RITUAL WAISAK: Umat Buddha mengikuti prosesi Perayaan Hari Raya Waisak di Vihara Tanah Putih, Kamis (11/5). Prosesi dimulai dari Pindapata atau pemberian makan kepada para biksu dan dilanjutkan dengan fanshun atau melepaskan burung dari sangkar sebagai simbol kebebasan kemudian berdoa bersama. (Adityo Dwi/Jawa Pos Radar Semarang)
RITUAL WAISAK: Umat Buddha mengikuti prosesi Perayaan Hari Raya Waisak di Vihara Tanah Putih, Kamis (11/5). Prosesi dimulai dari Pindapata atau pemberian makan kepada para biksu dan dilanjutkan dengan fanshun atau melepaskan burung dari sangkar sebagai simbol kebebasan kemudian berdoa bersama. (Adityo Dwi/Jawa Pos Radar Semarang)

SEMARANG – Ratusan umat Buddha di Kota Semarang, Kamis (11/5) memperingati Hari Raya Waisak 2571/2017 di Vihara Mahavira Semarang. Dalam peringatan tersebut umat berdoa untuk kejayaan dan keamanan bangsa Indonesia. Peringatan Waisak diakhiri dengan memandikan rupang Buddha.

Ritual memandikan rupang tersebut diawali oleh biksu dan dilanjutkan oleh umat. Makna pemandian rupang adalah pembersihan tubuh Buddha. ”Setelah membersihkan tubuh sang Buddha maka berarti kita juga telah membersihkan diri kita sendiri dari segala noda di masa lalu,” ungkap Wakil Ketua Vihara Mahavira Semarang, Suhu Chuan Ling.

Suhu Chuan Ling mengatakan makna terpenting ritual adalah mengerti bagaimana seharusnya melatih diri dalam dharma agar dapat mencapai tubuh suci Sang Tathagata seperti Sang Buddha Sakyamuni yang memperoleh tubuh Dharmakaya yang suci.

Sementara itu, di Vihara Tanah Putih, Peringatan Waisak menyoroti maraknya berita-berita bohong, fitnah hingga ujaran kebencian. Maka umat diminta menjaga perilaku, perkataan dan perbuatan yang dapat merugikan orang lain hingga memicu perpecahan antarmanusia.

Dalam Peringatan Waisak ini, panitia mengundang tokoh lintas agama. Salah satunya Muhammad Adnan dari PWNU Jateng. Ia pun mendapat kehormatan berbicara di depan ratusan umat Buddha setelah penyampaian pesan dharma dari Biksu Canttamano.

Disambut tepuk tangan umat Buddha, Adnan menyampaikan keragaman di dalam bangsa Indonesia ini anugerah Tuhan. Ibarat bunga yang hidup dalam suatu taman, tidak akan menarik bila hanya satu bunga saja.

”Ibarat satu taman, kalau ada satu bunga itu tidak menarik. Anggrek itu dikagumi karena indah, tapi kalau semua bunga yang di taman hanya anggrek, itu tidak menarik,” katanya. (hid/tsa/mg30/ric/ce1)