Kini, Hasil Pertanian Batang Berkelas Ekspor

Must Read

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp...

BATANG-Kini, Kabupaten Batang memiliki hasil pertanian berkualitas ekspor. Hal tersebut terungkap saat Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Batang, Nasikhin berkesempatan memanen paprica hasil penanaman Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Peni Murni Desa Deles Kecamatan Bawang Kabupaten Batang, pada Selasa (9/5) kemarin.

Menurut Sekda Nasikhin, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang sangat berterimakasih kepada petani yang telah bersungguh–sungguh dalam menanam, sehingga menghasilkan produktivitas yang luar biasa seperti paprika tersebut.

“Mmemang tidak semua petani bisa menanam paprica, karena harus ekstra telaten dan ada ilmunya tersendiri agar hasilnya bagus dan melimpah. Apalagi paprica hasil pertanian menghasilkan kualitas ekspor, nantinya diekspor ke Singapura,” ucap Sekda bangga.

Hasil pertanian tersebut kata Sekda, sangat luar bisa. Disamping akan mengangkat nama petani, juga mengangkat nama daerah Kabupaten Batang sebagai penghasil pertanian berkelas ekspor.

Terkait hasil tersebut, Pemkab Batang berharap kepada para petani di Kabupaten Batang untuk bisa ngangsu kawruh (belajar) di Gapoktan Peni Murni. Yang sudah terbukti bisa menghasilkan produk pertanian berkualitas ekspor. Sehingga ada keseriusan dalam bertani, bukan hanya keturunan petani namun juga menggunkan metode pertanian yang modern dan bisa merambah ke agrobisnis di bidang pertanian.

“Batang selama ini sebagai basis pertanian. Kami berharap, anak mudanya bisa menjadi penerus. Dengan mencontoh dan belajar pertanian di Gapoktan Peni Murni yang diketuai oleh Nurkholis sebagai pelopor pemuda petani yang sangat luar biasa,” ujar Nasikhin.

Pemkab Batang sangat mendukung sektor pertanian dengan bukti pemberian bantuan berupa pembinaan bagi petani, maupun bantuan modernisasi alat pertanian dan infrastruktur pertanian. Seperti pembangunan irigasi dan bantuan pupuk melalui Dinas Pangan dan Pertanian.

Sementara itu, Ketua Gapoktan Peni Murni Nurkholis menjelaskan bahwa Gapoktaan Peni Murni sudah beberapa kali melakukan ekspor hasil pertanian. Sebelum paprica, pernah ekspor buncis yang dikirim ke Soropadan dan selanjutnya di ekspor ke Singapura. “Sempat ekspor buncis, namun karena kendala permintaan buncis varietas tertentu yang tidak bisa di tanam disini, sehingga tidak bisa ekspor lagi,” sesalnya.

Namun kini, hasil pertanian berupa paprica bisa melakukan ekspor seminggu sekali melalui Bandung, sebanyak 300 kg sampai dengan 800 kg. “Kini seminggu kami baru bisa ekspor 300 kilogram hingga 800 kilogram saja,” ungkapnya.

Padahal kebutuhan komoditas paprica kualitas ekspor saat ini sangat luar biasa banyak. Namun Gapoktan Peni Murni baru mampu ekpor 8 hingga 10 ton. Hal tersebut karena, tidak semua petani bisa menanam paprica. “Untuk tanaman paprica di Batang, baru saya yang bisa menanam. Karena tanamanya khusus dan ada ilmunya. Kini baru bisa memiliki 2.000 tanaman paprica yang siap panen dengan kualitas ekspor. Dengan harga kini, Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu/kg,” jelas Nur Kholis.

Ditambahkan, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, Megayani Tamrin, saat ini hasil pertanian berkualitas ekspor kelompok tani Peni Murni sudah berkali – kali menerimanya, melalui Bandung. “Paprica di Batang termasuk bagus. Hal ini tidak lepas dari pembinaan dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian selama ini,” jelas Megayani Tamrin.

Dalam kesempatan tersebut, Sekda bersama Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, serta perwakilan Forkominda selain memanen Paprika, juga berkesempatan memanen hasil pertanian tanaman cabe Di Desa Candi Gugur Kecamatan Bawang. Tanaman cabe tersebut merupakan program pemerintah, sebagai pengendalian inflasi dan operasi pasar. Agar ke depannya harga cabai dan stok cabai di pasaran bisa stabil. Sehingga tidak menyebabkan inflasi di Jawa Tengah, minimal di Kabupaten Batang. (han/ida)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...

Air Semut

Kota ini di tengah Gurun Gobi. Jaraknya empat jam dari kota di baratnya. Juga empat jam dari kota di timurnya. Kota yang di barat itu,...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -