SEMARANG Praktik prostitusi online di Kota Semarang berhasil dibongkar aparat Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jateng. Dalam pengungkapan kasus asusila ini, polisi mengamankan seorang mucikari dan wanita panggilan di sebuah kamar hotel bintang tiga di daerah Candisari.

Germo yang ditangkap bernama Nuryadi (NYD), 37, warga Jalan Pleburan, Semarang Selatan. Sedangkan wanita yang turut diamankan berinisial TR, 22, tinggal di Kampung Genuksari, Tegalsari, Kecamatan Candisari. Keduanya digerebek di Hotel Fave Jalan Diponegoro No 22 Tegalsari, Candisari, Senin (8/5) sekitar pukul 21.00.

Kasus pelacuran via online ini terungkap bermula ketika petugas Ditreskrimsus Polda Jateng melakukan patroli cyber melalui media sosial pada kurun waktu April sampai Mei 2017. Saat itu, ditemukan sebuah akun Twitter bernama Wisata Asyik TM @cak_asyik
web url https://twitter.com/cak_asyik
dan akun Twitter©®T-Asyik™ web url https://twitter.com /info_asyik. 

”Ternyata akun Twitter tersebut memuat konten pornografi dengan menawarkan perempuan untuk dijadikan sebagai objek seksualitas,” ungkap Direktur Reskrimsus Polda Jateng Kombes Pol Lukas Abriari kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (9/5).

Adanya temuan tersebut, petugas langsung melakukan penyelidikan terhadap akun Twitter tersebut. Tim mendapat informasi adanya transaksi prostitusi di dalam sebuah Hotel Fave Jalan Diponegoro nomor kamar 104 yang dibooking NYD dan TR, Senin (8/5) malam. Dari informasi itu, petugas langsung melakukan pengintaian di lokasi hotel tersebut hingga pukul 20.30.

”Kemudian petugas melihat ada pelanggan laki-laki datang ke hotel masuk kamar 104 sekitar pukul 21.00. Petugas kami langsung menggerebek kamar tersebut. Selanjutnya, mereka (NYD dan TR) dibawa untuk pemeriksaan lanjut,” jelasnya.

Kasubdit II Ditreskrimsus Polda Jateng, AKBP Teddy Fanani, yang memimpin pengungkapan ini menjelaskan, dari hasil pemeriksaan sementara, tersangka NYD mengakui bahwa akun Twitter tersebut miliknya. Sedangkan praktik prostitusi online yang dijalankan dengan modus mem-posting foto perempuan-perempuan koleksinya secara ulang di dalam akun Twitter miliknya.

”Modus operandi untuk member yang tidak memiliki akun media sosial Twitter bisa menghubungi melalui  contact BBM kepada NYD untuk dicarikan job booking-an. Sedangkan untuk member yang sudah memiliki akun media sosial Twitter milik NYD, tinggal mem-posting foto-fotonya di akun Twitter wisata asyik,” jelasnya.

Teddy mengatakan, sampai saat ini, tersangka NYD memiliki member yang tidak memiliki akun media sosial Twitter sekitar 15 orang. Sedangkan yang memiliki akun Twitter sekitar 50 orang yang semua member tersebut adalah freelance alias tidak tetap atau tidak memiliki germo.

”NYD melayani pelanggan di wilayah Jogja, Solo dan Semarang. Pengakuannya sudah menjalankan praktik prositusi online ini selama 1 tahun. Setiap bulan mendapat uang Rp 10 juta,” terangnya.

Untuk koleksi perempuan yang disediakan NYD, menurut Teddy, berasal dari berbagai kalangan, mulai mahasiswi hingga ibu rumah tangga. Pelanggan yang berminat, langsung berkomunikasi secara pribadi lewat BBM. Komunikasi di BBM ini, pelanggan bisa melihat foto-foto perempuan koleksi NYD. ”Kalau tarifnya macam-macam. Jika tarif perempuan itu Rp 1 juta, maka NYD menawarkan ke pelanggan sekitar Rp 1,3 juta sampai Rp 1,4 juta. Dia ambil keuntungan sekitar 20 persen,” terangnya.

Pelanggan yang hendak“memakai” perempuan koleksi NYD, harus memberikan uang muka atau down payment (DP) sebagai tanda jadi. Uang DP ini tidak diterima langsung kepada perempuan yang dijajakan, namun diserahkan lewat transfer ke rekeningnya.

”Uang DP antara Rp 300 ribu sampai Rp 400 ribu. Setelah itu, perempuan yang dijual diantar NYD ke tempat yang telah disepakati. TR yang diamankan di dalam Hotel Fave kemarin masih muda, baru lulusan SMA, calon mahasiswi,” terangnya.

Dalam pengungkapan kasus ini, petugas mengamankan barang bukti uang tunai jutaan rupiah. Selain itu, juga mengamankan beberapa orang sebagai saksi dalam kasus prostitusi online ini. ”Calon tersangka satu orang (NYD), sedangkan saksi 3 orang,” jelasnya.

Akibat perbuatannya, Nuryadi akan dijerat pasal 30 jo pasal 4 ayat 2 huruf d Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang pornografi dengan ancaman hukuman paling singkat 6 bulan dan paling lama 6 tahun dan atau denda Rp 250 juta paling rendah dan paling tinggi Rp 3 miliar. Juga pasal 45 ayat 1 jo pasal 27 ayat 1 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 yang sudah diperbarui Undang-Undang Nomor 19 Tahun  2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dengaan  ancaman hukuman maksimal 6 tahun dan atau denda Rp 1 miliar.

”Selain Nuryadi dan TR, sejumlah barang bukti diamankan, antara lain uang tunai Rp 4 juta, minyak vitalitas hajar jahanam, kondom, kartu ATM, dan laptop,” ujarnya.

Pelaku Nuryadi mengakui perempuan yang dipasarkan mulai dari kalangan mahasiswi hingga ibu rumah tangga. Tarif yang dipasarkan mulai Rp 500 ribu hingga mencapai Rp 2 juta sekali kencan. Sedangkan mahasiswi yang terjun sebagai panggilan ini kebanyakan dari perguruan tinggi swasta (PTS) di Kota Semarang.

”Kalau yang paling mahal mahasiswi Rp 1,5 juta sampai Rp 2 juta untuk kencan short time. Paling murah Rp 500 ribu untuk ibu rumah tangga yang butuh uang. Saya sudah satu tahun berjualan, sebulan bisa dapat uang Rp 10 juta,” ungkapnya.

Nuryadi menggeluti pekerjaan ini setelah dirinya mengenal beberapa wanita yang bisa di-booking. Seiring berkembangnya waktu, jumlah wanita yang disebutnya sebagai member itu semakin bertambah. Hingga akhirnya timbul pemikiran untuk membuka bisnis prostitusi terselubung melalui media sosial.

”Sehari belum tentu ada orderan. Kadang dapat satu orderan, itu pun tarifnya beda-beda. Kalau tarifnya Rp 500 ribu, saya tawarkan Rp 600 ribu. Jadi, saya tidak motong,” ujar pria yang mengaku bekerja sebagai freelance jual beli mobil ini. (mha/aro/ce1)