MEMBATIK: Sejumlah eks TKI tengah mempraktikkan cara membatik. (ZAIN ZAINUDIN/JAWA POS RADAR KEDU)
MEMBATIK: Sejumlah eks TKI tengah mempraktikkan cara membatik. (ZAIN ZAINUDIN/JAWA POS RADAR KEDU)

WONOSOBO – Desa Lipursari, Kecamatan Leksono, dikenal sebagai desa dengan jumlah TKI cukup banyak. Kini, ketika sejumlah warganya telah kembali dari perantauan, keinginan untuk mengubah wajah desa semakin menguat.

Terlebih, setelah berdirinya Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Istana Rumbia, sebuah perpustakaan desa yang juga didirikan para mantan TKI, demi meningkatkan minat baca warga dan membuka cakrawala mereka, agar semakin terdorong untuk berpikir lebih cerdas.

Tidak hanya mengajak warga untuk rajin membaca, Istana Rumbia juga dijadikan mitra lokal Badan Nasional Pengelola Penempatan TKI (BNP2TKI) dalam bentuk pelatihan yang produktif. Sebut saja, pelatihan wirausaha terintegrasi bagi para TKI purna selama lima hari, pada Selasa-Minggu (2-7/5).

“Pesertanya 25 orang. Terdiri atas para mantan TKI asal Lipursari yang pernah bekerja di luar negeri,” terang Ketua TBM Istana Rumbia, Stevie Yean Marie, di sela acara penutupan pelatihan, Minggu (7/5) kemarin.

Melalui pelatihan terintegrasi yang diisi dengan teknik dasar membatik dengan pewarna alami, Stevie mengungkapkan harapan, kelak Lipursari akan mampu berkembang menjadi Desa Wisata Agro Batik. Selain itu, potensi pertanian dan perkebunan juga tengah digarap serius.

“Pemerintah, baik provinsi maupun kabupaten juga mendukung penuh upaya ini. Bahkan Wakil Bupati Agus Subagiyo yang hadir membuka acara, turut memotivasi para TKI purna agar seoptimal mungkin memanfaatkan potensi yang dimiliki.”

Ketua BP3TKI Semarang, Suparjo, menekankan perlunya TKI purna memahami peran pemerintah dalam membantu tenaga kerja Indonesia. (cr2/isk)