PEDULI SAMPAH: Nunuk Zaenubia menunjukkan usaha daur ulang sampah yang didirikan di Desa Jamberarum, Kecamatan Patebon, Kendal. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PEDULI SAMPAH: Nunuk Zaenubia menunjukkan usaha daur ulang sampah yang didirikan di Desa Jamberarum, Kecamatan Patebon, Kendal. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Dari awalnya mengelola bank sampah, kini Nunuk Zaenubia sukses mendirikan rumah daur ulang. Di tempat ini, sampah plastik diolah menjadi biji plastik. Seperti apa?

BUDI SETIYAWAN, Kendal

KEBANYAKAN orang beranggapan sampah adalah setumpuk rongsokan yang tidak memiliki nilai guna. Sampah juga identik dengan kumuh dan jorok. Tapi, bagi Nunuk Zaenubia, sampah justru menjadi emas terpendam yang dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah.

Terbukti dari usahanya mendirikan bank sampah, Nunuk kini sukses mendirikan rumah daur ulang sampah dengan satu mesin pengolah limbah. Penghasilannya cukup menggiurkan. Dari awal pengelolaan bank sampah, Nunuk hanya memiliki pegawai tiga orang. Kini ibu tiga anak ini mampu mempekerjakan enam orang. Selain itu, belasan tenaga lepas dari warga sekitar tempat usahanya.

Nunuk menceritakan, kecintaannya pada sampah dimulai sejak 2012. Saat itu, ia mendirikan Bank Sampah Resik Becik di Perumahan Kendal Permai Blok C RT 3 RW 6. Bank sampah itu dikelola bersama tiga  orang sesama ibu rumah tangga.

Bank sampah ini konsepnya sangat sederhana. Hanya mengumpulkan sampah rumahan dari masyarakat sekitar. Sampah warga itu kemudian dipilah-pilah. Yakni, antara sampah kertas dan sampah plastik. Setelah terkumpul banyak, sampah tersebut dijual kepada pengepul sampah dengan keuntungan minim.

Sedangkan bagi warga yang menyetor sampah, ia berikan buku tabungan yang berisikan nilai sampah yang sudah disetor dalam bentuk rupiah. Buku tabungan dapat diuangkan kapan pun nasabah ingin mencairkannya.

”Dari usaha bank sampah ini hasilnya tidak terlalu terlihat, karena konsep saya saat itu hanya ingin mengajak masyarakat untuk sadar akan pentingnya kebersihan. Jadi, tidak terlalu memikirkan keuntungan,” katanya, kemarin (10/5).

Kemudian ia juga menginisiasi pendirian dan membina sejumlah bank sampah di Kendal. Sampah-sampah yang dihasilkan ia ambil untuk diuangkan, dan keuntungannya dibagi rata dengan pengelola bank sampah. ”Hasilnya ya cukup lumayan, meski memang sangat minim,” tuturnya.

Karena sepak terjangnya yang berhasil mengelola dan membina bank sampah itu, Nunuk pernah dinobatkan sebagai Ketua Paguyuban Bank Sampah Kendal. Setidaknya ia membawahi 70 bank sampah yang dibinanya bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kendal. Usaha bank sampah itu terus berlanjut, sampai ia diberikan kesempatan untuk melakukan studi banding pengelolaan sampah ke Surabaya, Jawa Timur. Dari situlah kemudian ia berpikir untuk bisa mengelola dan menampung sampah dari hulu hingga hilir.

Artinya, bank sampah memperoleh keuntungan lumayan, sehingga bisa tumbuh dan berkembang. ”Saya melihat ada peluang di Kendal, belum ada rumah daur ulang. Saya pun mendirikan usaha daur ulang sampah ini pada November 2016 lalu,” tuturnya.

Tahap awal memang tidak mudah. Sebab, dengan mesin daur ulang sampah, ia harus mengumpulkan sampah dalam jumlah banyak. Ia pun membangun mitra dengan bank sampah yang dibina dan pengepul sampah di Kendal.

Dari bank sampah itu, kini bisa menjadi usaha yang profesional. Dalam sehari, ia bisa mengolah sampah hingga satu ton dengan keuntungan berlipat-lipat tentunya daripada sekadar mengelola bank sampah. Bahkan, kini ia sudah mempekerjakan enam orang sebagai karyawannya. Setiap harinya belasan ibu-ibu sebagai pekerja lepas harian yang bertugas memilah-milah dan membersihkan sampah. ”Malah kebutuhan sampah kami sangat kekurangan. Sehingga saya harus mencari sampai ke luar daerah, seperti di Batang, Semarang dan Demak,” akunya. (*/aro/ce1)