MANGKRAK: Kondisi Pasar Gedawang yang tak terawat, dan hanya dihuni 13 pedagang. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MANGKRAK: Kondisi Pasar Gedawang yang tak terawat, dan hanya dihuni 13 pedagang. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Masih banyak pasar mangkrak di Kota Semarang. Salah satunya Pasar Gedawang, Banyumanik. Sejak diresmikan 2005 silam, pasar yang dulunya dikelola oleh investor ini mangkrak. Padahal tersedia kurang lebih 300 kios dan lapak. Praktis, pasar yang terletak di tengah permukiman warga ini mirip ”rumah hantu”. Sebab, kondisi atap dan eternitnya banyak yang jebol, bahkan sejumlah tembok ditumbuhi rumput liar.

Sebetulnya masih ada aktivitas jual beli di pasar tradisional ini. Namun jumlah pedagang yang bertahan hanya sebanyak 13 orang. Mereka berjualan kebutuhan pokok sehari-hari dengan pelanggan warga perumahan di sekitar pasar.

”Masih ada 13 pedagang. Dulu memang belum ada permukiman, sehingga pasar ini sepi, kemudian mangkrak karena kios tidak laku,” kata salah satu pedagang, Harfino, kemarin.

Kondisi bangunan pasar juga memprihatinkan, karena tidak ada yang merawat. Investor selaku pengelola pasar tidak bisa membuat terobosan. ”Eman-eman kalau bangunan ini mangkrak, apalagi sekarang Pasar Gedawang sudah dikelilingi banyak perumahan. Tentu jika dikelola dengan baik, akan sangat bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Dia mengaku senang karena status pengelolan Pasar Gedawang ini sudah diambil alih oleh Dinas Perdagangan Kota Semarang. ”Kami yakin pasar ini bisa ramai,” katanya.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto, mengaku, telah mengambil alih pengelolaan Pasar Gedawang ini. Ia menjelaskan, dulunya pasar tersebut dikelola investor. ”Tapi, sekarang sudah diserahkan ke kami. Saat ini, kami ajukan di anggaran perubahan untuk perbaikan,” ujarnya.

Pihaknya menyatakan akan mengoptimalkan Pasar Gedawang yang lama mangkrak ini. Beberapa area yang saat ini mangkrak rencananya akan ditempati pedagang burung.

”Sudah ada komunitas burung love bird yang berminat untuk menempati pasar tersebut. Dalam waktu dekat akan diadakan lomba kicau burung di tempat itu. Pekan depan kami akan mulai kerja bakti bersama komunitas tersebut untuk langkah awal,” katanya.

Pihaknya juga akan menawarkan kepada masyarakat sekitar yang berminat menempati kios. Tidak dipungut biaya apa pun. Syaratnya dengan cara mengajukan permohonan ke Dinas Perdagangan Kota Semarang. ”Harus ada komitmen serius untuk berjualan,” katanya.

Dikatakannya, setidaknya ada 300 kios dan lapak. Pihaknya akan mengajukan anggaran untuk perbaikan pasar tersebut pada anggaran perubahan. Menurutnya, pihak ketiga yang saat itu mengelola Pasar Gedawang salah perhitungan.

”Selesai dibangun tempat tersebut malah mangkrak. Tapi saya optimistis Pasar Gedawang bisa ramai karena saat ini dikelilingi banyak perumahan. Kondisinya berbeda dengan dulu yang jauh dari permukiman,” ujarnya.

Salah satu warga, Susilo Wibisono, mengatakan, pasar ini bisa dimanfaatkan dengan pengelolaan baru. Ia merupakan salah satu anggota komunitas burung yang menyatakan bersedia berjualan di pasar tersebut.

”Kami bersama rekan-rekan ada kurang lebih 60-an pedagang burung siap meramaikan pasar ini. Di sini kondisi alamnya sebenarnya sangat mendukung, apalagi udaranya masih sejuk,” katanya. (amu/aro/ce1)