Bandeng Meteng Pecakaran, Jadi Oleh-Oleh Khas Pekalongan

Lebih Dekat dengan Perajin UMKM Binaan Dewan Kerajinan Nasional Daerah Kabupaten Pekalongan

1368
SIAP PACKING : Sakdiyah menunjukkan ikan bandeng meteng olahan yang belum di-packing dan ikan bandeng meteng yang siap saji setelah digoreng. (TAUFIK HIDAYATA/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SIAP PACKING : Sakdiyah menunjukkan ikan bandeng meteng olahan yang belum di-packing dan ikan bandeng meteng yang siap saji setelah digoreng. (TAUFIK HIDAYATA/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Banyaknya hasil panen ikan bandeng di Desa Pecakaran, Kecamatan Wonokerto, Kabupaten Pekalongan, kerap dihargai murah. Harga ikan bandeng satu kilogram isi lima ekor biasanya dihargai Rp 27 ribu per kilogramnya, bahkan bisa jatuh harga hingga Rp 21 ribu dan Rp 18 ribu per kilogramnya. Karena panen raya ikan bandeng yang melimpah dan minimnya pembeli, mendorong munculnya kreativitas. Seperti apa?

PANEN ikan bandeng tiap dua minggu sekali di Desa Pecakaran, kerap dihargai sangat murah oleh pedagang ikan dari luar desa. Maka oleh salah seorang pedagang ikan lokal, Sakdiyah, 38, warga Desa Pecakaran RT 02 RW 01, ikan bandeng diolah menjadi ikan bandeng meteng (hamil), menaikkan harga. Yakni, Rp 100 ribu per kilogramnya.

Bahkan, ikan bandeng meteng hasil olahan industri rumah tangga ini, sudah dikirim hingga luar Jawa dan kota-kota besar di Indonesia, seperti Sumatera, Kalimantan, Jakarta dan Surabaya. Bandeng meteng Desa Pecakaran, disamping rasanya yang lezat untuk dijadikan lauk, juga tanpa tulang ikan dan bisa bertahan cukup lama dan mudah pengolahannya.

Sakdiyah, pemilik usaha ikan olahan Bandeng Meteng, Rabu (10/5) kemarin, menceritakan kiat sukses mengolah usaha ikan olahan miliknya. Sebelum dirinya memasarkan ikan bandeng meteng ke masyarakat umum, ikan bandeng hasil olahannya tersebut dijual ke pasar lokal, yakni di Pasar Wonokerto dan Wiradesa.

Tak disangka, hari pertama penjualan ikan bandeng meteng, direspon pasar dengan bagus. Karena dari hasil olahan ikan bandeng sebanyak 5 kilogram, dapat menjadi ikan bandeng sebanyak 7 kilogram. Karena ikan bandeng meteng diolah dengan bahan lain, seperti telur bebek dan bumbu dapur. “Tiga tahun yang lalu, saya jual dengan harga Rp 75 ribu per kilogramnya, bandeng meteng isi 5 ekor,” ungkap Sakdiyah.

INOVATIF : Aneka produk ikan olahan Desa Pecakaran yang beragam, di antaranya ikan uceng krispy, udang krispy dan ikan bandeng meteng. (TAUFIK HIDAYATA/JAWA POS RADAR SEMARANG)
INOVATIF : Aneka produk ikan olahan Desa Pecakaran yang beragam, di antaranya ikan uceng krispy, udang krispy dan ikan bandeng meteng. (TAUFIK HIDAYATA/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Sakdiyah juga menceritakan proses pembuatan ikan bandeng meteng tersebut, dengan harapan masyarakat di desanya bisa mengikuti jejaknya. Yakni,  membuat ikan bandeng yang melimpah dengan harga murah, menjadi olahan ikan yang mempunyai nilai tambah.

Caranya, kali pertama ikan bandeng dibersihkan dan dibuang isi perutnya. Setelah dicuci bersih, ikan tersebut dipukul-pukul, untuk mengeluarkan tulang yang ada pada ikan. Kemudan ikan bandeng difilet, dagingnya diolah dengan telur bebek dan diberi bumbu rempah, lalu ikan bandeng tersebut diasap, dan dibungkus hingga kedap udara, sebelum digoreng untuk disajikan sebagai lauk.

“Untuk mengolahnya menjadi lauk, ikan bandeng meteng cukup digoreng. Selama bungkusnya tidak dilepas atau dibuka, ikan bandeng meteng bisa bertahan lebih dari 3 bulan,” jelas Sakdiyah.

Setelah usaha Ikan Bandeng Meteng karyanya, kini memiliki pelanggan tetap dengan produksi lebih dari 25 kilogram per hari. Sakdiyah pun mengembangkan usaha olahan ikan, dengan menggunakan ikan selain bandeng, yakni ikan uceng yang banyak dijumpai di TPI Sijambe, Desa Jambean, Kecamatan Wonokerto. Ikan uceng tersebut diolah dengan bumbu dapur, kemudian dilumuri tepung krispy dan digoreng. “Tak disangka respon pasar cukup bagus,” tandasnya.

Bahkan ikan uceng krispy olahan Sakdiyah ini, mempunyai pasar khusus di Pulau Sumatera dan Kalimantan, sehingga masyarakat daerah tersebut memberi nama Gereh atau ikan asin Desa Pecakaran. Akhirnya pemberian nama oleh orang Sumatera dan Kalimantan tersebut dijadikan label dagang, yakni GPRS singkatan dari Gereh Pecakaran Rasa Spesial.

Dengan harga Rp 70 ribu per kilogramnya, Ikan Uceng Krispy dengan label GPRS sudah tersebar di kota – kota besar, seperti Jakarta, Surabaya dan Medan. Namun pemasaran dengan jumlah pengiriman terbanyak di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Khusus untuk beberapa kota besar di Sumatera, seperti Lampung dan Palembang, permintaannya terbanyak khusus untuk Udang Krispy dan diberi label UPRS atau Udang Pecakaran Rasa Spesial, dengan harga Rp 80 ribu per kilogramnya.

“Kami ingin makanan olahan ikan dari Desa Pecakaran, menjadi makanan oleh-oleh khas Kabupaten Pekalongan. Karena bahan baku yang melimpah di daerah pesisir dan belum diolah secara masksimal oleh masyarakat nelayan,” kata Sakdiyah. (thd/adv/ida)