PENUH PESONA : Sekitar 400 peserta pagelaran Semarang Night Carnaval 2017 (SNC) menunjukkan kreativitasnya dalam kemeriahan malam Puncak Perayaan HUT Kota Semarang ke-470, di kawasan titik 0 kilometer Semarang, sepanjang Jalan Pemuda hingga Tugumuda, semalam, Sabtu (6/5). (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PENUH PESONA : Sekitar 400 peserta pagelaran Semarang Night Carnaval 2017 (SNC) menunjukkan kreativitasnya dalam kemeriahan malam Puncak Perayaan HUT Kota Semarang ke-470, di kawasan titik 0 kilometer Semarang, sepanjang Jalan Pemuda hingga Tugumuda, semalam, Sabtu (6/5). (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG-Ribuan warga Semarang memadati kawasan titik 0 kilometer Semarang, sepanjang Jalan Pemuda hingga Tugumuda. Turut memeriahkan malam Puncak Perayaan HUT Kota Semarang ke-470 dengan pagelaran Semarang Night Carnaval 2017 (SNC), semalam, Sabtu (6/5).

Gelaran parade kostum budaya kali ini bertajuk Paras Semarang ini diikuti sebanyak 400 peserta yang berpartisipasi. Mereka menampilkan empat ikon Kota Semarang yakni Burung Blekok, Kembang Sepatu, Kuliner dan Lampion. Turut berpartisipasi 4 daerah seperti Sawah Lunto, Jember, Jepara, dan Kendal. “Event ketujuh ini semoga meningkatkan kualitas dan kuantitas, sehingga bisa menjadi acara berskala Internasional,” kata Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat membuka pergelaran Semarang Night Carnaval.

Dan yang berbeda tahun ini, sejumlah negara Asia Tenggara turut meramaikan pawai SNC antara lain dari Korea Selatan, Taiwan, Thailand, Vietnam, dan Srilanka. “Kehadiran peserta luar negeri ini diharap semakin banyak. Sehingga SNC ini menjadi daya ungkit wisata di Kota Semarang,” tandas Hendi, sapaan Wali Kota Semarang.

PEMBUKAAN: Wali Kota Hendrar Prihadi, Wakil Wali Kota, Hevearita G Rahayu (Mbak Ita), perwakilan Kemenpar RI dan jajarannya sangat terpukau dengan pagelarn SNC 2017 ini. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PEMBUKAAN: Wali Kota Hendrar Prihadi, Wakil Wali Kota, Hevearita G Rahayu (Mbak Ita), perwakilan Kemenpar RI dan jajarannya sangat terpukau dengan pagelarn SNC 2017 ini. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Asisten Deputi Pengembangan Segman Pasar Bisnis dan Pemerintah Pariwisata Nusantara, Kementrian Pariwisata (Kemenpar) RI, Tazbir mengaku bangga dengan SNC 2017 ini. Event itu sebagai bukti jika Semarang konsisten dengan agenda kepariwisataan. “Kemenpar mengapresiasi tinggi atas konsistensi Kota Semarang menjadikan event ini sebagai kebanggaan warganya. Ini bukti keseriusan dalam mengembangkan pariwisata,” ungkapnya mewakili Menteri Pariwisata.
Dia mengakui jika SNC sebagai modal utama dalam mempromosikan dan memajukan pasriwisata. “Kesadaran pengembangan potensi wisata kini tumbuh cepat. Dulu daerah hanya mengandalkan sektor tambang sebagai penghasil PAD (Pendapatan Asli Daerah), kini tak lagi. Dan Semarang kini salah satu daerah yang sangat aktif dalam mengembangkan pariwista. Semoga bisa menjadi destinasi populer di Indonesia dan internasional,” katanya.

Grup Marching Band Akademi Militer Canka Lokananta menarik perhatian para penonton. Membawa sekitar 200 personel, Canka Lokananta berhasil menunjukkan pesonanya di hadapan khalayak yang hadir. Bahkan, peserta yang terdiri 4 devile, masing-masing menampilkan peragaan busana yang memukau Wali Kota Hendi, Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu (Mbak Ita), perwakilan Kemenpar RI dan seluruh jajarannya.

Koordinator Volunteer SNC, Fatikha Amalina mengatakan bahwa perbedaan yang terlihat dari pagelaran parade SNC 2017 ini terletak pada panjang rutenya. Tika mengklaim rute SNC 2017 ini terpanjang dari tahun sebelumnya, yakni start dari titik nol kilometer Kota Semarang, menuju Jalan Pemuda melalui Balai Kota Semarang dan berakhir di Tugumuda. “Tahun lalu dari Gereja Gedangan sampai dengan Hotel Metro saja. Perbedaan lainnya, jika tahun lalu pakai bahan-bahan alam, tahun ini pakai bahan konvensional,” ujarnya.

Sementara itu, sejumlah peserta mengenakan kostum dengan berat mulai 5 hingga 30 kg. Seluruhnya merupakan kreasi masing-masing peserta yang sebelumnya telah mengikuti workshop selama 1 bulan.

Salah satu peserta SNC 2017 yang masuk dalam devile Lampion, Seylia Athaya Ramadhani, 13, menceritakan kostumnya memiliki berat 10 kg, merupakan hasil kreasinya dengan menampilkan bola naga api. “Agak susah waktu mengkreasikan kostum, karena lampion kan susah. Akhirnya saya rancang sebuah naga melingkar dengan sayapnya yang sedang menangkap bola api lampion,” beber pelajar kelas 7, SMPN 15 Semarang.

Pembuatan kostum, Seylia menambahkan, memakan waktu satu bulan dengan bahan yang terdiri atas alumunium kerangka, kain, lampu, aneka kertas warna merah keemasan serta lampion sesuai tema.

Peserta lain, Cantika Putri Kusumadewi, 15, siswi kelas 10 SMAN 7 Semarang ini membawakan tema Burung Blekok, dengan kostum serba putih setinggi dua meter yang bobotnya 3 kg. “Buatnya dari bulan Maret, kira-kira satu bulan. Kalau bahannya dari spon busa hati, kain spanbon, skotlite dan mutiara permata, pecahan kaca sebagai aksesorisnya,” jelasnya.

Sedangkan Ahmad Saleh, 27, perwakilan dari Semarang Street Carnival mengenakan kostum berkonsep budaya Bali yang terinspirasi dari GWK dan Tari Legong. Pembuatannya 1 minggu dengan bahan bahan kain, sponge, busa, manik-manik dengan nuansa warna kuning keemasan. “Kostumnya cukup berat dan lebar, dan rutenya panjang. Jadi capeknya lebih terasa, saya rancang sendiri dari kepala sampai kaki,” tuturnya.

Peserta dengan tema lainnya seperti kuliner juga tak mau kalah menampilkan kostum yang menarik seperti menggambarkan jajanan khas Semarang lumpia, Bandeng Presto, Ganjel Rel dan lainnya.

Sementara itu, salah satu penonton karnaval, Fita Novianti, 21, mahasiswi Undip asal Medan menilai pagelaran SNC tahun ini lebih terkonsep dengan baik oleh panitia. Dia mengaku senang dengan pegelaran ini, menjadi hiburan yang pas di malam Minggu. “Saya senang, apalagi ada dari luar negerinya, ramai dan seru. Semoga ke depan lebih baik dan lebih meriah,” tuturnya.

Selain Fita, Winarsih, 37, warga Ngaliyan Semarang mengaku setiap tahunnya menyaksikan SNC. Tahun ini jauh lebih meningkat dan tidak monoton. “Selain atraksinya banyak, tempatnya juga lebih luas daripada sebelumnya di Kota Lama yang terlalu sempit jadi tidak leluasa,” katanya.

Harapan ke depan, kata Winarsih, Kota Semarang dapat benar-benar menjadi Semarang Setara. “Acara ini sangat mendongkrak pariwisata. Bisa menarik wisatawan manca negara, sehingga lebih baik kualitasnya,” timpalnya. (tsa/ida)