Lebih Suka Jadi Simpanan Om-Om

7769

SALAH satu komunitas dance di Kota Semarang yang biasa melakukan aktivitas cover dance di beberapa acara, ternyata banyak yang gay. Sebut saja Doni (nama samaran), pria 19 tahun asal Jawa Timur, telah menjadi anggota komunitas dance tersebut sejak duduk di bangku SMA. Komunitas dance ini terbilang aktif dan kerap tampil di beragam acara. “Ada sekitar 20-an lebih anggota dalam komunitas dance ini. Bisa dibilang, semua anggota berorientasi seksual penyuka sejenis atau gay,” tuturnya.

Doni mengaku mengenal komunitas gay sejak pindah SMA dari Jawa Timur ke Semarang. Di komunitas dance ini, masing-masing anggota saling terbuka, sudah terbangun rasa saling toleransi, dan menerima apapun orientasi seksual masing-masing tanpa ada diskriminasi. “Komunitas ini telah mempertemukan kami-kami (penyuka sesama jenis, red),” tuturnya.

Diakuinya, latar belakang anggota komunitas cover dance sangat beragam. Ada anak-anak SMP hingga SMA, maupun kalangan broadcasting atau orang radio. Semua anggota dalam lingkungan komunitas dance, memiliki kecenderungan yang sama. Ada beberapa faktor yang mendasari mereka memiliki kecenderungan menjadi penyuka sesama jenis. Pertama memang sudah memiliki kecenderungan dari diri sendiri. Ada yang memang karena faktor lingkungan, merasa nyaman dengan perhatian-perhatian yang ada sehingga beralih orientasi seksualnya.

Demikian pula dengan jaringan penyuka sesama jenis ini, bermacam-macam. Ada yang dari kelas biasa sampai kelas mewah. “Yang kalangan biasa, memiliki kecenderungan untuk naik tingkat secara materi dan finansial. Seperti orang kebanyakanlah, pasti ingin dilihat dengan kelas tertentu,” tuturnya.

Tak hanya itu, setiap orang memiliki cara hidup berbeda. Ada yang memiliki pacar biasa, kumpul kebo dengan komunitasnya, atau sebagai simpanan om-om. Setiap yang menjadi simpanan om-om, biasanya memang mengejar materi, karena om-om mampu memberikan berapapun untuk memenuhi kebutuhan hidup seperti membayar kos dan memenuhi gaya hidup.

“Paling enak jadi simpanan om-om, meskipun sudah punya pacar masing-masing. Kalau sedang jauh, modal video live telanjang, sudah bisa dikasih Rp 500 ribu. Tergantungkan, setiap orang beda-beda, si om ngasihnya berapa,” urainya lagi.

Menurutnya, kalangan gay dikenal mudah bergaul. Hal ini menjadi poin tersendiri dalam kehidupan mereka, baik di lingkungan pekerjaan atau sekedar teman ngopi. Kendati begitu, ada juga dari kalangan gay atau oknum yang sengaja memanfaatkan pertemanan untuk tindakan ekstrem yakni pemerasan dengan cara halus.

“Ketika sudah care, pertemanan dengan orang-orang baru itu sudah jalan baik minimal 6 bulan, lantas dilakukan pemerasan dengan cara halus. Yakni, memeras dengan menjual belas kasihan meminta pinjaman ke temannya, ini trik memang. Bukan hanya di kalangan ini saja, diluar kalangan gay juga banyak. Namun oknum gay yang memeras, biasanya tuntutan gaya hidup mereka,” terangnya.

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa banyak faktor yang menyebabkan orang-orang berubah menjadi penyuka sesama jenis. Ada yang berawal dari rasa sakit hati dengan temannya, dengan kekasih wanitanya, faktor lingkungan atau memang sudah memiliki kecenderungan sejak awal. “Kalau saya karena rasa sakit hati dengan teman SMP dulu. Saya orangnya biasa saja, sejak ada perlakuan tidak adil di teman-teman dulu, saya berujar suatu saat kamu akan suka sayaa!. Saya membuat ancaman tersebut di dalam hati. Saat sudah di Semarang, naluri saya hampir pasti membuat kalangan lelaki memang suka dengan saya,” katanya.

Sementara itu, Sigit, 25, salah seorang mahasiswa perguruan tinggi swasta di Semarang mengaku pernah mendapati kalangan gay yang kopi darat (Kopdar). “Saya pernah mendapati demikian. Saya ngopi bareng teman-teman. Ternyata di bangku sebelah saya, komunitas gay lagi nongkrong, kopdar. Tapi tidak apa-apa itu hak masing-masing, kami tidak bisa menyatakan ini salah itu salah. Memang sedikit terganggu bila di tempat umum begitu,” ujarnya.

Demikian halnya dengan Devi, 24, mahasiswa perguruan tinggi lain, mengaku memiliki teman dengan kecenderungan LGBT. Di kampusnya ia mengetahui beberapa kawannya memang LGBT. “Kalau teman dekat, mereka biasanya mengaku. Tapi kami tidak apa-apa, itu hak masing-masing. Asal saling menghargai saja, tidak buka-bukaan di tempat umum. Orang lain pasti terganggu kan kalau ramai di tempat umum,” katanya. (mg30/ida)