Kenalkan Kopi Lewat Lomba Menembak

Geliat Olahraga Menembak di Temanggung

1078
BIDIK SASARAN: Sejumlah peserta saat mengikuti Kejuaran Menembak Temanggung Open 2017 di Eks Gudang Tapioka Desa Dakaran Kecamatan Kaloran, kemarin. (Ahsan fauzi/radar kedu)
BIDIK SASARAN: Sejumlah peserta saat mengikuti Kejuaran Menembak Temanggung Open 2017 di Eks Gudang Tapioka Desa Dakaran Kecamatan Kaloran, kemarin. (Ahsan fauzi/radar kedu)

Persatuan Menembak dan Berburu Indonesia (Perbakin) Temanggung bersama Kodim 0706/Temanggung, Polres Temanggung dan Walet Shooting Club Temanggung menggelar Kejuaran Menembak Temanggung Open 2017. Kejuaraan bertaraf nasional itu diikuti sedikitnya 300 atlet peserta dari berbagai daerah. Lomba berlangsung di Eks Gudang Tapioka Desa Dakaran Kecamatan Kaloran, Selasa (9/5).

Ketua Panitia Penyelenggara, Haryo Dewandono menjelaskan, kejuaraan yang telah digelar selama empat kali tersebut diikuti oleh peserta yang berasal dari berbagai kota. Seperti seluruh kota/kabupaten di Jawa Tengah, Bandung, Tangerang, Jakarta, Surabaya, Ponorogo, Madiun, Lamongan, Jogjakarta, Lampung, Kalimantan Tengah hingga Makassar. “Peserta memiliki rentang usia antara 12 sampai 50 tahun, termasuk di dalamnya adalah wanita,” jelas Haryo.

Haryo melanjutkan, kejuaraan ini terbagi menjadi tiga kelas. Yakni benchrest, multiring, dan tiga posisi dengan jarak sasaran mulai 22, 36, hingga 46 meter. Sedangkan senapan angin yang digunakan adalah jenis gas serta pompa dengan peluru kaliber 4,5 mm.

Tak hanya untuk menyalurkan hobi peserta sekaligus mencari bibit-bibit unggul atlet menembak nasional, kejuaraan ini juga dijadikan panitia sebagai ajang mempromosikan berbagai destinasi wisata serta komoditas unggulan yang ada di Kabupaten Temanggung. Salah satunya kopi.

“Melihat peserta berasal dari berbagai daerah dan provinsi, kejuaraan ini sekaligus kami gunakan untuk memperkenalkan potensi wisata serta komoditas unggulan asal Temanggung,” imbuhnya.

Dijelaskan lebih lanjut oleh Haryo, sejatinya menembak merupakan salah satu cabang olahraga mahal, terutama karena harga senapan yang lumayan tinggi. Mulai termurah Rp 3 juta sampai Rp 60 jutaan. Belum lagi harga peralatan variasi yang biasa digunakan para penembak.

Antara lain teleskop dengan banderol Rp 500 ribu sampai Rp 35 juta, peredam Rp 1 juta. Kemudian ada gas senilai Rp 500 per tabung yang rata-rata habis dalam kurun waktu sehari apabila digunakan secara terus menerus.

Salah seorang peserta asal Sebayu Shooting Club Tegal Reno mengungkapkan, olahraga menembak memiliki sebuah keasyikan. Yakni butuh konsentrasi tingkat tinggi agar peluru tepat mengenai sasaran. “Senapan yang baik, khususnya dalam mengikuti kejuaraan memiliki harga cukup mahal sampai Rp 30 jutaan. Kalau yang murah tidak jamin kualitas tembakannya,” jelasnya.

Akhnar Sakyarta, 12, peserta asal Bobotsari Purbalingga yang masih duduk di bangku kelas V SD mengaku sudah menyukai hobi menembak sejak usia 10 tahun atau pada 2015 lalu. Kendati masih belia, namun ia mengaku telah memiliki koleksi piala kejuaraan hingga 30 buah. Baik kelas lokal maupun tingkat provinsi.

“Awalnya diajak ayak berburu ladang atau hutan. Lama-lama jadi suka menembak. Agar tetap baik, saya rutin berlatih tiga kali seminggu,” jelasnya. (san/ton)