SIDANG TUNTUTAN: Suramlan usai menjalani sidang tuntutan di Pengadilan Tipikor Semarang. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SIDANG TUNTUTAN: Suramlan usai menjalani sidang tuntutan di Pengadilan Tipikor Semarang. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Kepala Seksi (Kasi) Sekolah Menengah Pertama (SMP) pada Dinas Pendidikan Kabupaten Klaten non-job, Suramlan, dituntut dua tahun penjara dan denda Rp 50 juta oleh penuntut umum (PU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), atas perkara Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK terkait kenaikan jabatan.

PU KPK menganggap terdakwa terbukti secara sah melakukan tindak pidana korupsi sebagaimana Pasal 5 ayat 1 huruf a dan atau pasal 13 UU No 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

”Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Suramlan dengan pidana penjara selama 2 tahun dan denda Rp 50 juta, subsider 3 bulan kurungan,” kata PU KPK, Dodi Sukmono dalam tuntutannya di hadapan majelis hakim yang dipimpin, Antonius Widijantono.

Mendengar tuntutan itu, terdakwa Suramlan bergegas langsung berkoordinasi untuk menentukan sikap setelah diminta majelis hakim. Tak berapa lama kuasa hukumnya, Andreas akan mengajukan pembelaan atas perkara itu. Kemudian majelis hakim menunda sidang dan akan dibuka kembali pada 17 Mei mendatang dengan agenda pembelaan.

Dalam dakwaan PU KPK, dijelaskan sejak November 2016, Kepala Bidang Sekolah Dasar Disdik Kebumen Bambang Teguh Satya telah membicarakan pergantian struktur jabatan di perangkat daerah Disdik Klaten. Pembicaraan itu juga menawarkan kepada para pihak yang hendak menduduki jabatan tertentu. Untuk mendapatkan jabatan tertentu, syaratnya harus memberikan setoran kepada Bupati Klaten, Sri Hartini.

Kronologi pemberian suap itu pada 12 Desember 2016 misalnya, Bambang mencarikan pinjaman kepada saksi Dandy. Dandy lalu menyanggupi, namun tidak bisa dipenuhi semua Rp 200 juta. Dua hari kemudian, yaitu pada 14 Desember 2016, Bambang bertemu Dandy menyerahkan uang Rp 50 juta sebagai uang pinjaman. Bambang Setya membawa Rp 50 juta, lalu bertemu Sri Hartini. (jks/zal/ce1)