Dukung Pembubaran HTI

541
Masruhan Samsurie. (Istimewa)
Masruhan Samsurie. (Istimewa)

SEMARANG – DPRD Jateng menyambut baik pembubaran organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) karena diindikasikan anti Pancasila. Keberadaan HTI juga dianggap menimbulkan keresahan dan gesekan di masyarakat.

Ketua Komisi A DPRD Jateng Masruhan Samsurie mengatakan hal yang sama semestinya juga berlaku bagi Partai Komunis Indonesia (PKI) yang beberapa tahun terakhir ini seperti menunjukkan tanda-tanda kebangkitannya. ”Munculnya HTI dengan konsep khilafah dan PKI dengan komunisme-atheismenya di samping terindikasi anti Pancasila, juga ada gelombang penolakan yang masif di masyarakat dengan satu alasan sama, yaitu anti Pancasila,” ujar Ketua DPW PPP Jateng tersebut.

Dia menambahkan jika sudah anti Pancasila, maka rakyat akan bergerak bersama melawan. Apalagi umat Islam yang mempunyai saham besar tegaknya Pancasila. Tentu tidak terima kalau Pancasila dikhianati. ”Saya melihat pemerintah tidak tegas. Mestinya paham yang diindikasikan bertentangan dengan Pancasila segera diambil langkah cepat dan tepat sehingga tidak sampai menjalar dan memakan korban lebih banyak,” paparnya.

Dia mencontohkan tidak sedikit generasi muda yang gandrung dengan konsep ”khilafah” untuk pengikut HTI dan ”komunisme-atheisme” untuk para aktivis PKI. Dia menganggap mereka itu sebetulnya korban ketidaktahuan saja.

Dikiranya khilafah dan atheisme bisa menjadikan Indonesia seperti yang mereka kehendaki. ”Karena mereka korban, maka perlu dilakukan pendekatan dan dialog. Tidak bisa kita memusuhi mereka karena mereka adalah saudara kita yang menjadi korban ”permainan ideologi” yang ingin menghancurkan Indonesia,” tandasnya.

Di samping itu, pemerintah harus introspeksi sudahkah keadilan ditegakkan. Dikatakannya, selama keadilan masih belum tegak, angka kemiskinan masih tinggi dan kesenjangan sosial masih lebar, maka masuknya ideologi-ideologi impor akan marak. Ideologi tersebut terindikasikan bertentangan dengan Pancasila dan akan mudah diterima oleh sebagian masyarakat yang menjadi korban ketidakadilan atau kemiskinan. (ric/ce1)