”Kita jangan berdiam diri. Kita harus bersatu. NKRI Harga Mati, Pancasila Abadi. HTI Bubarkan, FPI Bubarkan,” teriaknya saat berorasi.

Pihaknya sangat mengapresiasi kepada aparat kepolisian yang telah mengambil tindakan tegas dalam membubarkan kegiatan ormas di Kota Semarang. Menurutnya, langkah kepolisian sangat tepat, karena dengan adanya pembubaran tersebut, juga untuk mengantisipasi adanya bentuk-bentuk ormas radikal yang membuat Kota Atlas tidak nyaman.

”Kita bersyukur kepada aparat kepolisian yang telah membubarkan (FPI dan HTI) di Kota Semarang. Kita tidak mau FPI ataupun HTI hidup di Kota Semarang,” tegasnya.

Pada kesempatan tersebut, Supriyadi juga membacakan puisi berjudul ”Kita Satu Ibu”. Inti dari maksud puisi tersebut masyarakat Indonesia terdiri atas berbagai suku bahasa, agama, dan budaya yang bersatu dalam wadah NKRI.

”Kita satu ibu. Jangan sebut warna kulitmu suku atau agamamu karena kita satu ibu. Indonesia.” Begitu penggalan puisi yang dibacakan wakil wakyat dari PDIP ini.

Penampil lainnya, Teater Lingkar, menyanyikan lagu Indonesia Pusaka ciptaan Ismail Marzuki yang mengandung makna kecintaan mendalam terhadap tanah air.

Pantauan di lapangan, acara tadi malam berakhir setelah hujan deras mengguyur Kota Semarang. Meski begitu, derasnya hujan tidak memadamkan semangat peserta yang terus meneriakkan NKRI Harga Mati! (tsa/aro/ce1)