Industri di Jateng Bakal Meningkat Pesat

2035, Nilai Investasi Industri Ditarget Rp 104, 3 T

1643

SEMARANG – Nilai investasi industri Jawa Tengah ditargetkan mencapai Rp 104, 3 triliun pada tahun 2035 mendatang. Struktur industri akan terus diperkuat guna mencapai target tersebut.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah M Arif Sambodo mengatakan, nilai investasi industri pengolahan di tahun 2015 lalu masih sebesar Rp10,7 triliun. Dalam rencana induk pembangunan industri, angka tersebut ditargetkan tumbuh 10 kali lipat pada tahun 2035 mendatang. “Angka pertumbuhan tersebut cukup realistis mengingat setidaknya kemampuan sumber daya manusia kita ke depan akan semakin terlatih dengan berbagai kebijakan yang dimulai dari sekarang,” ujarnya di sela Forum Group Discussion ‘Strategi Percepatan Pertumbuhan Sektor Industri Manufaktur Jawa Tengah’, di Semarang, beberapa waktu lalu.

Di Jateng saat ini sudah ada tujuh kawasan industri, dua sedang dibangun yaitu KIK di Kendal dan Demak. Kemudian rencananya juga ada enam kawasan lagi yang akan dibangun. Beberapa kawasan industri di provinsi lain tampaknya juga sudah mulai jenuh dan melimpah ke Jawa Tengah. Selain upah tenaga kerja yang masih cenderung murah, infrastruktur di Jawa Tengah juga sudah sangat mendukung sebuah industry.

Pihaknya juga bersinergi dengan berbagai pihak. Salah satu upaya jangkat pendek, yaitu mendorong sektor-sektor industri unggulan. Seperti industri pangan, industri farmasi dan komestik, dan alat kesehatan. Kemudian industri tekstil yang masih jadi primadona, industri transportasi, komponen otomotif, industri bahan galian, industri elektronika dan telematika, serta industri kimia dasar.

Ia menambahkan, berbicara industri, maka tak hanya bicara sedang dan besar tetapi juga mikro, kecil, dan menengah. UMKM melakukan manufaktur, mengolah industri mentah menjadi setengah jadi. Hal ini memberikan sumbangan terhadap pertumbuhan manufakur di Jawa Tengah. Kendalanya, pemenuhan kualitas yang sangat rendah, beberapa teknologi belum dimiliki, pembiayaan, sebagian bahan baku massih impor sehingga produk menjadi tidak kompetitif. (dna/smu)