SEPAKAT : Penandatangan kesepakatan bersama dan perjanjian kerjasama antara Pemerintah Kota Magelang dengan IUWASH PLUS, kemarin. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
SEPAKAT : Penandatangan kesepakatan bersama dan perjanjian kerjasama antara Pemerintah Kota Magelang dengan IUWASH PLUS, kemarin. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)

MAGELANG – Pemkot Magelang masih menjumpai warga Kota Magelang yang membuang limbah rumah tangga—seperti limbah tinja ke sungai. Kebiasaan buruk ini banyak dilakukan warga yang tinggal di bantaran sungai.

“Sebagian dari mereka masih membuang langsung ke sungai, karena tidak memiliki septic tank,” kata Kepala Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Magelang Joko Supano dalam acara visioning workshop peningkatan akses air minum dan sanitasi Kota Magelang yang dihadiri sejumlah organisasi perangakat daerah, di Hotel Atria Magelang, Rabu (10/5).

Baca Juga : Tiga Hari Sekali Tanya ke Anak Sekolah

Padahal, perilaku tersebut menyebabkan pencemaran lingkungan. Pihaknya menduga, perilaku ini karena kurangnya pemahaman masyarakat terkait pola hidup bersih dan sehat (PHBS). “Kemungkinan lain karena pengaruh ekonomi,” ujarnya.

Kondisi ini sesuai catatan tahun 2015, masih ada 12 persen dari sekitar 33 ribu keluarga yang belum memiliki jamban. “Salah satu indikator rumah kumuh adalah tidak memiliki kamar mandi, jamban dan tidak memiliki septic tank yang standar,” tambahnya.

Melihat kondisi itu, Pemkot Magelang berupaya meningkatkan akses air minum dan sanitasi, serta perbaikan perilaku higiene bagi masyarakat di kotanya. Beberapa program telah disiapkan untuk menyelesaikan pekerjaan rumah (PR) tersebut, dengan mengandeng USAID Indonesia Urban Water, Sanitation and Hygiene Penyehatan Lingkungan untuk Semua (IUWASH PLUS) sebagai pendamping. IUWASH PLUS merupakan program yang disepakati antara Pemerintah RI melalui Kementerian PPN/Bappernas dan Pemerintah Amerika Serikat.

Pemkot juga menyiapkan program percepatan pembangunan sanitasi permukiman (PPSP). Seperti membuat instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal, juga instalasi pengolahan lumpur tinja (IPLT). “Kami ada pelayanan lumpur tinja terjadwal (PL2T),” sebutnya.

Saat ini, IPLT Dumpoh mampu mengolah sekitar 20 meter kubik lumpur tinja per hari. Sebelum ke masyarakat, pihaknya meminta warga pegawai negeri sipil (PNS) dan instansi pemerintah untuk memberikan contoh menggunakan layanan itu. “Septic tank itu ada kapasitas atau volumenya, kalau tidak pernah dikuras, bisa terjadi pencemaran juga.”

Wakil Wali Kota Magelang Windarti Agustina mendukung pecapaian akses bagi seluruh masyarakat. Selama 2016-2021, pihaknya menempatkan target 100-0-100. Yakni, 100 persen sanitasi layak, 0 persen kawasan perumahan dan permukiman kumuh, serta 100 persen tercukupinya air bersih. “Terkait pengelolaan sanitasi, saat ini sudah terbangun 33 unit IPAL komunal yang tersebar di beberapa kawasan di Kota Magelang,” tuturnya. (put/ton)